Search form

Tutur Kata

Yang seringkali kurang kita perhatikan.

Audiens

Pernahkah perasaanmu dilukai oleh orang lain karena kata-kata yang dia ucapkan? Mungkin bukan kata-kata makian, tetapi kata-kata itu mengandung ketidak mengertian, asumsi yang salah, penghakiman, dan banyak hal negatif lainnya. Seringkali itu tidak dengan mudah dibuang dari dalam hatimu. Kadang-kadang kamu curhat dengan orang lain, dan yang orang katakan biasanya seperti ini.

Heri
Nggak apa-apa Jon, Susi itu memang cara ngomongnya begitu. Tapi hatinya baik kok.

Benarkah begitu?

Kata-kata mencerminkan hati

Tuhan Yesus pernah mengatakan sebuah kalimat seperti ini:

Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya. - Luk 6:45

Kata-kata yang terucap dari mulutmu mencerminkan isi hatimu. Kalau kamu dengan mudah memaki goblok, t#i, an##ng, anj##t, dan lain sejenisnya, itu mencerminkan bagaimana cara kamu memandang orang dan setiap masalah.

Feri
Lihat, nilai ulanganku kali ini 100.
Joni
T#I! Kamu pasti nyontek!

Tentunya hati Joni masih punya kebaikan yang lain, semangat menolong teman misalnya. Atau suka memberi sedekah pada orang miskin. Tetapi cara bicara seperti itu adalah sebuah bentuk kejahatan, karena bisa membuat orang tersinggung dan sakit hati. Terlebih lagi, karena kita diciptakan untuk memuliakan Allah dengan seluruh hidup kita, maka dalam hal ini Joni gagal memuliakan Allah dengan bibir dan lidahnya.

Kadang-kadang, kita bisa mengerti orang yang dalam keadaan marah mengucapkan kata-kata yang tidak enak didengar. Tetapi seringkali di antara teman-temanmu kata-kata ini bukan kata-kata dalam kemarahan, tetapi dalam pembicaraan normal yang emosinya datar, bahkan sebenarnya emosinya positif: senang, kagum, dan sebagainya.

Feri
Jon, lihat cewek itu.
Joni
An##ng! Cakep banget! Sialan!

Perhatikanlah caramu bicara, karena dari caramu bicara tercermin isi hatimu.

Tidak selalu berupa makian

Contoh yang barusan adalah mengenai kata-kata makian. Tetapi seringkali yang kamu ucapkan bukan makian.

Ferdi
Kalau saya punya uang, saya akan ke Jepang.
Mirna
Nggak akan terjadi. Jangankan cari uang, cebok aja nggak becus.

Yang dikatakan Mirna bukan makian terhadap Ferdi. Tetapi kalimat itu menempatkan Ferdi dalam posisi yang tidak seharusnya. Ferdi jadi terlihat super bodoh. Ini bisa sangat menyinggung perasaan.

Mengatakan kalimat ini pada orang yang baru dikenal akan menyebabkan kesan pertama yang sangat negatif. Kalimat-kalimat pertama yang kamu utarakan pada orang yang baru kamu kenal bisa menjadi penentu bagaimana sikap orang itu padamu pada pertemuan-pertemuan berikutnya.

Lalu bagaimana dengan teman yang sudah dekat? Biasanya kalau teman dekat, mereka tidak tersinggung. Mungkin ini hanya sebuah bercandaan. Ferdi pun tidak marah. Tetapi kamu harus sadar, bahwa seringkali kalimat yang tidak membuatmu marah, bisa tersimpan dalam bawah sadarmu dan akhirnya membuat kamu lama-kelamaan mempercayai hal itu tanpa sadar (walaupun kamu tidak merasa).

Hindari bicara seperti itu pada orang terdekat sekalipun. Dengan kamu menjaga mulutmu untuk tidak mengatakan kalimat-kalimat seperti itu, kamu sedang menghindari kerusakan hubungan yang bisa terjadi di masa yang akan datang.

Sakit hati bukan sekedar masalah pendengar

Seringkali cara bicaramu membuat orang tersinggung atau marah. Tidak jarang juga orang tampak biasa saja tetapi sebenarnya ia memendam hal tersebut dalam hatinya. Kita sering seperti itu, dan kita menyadarinya. Kadang-kadang kita meminta maaf, tetapi seringkali orang juga lepas tanggung jawab.

Hani
Kamu kalau dengar ucapanku lalu sakit hati, kamu yang rugi. Karena kamu yang terus menerus memikirkannya sampai makan tidur tidak enak, tetapi saya masih baik-baik saja.

Di satu sisi hal ini benar. Kalau kita memendam perasaan marah terus terhadap satu orang, kita rugi, sementara orang itu baik-baik saja. Tetapi pantaskah nasehat semacam itu diucapkan oleh orang yang menyakiti hati orang lain? Kalau kamu mengatakan hal yang menyakitkan orang lain, kamu sudah bersalah terhadap orang itu. Jangan lepas tanggung jawab. Orang yang sakit hati memang rugi sendiri, tetapi siapakah pemicu sakit hati tersebut?

Lho, bukankah orang sakit hati itu pilihan? Kalau Joni memaki Herman dan Herman sakit hati, maka itu adalah pilihan Herman. Betul. Herman bisa saja memilih untuk tidak memendam perasaan dan membiarkan semuanya berlalu seperti angin. Tetapi pernahkah kamu mencoba untuk tidak memikirkan kata-kata temanmu yang menyakitkan? Tidak jarang itu memerlukan usaha keras dan sangat sulit. Ada orang-orang yang mudah melaluinya, ada yang begitu sulit. Mungkin kamu termasuk yang sulit melupakannya. Maka, jangan berbuat itu pada orang lain. Karena itu sangat mengganggu hidup mereka.

Sakit hati adalah pilihan. Tapi pilihan yang tidak mudah untuk tidak dipilih. Jangan menjadi pemicu bagi pergumulan orang lain dalam menentukan pilihan entah membenci kamu atau tidak.

Tanggapan

LW

Thank you Pak Ari. A very good reminder to start my Monday morning. I'll pass it on to my family and friends!

Beri tanggapan