Search form

Logika vs. Iman

Apakah logika bertentangan dengan iman?

Audiens

Jangan pakai logika. Terima saja. Percaya saja.
Tuhan tidak ingin engkau memikirkan FirmanNya.
Berdoalah. Jangan pakai pikiran!
Jadi orang Kristen tidak boleh pakai rasio. Kita harus beriman.
Jangan pakai otak, tetapi pakai hati.

Sewaktu saya masih agak muda (belum setua sekarang), saya banyak mendengar para pendeta di gereja saya mengatakan kalimat-kalimat semacam itu beserta varian lainnya. Saya percaya mereka adalah orang-orang yang jujur dan punya motivasi yang baik untuk membangun iman para pendengarnya. Namun terlepas dari jujur atau tidak, punya motivasi baik atau tidak, kamu tetap harus menilai benar tidaknya kalimat itu. Matahari tidak akan menjadi tidak ada hanya karena seorang yang jujur dan bermotivasi baik mengatakan bahwa matahari itu tidak ada.

Kalimat-kalimat bermotivasi baik itu sebenarnya adalah kalimat-kalimat yang justru merusak spirit kekristenan. Kekristenan adalah kepercayaan yang logis. Alkitab adalah Firman Allah, dan Allah yang adalah Kebenaran memiliki sifat logis. Mengatakan bahwa baca Alkitab tidak boleh pakai logika berarti menyangkali sifat Allah.

Apakah logika bertentangan dengan iman?

Banyak dari orang Kristen yang saya kenal telah mengadopsi kalimat-kalimat di atas. Bagi mereka, logika adalah sesuatu yang najis dan sebaiknya tidak usah disebut-sebut. Ketika kita mengatakan, Ya, logikanya kan begini... mereka akan langsung memotong, Kamu terlalu pakai logika. Hidup dengan Tuhan tidak bisa dilogikakan.

Sebenarnya, apakah logika bertentangan dengan iman? Apakah mereka berdua adalah musuh yang tidak mungkin didamaikan? Perlukah kita mendamaikannya, atau mereka sebenarnya adalah saudara? Sepertinya ada suatu kesalahpahaman di sini.

Saya menyadari, sejumlah orang yang melawan kekristenan adalah orang-orang yang pintar. Logika berpikir mereka kuat, dan kita bisa dengan mudah diyakinkan oleh keindahan dan kemasukakalan argumen mereka. Entah bahwa Tuhan tidak ada, atau teori evolusi benar sementara Alkitab salah, dan sebagainya.

Di samping itu, ada juga orang-orang yang tadinya kita lihat berapi-api melayani Tuhan, kemudian setelah mengambil kuliah jurusan teologia dan kembali ke gereja kita, mereka menjadi kering dan dingin. Mereka adalah orang-orang yang dilatih dalam pemikiran mereka. Maka kita menyalahkan pikiran sebagai sumber kejahatan.

Jadi, logika bertentangan dengan imankah? Tidak. Hanya melihat dari akibat-akibat yang orang-orang itu alami, tidak bisa kita tarik kesimpulan bahwa logika bertentangan dengan iman. Sebenarnya, ketika seorang yang beriman melihat orang-orang tadi dan kemudian menyimpulkan bahwa logika bertentangan dengan iman, ia sendiri sudah menyimpulkan itu menggunakan logika. Lalu sementara ia sendiri menganggap logikanya sah digunakan untuk menghakimi orang lain, ia menganggap orang lain yang menggunakan logika sebagai pengikut setan. Maka terjadi ketidak konsistenan di sini. Ada pemahaman yang salah tentang logika.

Apa itu logika? Saya mengatakan bahwa logika adalah natur atau sifat dasar dari kebenaran. Satu bagian dalam kebenaran tidak akan bertentangan dengan bagian yang lain. Itu logika. Kebenaran pasti logis (tetapi yang logis belum tentu kebenaran). Orang Kristen percaya bahwa Allah adalah kebenaran, dan Allah berbicara pada kita melalui FirmanNya, yang berarti FirmanNya adalah kebenaran. Maka Allah dan FirmanNya pasti logis.

