Kehidupan

Berhak bodoh, tidak berhak pintar

Orang sering berpikir dengan cara yang aneh:

  • Di tempat Bomi bekerja, setiap karyawan yang bepergian disediakan uang transport. Bomi beberapa kali pergi dengan kendaraan sendiri, tetapi tidak mau mengambil uang transport yang telah disediakan perusahaan. Maka teman-temannya menghinanya, Goblok kamu Bom, kan sudah disediakan uang transport!
  • Joni bekerja sebagai karyawan pada sebuah operator jaringan telepon seluler. Ia menemukan celah yang memungkinkannya untuk menelepon tanpa membayar satu rupiah pun. Teman-temannya memujinya, Joni, kamu pintarrr! Kalau saja aku bisa seperti kamu!

Jadi:

  • Kalau ada orang memiliki hak, dan ia tidak gunakan hak itu, ia dianggap bodoh.
  • Kalau ada orang yang tidak memiliki hak, dan ia merebut apa yang tidak menjadi haknya, orang itu dianggap pintar.

Uang adalah yang terpenting

Anang
Dalam hidup ini yang terpenting bukan uang.
Joko
Kenapa?
Anang
Banyak hal yang lebih penting daripada uang.
Joko
Misalnya?
Anang
Misalnya kesehatan. Manusia tidak mungkin membeli kesehatan.
Joko
Siapa bilang? Kalau kamu sakit, kamu perlu uang untuk berobat ke dokter. Berarti kamu sedang menukarkan sejumlah uang untuk sebuah kesehatan. Kalau kamu tidak punya uang, maka kamu tidak bisa memperoleh hal itu.
Credits: 

Aku mencintai Esau...

Tuhan memerintahkan kita untuk mencintai sesama kita. Jadi, kamu bisa membuat Tuhan senang dengan cara mencintai sesamamu. Tetapi tidak semua cintamu membuat Tuhan senang. Ada cinta yang tidak seperti yang Tuhan inginkan. Seperti apa itu? Kamu bisa coba belajar dari kehidupan Ishak.

Ishak adalah seorang yang dipilih Tuhan untuk meneruskan berkat Abraham. Ishak ini adalah seorang anak satu-satunya yang diberikan Allah kepada Abraham dan Sara1, dan Ishak ini adalah anak yang dijanjikan Tuhan. Melalui garis keturunan Abraham-Ishak, Tuhan akan menurunkan berkat bagi bangsa-bangsa di sekitar mereka, bahkan seluruh dunia, bahkan seluruh umat manusia sepanjang masa.


  1. Kejadian 16:15-16, Kejadian 25:1-6 - Ada anak-anak yang lain, tetapi bukan dari Sara. 

Siapakah yang kasihan?

Sejumlah besar orang mengikuti Yesus, di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! - Lukas 23:26-28

Seandainya kamu disiksa, diikat di tengah lapangan sekolah yang panas, kemudian kamu dicambuki hingga berdarah-darah, kemudian luka-lukamu ditaburi garam, cuka dan belatung, dan kamu tidak bisa menolong diri sendiri, dan ini bukan sulap. Tentunya kamu berharap ada orang yang akan kasihan dan menolong kamu.

Toh nanti nggak kepake...

Buat apa sih belajar beginian? Toh nanti kalau kerja nggak kepake.

Apakah kalimat di atas cukup familiar di telinga kamu? Saya yakin sebagian besar kamu yang membaca tulisan di atas akan merasa: Wah, gue banget tu! Termasuk saya (pada zaman dahulu kala), juga berpikir seperti itu. Lho, memangnya kenapa? Ada yang salah?

Bagi sebagian besar dari kita, menjadi murid sekolah memang luar biasa menderita. Kamu dipaksa bekerja keras: membaca, menghafal, berpikir, membuat PR, dan sebagainya, yang kebanyakan adalah hal yang tidak kamu sukai.

Credits: 

Jodoh dari Tuhan?

Ada ajaran bahwa ketika seorang manusia diciptakan, Tuhan sudah menciptakan seorang pasangan hidup baginya. Jadi ketika Tuhan menciptakan Bomi, Ia tidak menciptakannya sendirian. Tuhan juga menciptakan Bomiwati secara khusus bagi Bomi, yang nantinya akan menjadi pasangannya.

Ide Bomi-Bomiwati ini sangat indah. Apalagi pada waktu kamu sedih dan kesepian. Kamu bisa membayangkan, saat itu, ada seseorang di sana yang sedang menunggu untuk bertemu denganmu. Indah sekali. Berpikir seperti ini bisa memberimu pengharapan baru untuk dapat melewati rasa kesepianmu itu.

Credits: 

Gambar pasangan berasal dari Salvatore Vuono / FreeDigitalPhotos.net

Logika vs. Iman

Jangan pakai logika. Terima saja. Percaya saja.
Tuhan tidak ingin engkau memikirkan FirmanNya.
Berdoalah. Jangan pakai pikiran!
Jadi orang Kristen tidak boleh pakai rasio. Kita harus beriman.
Jangan pakai otak, tetapi pakai hati.

Sewaktu saya masih agak muda (belum setua sekarang), saya banyak mendengar para pendeta di gereja saya mengatakan kalimat-kalimat semacam itu beserta varian lainnya. Saya percaya mereka adalah orang-orang yang jujur dan punya motivasi yang baik untuk membangun iman para pendengarnya.