Search form

Pacaran dan Pernikahan

Audience
Bomi
Enjel, aku mau ngomong sesuatu nih.
Enjel
Iya, ngomong aja.
Bomi
Begini, emmm
Bomi
emmm
Bomi
emmm
Enjel
...
Bomi
emmm
Enjel
...
Bomi
Enjel, aku suka kamu. Aku pingin kamu jadi pacar aku.
Enjel
-tertidur-
Bomi
Njel,
Enjel
Hah, ada apa? Tadi kamu ngomong apa?
Bomi
Nggak, nggak jadi kok. Nggak ada apa-apa.

Pernahkah kamu mengalami kejadian seperti di atas? Orang menyebutnya sebagai nembak. Bagi sebagian remaja, proses penembakan ini mendahului suatu masa yang kamu sebut sebagai berpacaran.

Bagi sebagian orang, berpacaran adalah suatu proses menjalin hubungan yang akan berlanjut kepada pernikahan. Tidak semua orang menjalani proses pacaran sebelum menikah, tetapi kebanyakan orang yang hidup di kota besar memiliki pola seperti itu.

Apakah setiap orang harus menjalani keduanya? Pacaran-menikah, pacaran-menikah, pacaran-menikah, ataukah hal ini adalah optional? Apakah menjadi manusia berarti harus menikah? Apakah kalau mau menikah harus pacaran? Mengapa kamu cenderung merasa tertarik dengan lawan jenis? Adakah alasan ultimat untuk hal ini?

Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, kita perlu kembali kepada Sang Pendisain diri kita. Dalam tulisan ini kita akan mencoba mencari jawaban-jawaban tersebut dengan berusaha kembali kepada Alkitab.

Beri tanggapan