Ini sebenarnya sudah tercantum dalam Alkitab, dikatakan oleh Tuhan Yesus sendiri:

Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat. - Matius 5: 37

Kalimat Tuhan Yesus di atas meringkaskan tiga hukum utama logika: Hukum identitas (ya berarti ya, tidak berarti tidak), hukum non-kontradiksi ( ya tidak bisa sekaligus tidak), dan hukum excluded-middle, yaitu selain ya dan tidak tidak ada yang lain). Hal ini setahu saya tidak pernah dibahas oleh para pendeta. Mungkin karena kebanyakan dari mereka terlalu sibuk mendidik jemaat untuk meninggalkan logika.

Bagaimana hubungan logika dengan iman?

Saya akan mencoba menjelaskan hubungan logika-iman secara sederhana berikut. Biasanya kita menyusun suatu argumen dengan bentuk premis dan konklusi seperti ini:

Premis 1: Semua manusia pasti pernah mengupil.
Premis 2: Bomi manusia.
Konklusi: Bomi pasti pernah mengupil.

Premis adalah pernyataan yang benar, yang kebenarannya sudah kita tahu sebelumnya. Dari mana tahu itu benar? Bisa dari argumen sebelumnya, atau terbukti sendiri (self-evident), atau yang kita percaya sebagai benar walaupun belum terbukti. Berdasarkan premis-premis ini, kita bisa tarik suatu kesimpulan yang sah, berdasarkan hukum-hukum logika inferensi. Pada contoh di atas, kita menggunakan modus ponens.

Suatu argumen disebut sebagai argumen yang sah, atau valid, atau logis, jika kesimpulannya ditarik mengikuti hukum-hukum logika. Nah, perhatikan di sini bahwa yang penting kesimpulan ditarik berdasarkan hukum-hukum logika, maka argumen itu logis dan bisa diterima. Tetapi kita menemukan masalah besar di sini, dari mana kita tahu kesimpulannya pasti benar? Hukum-hukum logika akan menghasilkan kesimpulan yang logis. Tetapi belum tentu benar. Cara penarikan kesimpulannya pasti benar, tetapi kesimpulan akhirnya belum tentu benar. Mengapa bisa begitu? Karena kesimpulan tergantung dari premis. Premis yang benar, pasti akan memunculkan kesimpulan yang benar. Premis yang salah, tidak tentu akan menghasilkan kesimpulan yang benar. Jadi saya rumuskan di sini:

Premis benar & Hukum logika → Kesimpulan benar.
Premis salah & Hukum logika → Kesimpulan bisa benar, bisa salah.

Jadi semua argumen kita yang logis, belum tentu benar (seperti yang sudah dikatakan di atas: yang logis belum tentu benar). Tetapi jika premisnya benar, pasti argumen itu benar. Lalu bagaimana caranya menentukan premis itu benar atau tidak?

Premis seringkali merupakan konklusi dari argumen yang lain, seperti misalnya:

P1: Semua manusia pasti pernah mengupil.
P2: Bomi adalah manusia.
K1: Bomi pasti pernah mengupil.
P3: Bomi pasti pernah mengupil (Konklusi 1).
P4: Seseorang yang pernah mengupil,
    hidungnya pasti berlubang.
K2: Bomi pasti hidungnya berlubang.

Nah, jadi sebuah premis bisa merupakan konklusi dari argumen yang lain. Tetapi jika ditelusuri terus, maka akan ada sejumlah premis yang kita temukan, ternyata tidak dapat dibuktikan dari argumen apa pun. Nah, premis seperti ini dianggap sebagai terbukti sendiri (self evident). Pada tahap ini, logika stop. Ia tidak bisa menjangkau lebih jauh. Maka kita perlu konsep self evident ini agar kita boleh menjustifikasi kebenaran premis-premis ini. Apakah self evident benar-benar terbukti sendiri? Saya lebih cenderung berpikir seperti para matematikawan formalis. Mereka melihat premis-premis ini sebagai pernyataan-pernyataan sembarang yang benar-salahnya kita tentukan sendiri. Bukan karena kita ingin seenaknya saja, tetapi sering karena kita tidak mampu mencari tahu. Lebih dari itu, saya mengatakan bahwa premis-premis ini adalah kita terima begitu saja sebagai benar tanpa harus ada bukti. Ini cocok dengan konsep kita mengenai iman.

Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat. - Ibrani 11: 1

Jadi sekarang saya rumuskan, hubungan iman dengan logika adalah: Iman sebagai premis paling dasar dari semua struktur logika kita. Logika perlu iman, karena tanpa iman logika tidak bisa berbuat apa-apa. Iman adalah premisnya. Iman perlu logika, agar kita bisa mempertanggungjawabkan iman itu (misalnya, ketika berhadapan dengan orang yang tidak mempercayai iman kita). Iman perlu logika, agar kita bisa memperoleh kesimpulan-kesimpulan yang diakibatkan oleh iman itu, dan menjadi iman kita yang berikutnya. Sehingga kita memiliki iman yang lebih luas dan lebih dalam. Dari iman yang sedikit bertumbuh menjadi iman yang lebih besar.

Kesimpulan

Jadi, apakah sebagai orang Kristen tidak usah menggunakan logika? Saya yakin, orang Kristen sejati harus selalu menggunakan logika. Karena kebenaran itu logis. Seorang Kristen sejati pastilah merasa haus dan lapar untuk terus menggali kebenaran, yang bersifat logis. Dan salah satu alat yang tuhan berikan kepada kita adalah pikiran. Maka seorang Kristen sejati pastilah memikirkan baik-baik dengan rasionya, mendeduksi secara logis berdasarkan imannya terhadap Firman Tuhan, dan akhirnya mengerti apa yang Tuhan kehendaki bagi dirinya. Jangan lupa bahwa Alkitab mengandung ayat-ayat semacam ini, yang menunjukkan pentingnya pikiran:

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. (Matius 22:37) - Mengasihi juga harus mencakup aspek akal budi.
Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. (1 Yohanes 4:1) - Berpikir kritis dalam menilai roh.

Jangan salah paham. Saya percaya iman lebih dari sekedar premis atau aksioma. Tetapi karena saya sedang menuliskan mengenai hubungan iman dengan logika, maka saya membatasi secara sederhana seperti ini. Juga saya tidak bermaksud mengatakan bahwa kita harus mengandalkan pikiran kita saja. Karena Alkitab mengatakan untuk kita percaya kepada Tuhan, dan tidak mengandalkan pengertian sendiri (Amsal 3:5). Pikiran kita harus disandarkan pada Kebenaran Firman Tuhan.

Tanggapan

Kristian

1 Pet. 3:15 But sanctify the Lord God in your hearts, and always [be] ready to [give] a defense to everyone who asks you a REASON for the hope that is in you, with meekness and fear; (NKJV)

tuh kan Tuhan suruh kita kasih reason kepada siapa yang minta alsan kenapa kita percaya.... kalo gak pake logika, gimana caranya ada REASON?

paulus ingatkan kita untuk test all things. mo tes pake apa kalo bukan pake Alkitab dengan bantuan logika, anugerah Allah?

kadang ngerasa bingung aja kalo ada orang yang suruh jangan pake logika, karena pasti ajaran mereka itu juga ujung2nya berasal dari proses berpikir yang akhirnya memutuskan bahwa logika itu haram....

YANG BACA INI PUN PAKE LOGIKa...

HAHAHAH

logika tu kayak pisau, bisa buat motong sayur dan bisa buat mutilasi.... gunakan semestinya dengan bijaksana

(Kristian)

dedi

agree. kita kadang lupa kalau setinggi dan secanggih apapun pikiran kita, Allah-lah desainer seluruh pikiran kita. Sehingga pikiran kita yang notabene didesain Allah itu nggak akan bisa menyalahi keberadaan-Nya.

orang katolik

Setuju, jika kita menggunakan logika kita dalam alkitab maka hal itu berujung pada kepercayaan kita. Ya, bisa jadi kita bakal jadi atheis, atau jd mualaf. Yesus sudah mengatakan he is the begin and the end. Believe to him, sangat terharu ketika seseorang masih menggunakan logicalnya dalam hal keagamaan.

Beri tanggapan