- Susan
- Mira, aku dengar kamu pacaran dengan Joni ya?
- Tuti
- Betul. Aku tidak pacaran dengan Joni.
- Susan
- Lalu kamu pacaran dengan siapa?
- Tuti
- Dengan Joni.
- Susan
- O. Jadi kamu sekarang pacaran dengan Herman ya. Selamat ya kalian berdua. Sebenarnya aku iri dengan kamu lho.
- Tuti
- Kamu? Mengapa iri?
- Susan
- Hah? Siapa yang iri? Aku tidak iri kok.
- Tuti
- Kamu tidak perlu iri denganku. Aku memang lebih beruntung darimu, jadi kamu sudah sepantasnya iri.
- Susan
- Baiklah, aku akan membelinya.
- Tuti
- Bukan, dia sudah menggantungnya di sana.
Apakah kepalamu serasa mau pecah membaca percakapan antara Susan dengan Tuti di atas? Mungkin tidak seburuk itu, tetapi percakapan di atas setidaknya dapat membuat kamu berpikir, Apaan sih ini,
lalu membanting komputermu dari lantai tiga.
Apakah kamu bingung mendengar percakapan mereka? Sekarang, bandingkan jika percakapan mereka adalah seperti ini:
- Susan
- Tuti, aku dengar kamu pacaran dengan Joni ya?
- Tuti
- Tidak. Aku tidak pacaran dengan Joni.
- Susan
- Lalu kamu pacaran dengan siapa?
- Tuti
- Dengan Herman.
- Susan
- O. Jadi kamu sekarang pacaran dengan Herman ya. Selamat ya kalian berdua. Sebenarnya aku iri dengan kamu lho.
- Tuti
- Kamu? Mengapa iri?
- Susan
- Iya, karena banyak pria suka padamu.
- Tuti
- Kamu tidak perlu iri denganku. Kamu memang tidak seberuntung aku dalam hal ini. Tetapi jangan pikir aku mudah menjalaninya.
- Susan
- Baiklah, aku akan bersyukur dengan keadaanku.
- Tuti
- Benar. Aku yakin suatu hari akan ada orang yang tepat untukmu.
Apakah percakapan yang kedua ini telah menyelamatkan komputermu? Yang mana yang lebih mudah kamu mengerti, yang pertama, atau yang kedua? Saya yakin kamu lebih mudah mengerti percakapan yang kedua. Jika tidak, mungkin tulisan-tulisan dalam buku ini bukan untukmu.
Percakapan kedua lebih mudah dimengerti. Percakapan pertama sama sekali tidak mungkin dimengerti. Mengapa begitu? Karena percakapan pertama tidak logis, sementara percakapan kedua lebih logis.
Agar sesuatu bisa dimengerti, sesuatu itu harus logis. Pikiran kita hanya mampu mengerti sesuatu yang logis. Sepintar apa pun kamu, kamu tetap tidak mungkin mengerti sesuatu yang tidak logis, karena sesuatu yang tidak logis melawan cara kerja pikiran kita. Hal yang logis, sekalipun sulit, masih mungkin untuk dimengerti jika kamu lebih pintar lagi. Hal yang tidak logis, tidak mungkin dimengerti oleh kepintaran setinggi apa pun.
Post new comment