Search form

Toh nanti nggak kepake...

Kalau yang saya pelajari sekarang tidak akan saya pakai nanti, untuk apa mempelajarinya?

Topics
Audiens

Buat apa sih belajar beginian? Toh nanti kalau kerja nggak kepake.

Apakah kalimat di atas cukup familiar di telinga kamu? Saya yakin sebagian besar kamu yang membaca tulisan di atas akan merasa: Wah, gue banget tu! Termasuk saya (pada zaman dahulu kala), juga berpikir seperti itu. Lho, memangnya kenapa? Ada yang salah?

Bagi sebagian besar dari kita, menjadi murid sekolah memang luar biasa menderita. Kamu dipaksa bekerja keras: membaca, menghafal, berpikir, membuat PR, dan sebagainya, yang kebanyakan adalah hal yang tidak kamu sukai. Kadang-kadang ada sih, hal yang kamu suka, tetapi kamu tidak suka dengan cara gurumu yang menyiksamu dengan tugas-tugas pembengkak mata (maksudnya bikin kamu kurang tidur).

Mengalami penyiksaan seperti itu, mulailah jiwa filsuf yang terkubur dalam dirimu muncul ke permukaan. Mulailah kamu bertanya, Sebenarnya, apa sih yang aku lakukan?, Tujuannya apa sih aku belajar sampai kayak begini?, Apakah yang aku lakukan ini berguna?, dan akhirnya Kalau sudah kerja, ini semua bakalan aku pake nggak? Saya yakin masih banyak pertanyaan seputar itu, beserta varian-variannya, yang mungkin muncul dalam pikiranmu. Maka setelah muncul pertanyaan-pertanyaan itu, maka kamu mulai mencoba menjawabnya. Namun apa yang terjadi? Ternyata jawabannya tidak kamu temukan. Maka kamu menyimpulkan satu hal: Yang aku pelajari sekarang, nanti aku nggak akan pake. Lebih-lebih jika pelajaran yang kamu sedang renungkan adalah pelajaran seperti PKN, Sejarah, dan semacamnya.

Maka kamu menghadapi sebuah dilema. Sementara di satu sisi hal yang kamu lakukan tidak bermakna karena tidak akan kamu pakai di masa depan, di sisi lain kamu dipaksa untuk mengerjakan hal-hal tersebut, yang tidak kamu sukai.

Tentu saja yang saya ceritakan di atas agak terlalu didramatisir. Pengalamanmu mungkin tidak seperti itu. Kamu mungkin juga tidak pernah memikirkan hal itu, hanya menerima ajaran dari orang lain saja. Tetapi saya yakin akan hal ini: Kalimat itu sudah menjadi sebuah kepercayaan bagimu, dan dasar dari semua kepercayaan kamu itu adalah, kamu tidak melihat kegunaan dari yang kamu pelajari. Tetapi benarkah kepercayaan itu? Yang saya pelajari hari ini nanti tidak akan terpakai?

Saya menduga, pemikiran itu tidak original darimu, tetapi dari pengaruh yang sangat kuat dari lingkungan, keluarga, dan bahkan guru-gurumu. Jadi sembari kamu menanyakan pertanyaan-pertanyaan filosofis tadi, mereka secara tidak sadar ikut menuntunmu dalam mengambil kesimpulan itu. Tetapi kamu harus sadar, tidak semua hal yang dipercayai oleh banyak orang itu benar. Kalau hampir semua orang percaya bahwa matahari hanyalah sebuah stiker yang ditempel di kubah kaca yang sangat besar, itu tidak menjadikan kepercayaan mereka benar.

Nah, saya punya tiga pertanyaan yang harus kamu pikirkan baik-baik.

Pertanyaan Pertama: Kamu tahu dari mana bahwa hal yang kamu pelajari sekarang tidak akan terpakai?

Saya yakin sebagian besar kamu yang membaca tulisan ini bukanlah paranormal. Kamu tidak memiliki kemampuan melihat masa depan, bukan? Dari mana kamu tahu bahwa nantinya hal yang kamu pelajari sekarang tidak akan terpakai?

Sering saya temukan alasan seperti ini: Lho, aku kan nanti mau kuliah manajemen. Nggak perlu tu yang kayak kimia, fisika, dsb. Pemikiran seperti itu didasarkan pada anggapan yang sangat sempit, seolah-olah hidupmu cuma mengenai manajemen. Hidup ini kompleks. Kamu tidak menghidupi kehidupan yang hanya berhubungan dengan manajemen saja, sekalipun profesimu adalah seorang manajer. Dalam kehidupanmu yang sesungguhnya nanti, kamu harus menjalani banyak peran: peran sesuai profesimu, peran bapak/ibu rumah tangga, ayah/ibu, bos, karyawan, majelis, pendeta, guru, dan peran-peran lain yang kadang-kadang kecil dan singkat, namun ada. Kompleks sekali.

