Search form

Fallacies - Kesesatan Berpikir

Kesesatan-kesesatan yang sering kita lakukan dalam menyimpulkan sesuatu.

Papa
Budi, Mulai besok kamu tidak boleh main basket lagi.
Budi
Lho! Kenapa Pa?
Papa
Papa lihat nilaimu belakangan mulai turun. Kamu terlalu banyak main basket.
Budi
Pa, saya main basket cuma seminggu dua kali. Seminggu ini memang saya hampir tiap hari main, tetapi itu kan karena minggu depan mau lomba. Nilai saya turun kan sudah dari sebulan yang lalu.
Papa
Pokoknya kamu nggak boleh main basket lagi!

Pembicaraan yang tidak asing di telingamu?

Hoho. Papanya Budi – seperti halnya papa-papa yang lain – telah melakukan kesalahan logika yang beliau tidak sadari. Papanya Budi menghubung-hubungkan antara nilai yang turun dengan main basket. Padahal belum tentu ada hubungan, bukan?

Kesalahan-kesalahan seperti itu disebut fallacies atau kesesatan dalam penalaran. Fallacies adalah penalaran-penalaran yang sering seolah-olah benar, tetapi sering juga ternyata mengandung kesalahan yang sangat serius. Karena kedengarannya seperti benar, maka kita pun tidak menyadari bahwa itu salah.

Di bawah ini kamu akan mendapati daftar kesesatan-kesesatan yang umum dibuat ketika orang menalar. Sebenarnya ada banyak sekali kesesatan yang mungkin dibuat orang, tetapi hanya sebagian kecil yang dapat ditulis di sini. Tidak semua kesesatan merupakan hal yang pasti salah. Kadang-kadang bisa memunculkan kesimpulan yang benar, kadang-kadang salah. Juga, tidak berarti kita harus mutlak menghindari kesesatan. Mengapa? Karena pengetahuan kita terbatas. Contohnya, percaya bahwa “saya adalah anak ibu saya” sering hanya berdasarkan kepercayaan terhadap kata-kata orang tua, atau hanya berdasarkan rasa sayang terhadap ibu. Ini adalah sebuah fallacy, tetapi cukup baik untuk dipakai. Kita tidak mungkin menghindari fallacy sama sekali.