Search form

The Last Supper - Benjamin West (1738-1820)

Perjanjian: Mengatur ulang hak dan kewajiban Allah dan manusia

Perjanjian yang dibuat Allah terhadap manusia mengatur kembali hak dan kewajiban masing-masing pihak.

Audiens

Pada bagian sebelumnya, kamu telah melihat bahwa Allah memiliki hak penuh atas ciptaanNya, sementara Ia sendiri tidak memiliki kewajiban apa pun terhadap ciptaanNya. Sebaliknya, manusia sebagai ciptaan tidak memiliki hak apa pun terhadap Sang Pencipta, sementara ia memiliki kewajiban terhadap penciptaNya.

Allah menciptakan manusia sebagai ciptaan yang khusus. Manusia diciptakan untuk menjadi umat Allah, sekelompok ciptaan yang dicintai dan dapat dibangga-banggakan oleh Allah. Karena hubungan dengan manusia adalah begitu khusus, maka setelah Allah menciptakan manusia, Allah membuat perjanjian dengan manusia. Keadaan ini sama seperti ketika kamu mengasihi temanmu, lalu berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Atau yang lebih kuat lagi, ketika kamu menikah dengan seseorang.

Semua pohon dalam taman ini boleh kaumakan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati. — Kejadian 2:16-17 ITB

Lihatlah, aku memperhadapkan kepadamu pada hari ini berkat dan kutuk: berkat, apabila kamu mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini; dan kutuk, jika kamu tidak mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, dan menyimpang dari jalan yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain yang tidak kamu kenal. — Keluaran 11:26-28

Perjanjian selalu memiliki formula berkat-kutuk. Dua ayat di atas hanyalah sedikit contoh dari banyak ayat-ayat yang mengungkapkan mengenai perjanjian. Melalui ayat di atas kita bisa mengetahui bahwa ketaatan mendatangkan berkat, sementara ketidaktaatan mendatangkan kutuk.

TaatBerkat
Tidak taatKutuk

Dalam perjanjian yang dibuat antara Allah dengan manusia pertama (Kejadian 2:16-17), berkat tidak disebut secara eksplisit, tetapi kita bisa mengetahui bahwa ketika Adam taat, ia akan tetap hidup. Jika Adam tidak taat, ia akan mati.

Dengan Allah membuat perjanjian dengan manusia, maka ada ikatan yang kuat antara Allah dengan manusia. Hubungan khusus Allah dengan manusia ini mengakibatkan hak dan kewajiban diatur ulang.

Allah jadi memiliki kewajiban

Mungkin kamu pernah berjanji untuk memberikan sesuatu pada seseorang. Katakanlah, kamu berjanji untuk mentraktir temanmu nasi goreng iguana. Dalam hubungan sesama manusia, kamu tidak ada kewajiban apa pun untuk membelikan orang lain nasi goreng iguana. Tetapi, karena kamu sudah berjanji, maka sekarang kamu memiliki kewajiban untuk menepati janjimu itu.

Demikian juga dengan Allah. Allah tidaklah memiliki kewajiban apa pun terhadap ciptaanNya. Tetapi setelah Allah membuat perjanjian dengan manusia, Allah menjadi punya sebuah kewajiban, yaitu kewajiban untuk memenuhi janjiNya. Dalam perjanjian yang Allah buat dengan manusia, Allah berjanji untuk memberikan berkat1 sebagai imbalan untuk ketaatan kita, yang dalam perkembangannya kita mengetahui bahwa berkat itu adalah hidup kekal bersama Allah selama-lamanya.

Ingat, Allah sebenarnya tidak punya kewajiban apa pun terhadap kita. Taat kepada Allah sudah menjadi kewajiban manusia sejak diciptakan. Ketika manusia taat, Allah tidak wajib memberikan kita imbalan. Tetapi dengan Allah membuat perjanjian dengan kita, maka sekarang Ia wajib memenuhi janjinya untuk memberikan kita imbalan jika kita taat.

Manusia jadi memiliki hak

Ketika kamu berjanji mentraktir temanmu nasi goreng iguana, kamu jadi punya kewajiban untuk menepatinya. Selain itu, otomatis temanmu akan jadi punya hak untuk mendapatkan nasi goreng iguana.

Jadi, dalam perjanjian antara Allah dengan manusia, selain Allah jadi memiliki kewajiban untuk memenuhi janjiNya, manusia juga diberi hak untuk mendapatkan imbalan yang dijanjikanNya ketika manusia taat.

Sekalipun manusia memiliki hak, tetapi kita harus selalu ingat bahwa dalam status kita sebagai ciptaan, kita seharusnya tidak memiliki hak apa pun. Dengan Allah memberi kita hak melalui perjanjian, kita harus senantiasa sadar bahwa kita sebenarnya tidak layak menerima hak tersebut. Semuanya adalah karena anugerah Allah yang Ia berikan karena Ia mengasihi manusia.

Taat seperti apa?

Allah berhak menerima ketaatan dari kita, sementara kita memang sudah sewajibnya taat. Dan Allah ternyata memberi kita anugerah sehingga ketaatan kita boleh mendatangkan berkat hidup kekal bersama Allah. Namun apakah kita taat? Melihat diri kita sendiri, kita akan sadar bahwa walaupun Allah memberikan kita anugerah yang besar ini, ternyata kita tidak sanggup memenuhi perjanjian itu. Berapa sering dalam hidup kita, kita gagal menaati kehendak Tuhan? Terlalu sering, bukan?

Ikuti terus rangkaian tulisan mengenai perjanjian Allah dengan manusia, untuk mengetahui jalan keluar apa yang telah Allah siapkan untuk kita.


  1. seperti telah dikatakan sebelumnya, hal ini tidak secara eksplisit disebut dalam Kejadian 2. 

Tanggapan

Beri tanggapan