Kita cenderung tergoda untuk berpikir bahwa hidup ini hanya satu hal saja, padahal banyak sekali hal-hal lainnya. Lho, bukankah ada hal-hal yang utama, dan ada hal-hal yang tidak utama? Tentu. Tetapi kita cenderung terjebak dalam pemikiran bahwa hidup hanya satu hal, bukan satu hal utama disertai hal-hal lainnya. Untuk hal yang utama, kita perlu memberikan waktu dan tenaga lebih banyak. Saya sangat setuju itu. Tetapi untuk hal-hal yang tidak utama, tidak berarti kita harus tinggalkan.

Pertanyaan Kedua: Kalau memang ternyata benar, yang kamu pelajari sekarang tidak terpakai, apakah berarti hal itu tidak bermanfaat sama sekali?

Perhatikan penekanan pada kata sama sekali. Mungkin ketika kamu ditanya, Ada manfaatnya? kamu menjawab, Tidak! Tetapi kalau ditanya lebih jauh, Tidak ada manfaat sama sekali? kamu seharusnya bisa temukan apa manfaatnya.

Saya pikir hanya ada dua kemungkinan kalau kamu katakan Tidak ada manfaat sama sekali. Yaitu:

  • Kamu berbohong. Sebenarnya kamu merasa, Ya... Ada sih sebenernya... tetapi karena ada motivasi tertentu (misalnya, kamu benci dengan gurunya, atau nilaimu selalu jelek), maka kamu menyangkalinya. Dasarnya seringkali sakit hati.
  • Kamu gagal melihat manfaatnya, walaupun sebenarnya ada. Ini juga sering muncul karena sakit hati yang membutakan matamu untuk melihat manfaat sebesar apa pun. Tetapi hal ini juga muncul karena gurumu tidak memperlihatkan manfaatnya. Mungkin mereka tidak peduli, mungkin juga tidak tahu, mungkin juga karena terlalu sibuk mengejar terpenuhinya kurikulum.

Manfaat apa? Misalnya begini. Kamu mau kuliah bisnis. Tentunya tidak berhubungan langsung dengan fisika. Tetapi karena kamu masuk jurusan IPA, kamu harus belajar fisika. Lalu apakah kamu tidak akan mendapat manfaat apa pun?

Dengan belajar fisika, pikiranmu akan terlatih dalam berpikir analitis dan deduktif. Pikiranmu akan lebih tajam, lebih mudah mengenali kesalahan. Cara berpikirmu terpengaruh, sehingga cenderung berpikir sistimatis. Kamu bisa memiliki intuisi yang mampu membaca situasi secara cepat.

Yang saya berikan di atas hanyalah contoh. Mungkin tidak semuanya kamu alami secara jelas, tetapi tetap akan ada perbedaan, antara orang yang belajar fisika dengan yang tidak belajar fisika. Cara berpikirnya pasti lain, walaupun mungkin nilanya jelek terus sewaktu sekolah.

Selain itu, kamu jadi tahu isu-isu apa saja yang penting dalam fisika. Banyak pendeta yang tidak tahu apa-apa tentang fisika, lalu mencoba berbicara tentang fisika di depan orang banyak. Mereka terlalu berani bicara tentang sesuatu yang mereka kurang mengerti, sehingga membodohi jemaat dalam gereja. Pengetahuan yang kamu peroleh bisa menolongmu untuk bicara lebih akurat dan bertanggung jawab. Sehingga walaupun kamu tidak bisa menghitung dilasi waktu yang dialami sebuah pesawat angkasa luar, kamu tetap tahu bahwa yang disebut sebagai relativitas khusus membicarakan hal itu.

Pertanyaan Ketiga: Kalau kamu katakan hal itu tidak berguna, apakah yang kamu maksud tidak berguna bagi diriku atau tidak berguna bagi umat manusia?

Penilaianmu tentang ini berguna, itu tidak berguna, seringkali terlalu subjektif. Seringkali berguna tidaknya sesuatu kamu nilai berdasarkan yang kamu rasakan. Kalau kamu tidak mengalami langsung kegunaannya, kamu anggap benda itu tidak berguna.

Banyak orang beranggapan bahwa filsafat itu tidak berguna. Alasannya sebenarnya cukup jelas: Filsafat tidak menghasilkan uang. Tetapi benarkah hal itu? Saya setuju bahwa filsafat tidak menghasilkan uang. Kalau mau punya uang banyak, ya harus bekerja, atau bisnis saja. Tetapi apakah berarti filsafat tidak berguna? Kenyataannya, seluruh pola tindakan masyarakat adalah dipengaruhi suatu filsafat tertentu pada zamannya. Termasuk pikiranmu bahwa Ini tidak berguna, nanti tidak dipakai kerja, atau Filsafat tidak berguna karena tidak menghasilkan uang, itu sudah merupakan pengaruh dari filsafat tertentu.

