Search form

Lukisan oleh Peter Paul Rubens (1577–1640)

Patung Allah yang hidup

Apakah yang dimaksud dengan istilah gambar dan rupa Allah?

Audiens

Pada waktu kitab Kejadian ditulis, ada suatu kebiasaan yang dilakukan oleh raja-raja yang menguasai suatu daerah tertentu. Raja-raja membuat patung dirinya dan menaruhnya di daerah-daerah yang ia kuasai. Tujuannya adalah untuk memperlihatkan siapa yang berkuasa di tempat itu. Ketika seorang Mesir, misalnya, melewati satu daerah dan melihat patung Firaun di sana, maka ia langsung mengetahui bahwa daerah itu berada di bawah kekuasaan Firaun.

Kalau pada zaman kuno penguasa membangun patung dirinya, pada zaman ini di Indonesia kita juga menemukan hal yang mirip dengan itu. Setiap ruangan dalam setiap sekolah di Indonesia wajib ditempel tiga benda berikut: Garuda Pancasila, foto Presiden, dan foto Wakil Presiden. Melalui tiga benda ini setiap guru dan murid akan diingatkan terus menerus bahwa negara ini adalah negara berdasarkan Pancasila, dan siapa dua orang utama yang menjadi pemimpin negara ini.

Istilah gambar dan rupa merupakan sebutan bagi benda-benda yang mewakili sosok yang berkuasa di suatu daerah. Kejadian 1:26 menyatakan dengan jelas kaitan hal ini.

Berfirmanlah Allah: Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi. — Kejadian 1:26 ITB, penekanan ditambahkan.

Ketika bangsa Israel pada waktu itu membaca ayat ini, mereka langsung akan mengaitkan dengan gambar dan rupa raja-raja yang ada di sekitar mereka. Seperti halnya raja-raja itu, Allah juga membangun patungNya untuk menandai wilayah kekuasaanNya. Di manakah wilayah kekuasaanNya? Di Bumi. Seperti apakah patungNya? PatungNya adalah patung hidup yang dapat bergerak dan berbicara. PatungNya adalah manusia.

Allah mencipta manusia dalam konsep gambar dan rupa diriNya. Berarti Allah ingin manusia menjadi wakil kekuasaan Allah di atas Bumi. Ayat di atas sangat jelas mengungkapkan hal tersebut. Manusia berkuasa atas seluruh hewan di langit, darat, dan air. Walaupun yang disebut adalah hewan, tetapi kita boleh memperluas pengertiannya sebagai seluruh isi bumi.

Dua sifat patung

Dalam pengertian seperti ini, kita harus menyadari ada dua sifat yang dimiliki patung gambar dan rupa penguasa:

  • Pertama, gambar dan rupa berarti harus mirip yang aslinya. Patung raja mirip dengan rajanya. Foto presiden mirip dengan presiden. Demikian juga manusia sebagai gambar dan rupa Allah juga mirip dengan Allah, penguasa yang diwakilinya.
  • Kedua, gambar dan rupa berarti tidak sesempurna aslinya. Patung raja tidak bisa bicara, sementara raja yang asli bisa bicara. Foto presiden hanyalah selembar kertas yang dapat dengan mudah dirobek, sementara presiden aslinya adalah seorang manusia sejati. Demikian juga, manusia sebagai gambar dan rupa Allah juga memiliki perbedaan yang sangat jauh dari Allah yang diwakilinya.

Dua sifat ini harus selalu kita sadari. Di satu sisi, kita punya kemiripan dengan Pencipta kita. Di sisi yang lain, kita juga dibuat dengan kualitas yang sangat jauh dengan Pencipta kita. Kita manusia punya kemampuan berpikir, sama seperti Allah. Tetapi kemampuan berpikir kita terbatas, sementara Allah maha tahu. Manusia dapat menciptakan alat-alat, sama seperti Allah mampu menciptakan segala sesuatu. Tetapi manusia menciptakan dari bahan yang sudah ada, sementara Allah menciptakan dari tidak ada menjadi ada. Ada kemiripan, ada juga perbedaan yang besar.

Tanggapan

Nank

Maka dari itu Allah sangat mengasihi ciptaaNya yang satu ini. Tapi kita sebagai gambar Allah sering lupa diri sehingga berbuat semaunya.

Beri tanggapan