Contoh lainnya, banyak IPSers (anak SMA yang masuk jurusan IPS) beranggapan matematika (khususnya trigonometri yang diajarkan juga di jurusan IPS di sekolah saya) tidak berguna. Kenyataannya, bidang-bidang IPS tertentu seperti finance, membutuhkan trigonometri untuk menganalisa grafiknya, menggunakan Fourier Transform.

Lalu apa hubungan aljabar dengan disain grafis? Bukan hanya untuk menghitung penghasilan atau ukuran gambar saja. Kurva-kurva yang kamu lihat dalam setiap ilustrasi yang dibuat menggunakan komputer, dihasilkan dengan Bezier Spline.

Mungkin kamu tidak merasakan kegunaannya secara langsung. Kalau kamu seorang disainer grafis, kamu tidak membuat kurva menggunakan polinomialnya Bezier, tetapi langsung menggunakan Adobe Illustrator atau CorelDraw. Namun kamu tidak mungkin bisa membuat ilustrasinya jika Adobe Illustrator tidak menyediakan fungsi itu. Jadi sekalipun kamu tidak merasakan gunanya secara langsung, tetap itu berguna. Walaupun kamu tidak memakainya secara langsung, tetapi hal-hal itu diperlukan untuk menciptakan tool yang akan kamu pakai.

Saya pikir, ini adalah kegagalan yang sangat besar dari sistem pendidikan. Mereka gagal memperlihatkan pada kamu apa kegunaannya, mengapa kamu harus mempelajari ini, mengapa sebaiknya kamu mempelajari itu, dan sebaginya. Ketika kamu bertanya pada guru-gurumu pun, sering mereka tak mampu menjawab, karena mereka pun dibesarkan dalam pola seperti itu, terutama guru-guru yang muda yang pola pikirnya juga kurang lebih sama dengan kamu, Ini tidak berguna..

Kalau begitu, mengapa kelihatannya tidak berguna?

Saya percaya bahwa segala sesuatu yang ada hanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah. Implikasinya, semua ilmu pastilah saling berkait satu sama lain. Kemudian, Allah yang saya percayai adalah sumber hikmat, yang mencipta dan mengatur segala sesuatu dengan efisien. Maka segala sesuatu memiliki fungsi tertentu bagi keseluruhan rencana Allah dalam dunia ciptaan. Dengan demikian, pastilah segala sesuatu berguna.

Apa itu segala sesuatu? Segala sesuatu yang saya maksud benar-benar adalah segala sesuatu. Artinya, ini mencakup benda-benda, hewan, tumbuhan, manusia, organ-organ tubuh, dan segala hal-hal non fisik, seperti pemikiran, musik, ilmu, dan hal-hal lain yang dimunculkan oleh manusia.

Keberdosaan manusia mengakibatkan alam dikutuk, sehingga kebergunaan itu mulai rusak, dan muncullah sejumlah hal yang tidak berguna, bahkan merugikan. Tetapi tidak semua kebergunaan itu hilang. Dunia ciptaan masih sangat kaya dengan manfaat. Tetapi sayangnya, manfaat yang bisa kita lihat hanyalah sedikit saja dari keseluruhan manfaat yang ada. Mengapa? Karena mata manusia sudah terbuka, sehingga manusia kehilangan cara pandang dari Allah, sehingga manusia gagal untuk melihat apa manfaat dari banyak hal. Ketika kita mengatakan tidak berguna, seringkali itu hanya karena kita gagal melihat gunanya.

Banyak hal yang dulu saya pikir tidak berguna. Tetapi setelah banyak membaca dan bertemu banyak orang, banyak sekali hal yang saya dulunya pikir tidak berguna ternyata berguna. Jadi walaupun dunia ciptaan sudah rusak, masih banyak hal yang berguna yang belum kita lihat.

Jadi?

Jadi, kalau kamu termasuk orang yang sering bertanya-tanya dengan skeptis, ini gunanya apa sih?, ingatlah bahwa mungkin bukan barang itu yang tidak ada gunanya, tetapi kamu yang perlu memperluas pengetahuan dan pergaulanmu, supaya kamu tahu apa gunanya.

Kalau kamu sudah tahu kegunaannya bagi orang lain, tetapi kamu tidak merasa bahwa hal itu berguna buat kamu, ingatlah bahwa kamu sedang merasa, bukan menyimpulkan sesuatu. Dan kamu sedang merasakan sesuatu sekarang, bukan merasakan hal yang akan kamu rasakan besok. Siapa tahu besok kamu akan sangat memerlukan hal itu.

Tanggapan

Oh gitu.. Jadi ini ya tulisan yang bapak pernah ceritain waktu itu..

Hai Leh kenalan yah.... www.dijamin-sukses.blogspot.com

LW

Pak Ari,

Artikel ini sepertinya boleh pak dibagikan atau diperkenalkan kepada siswa-siswi bapak disekolah tempat bapak mengajar sejak dini. Semoga dapat merubah cara dan pola pikir yang kurang tepat.

Ari

Benar. Saran yang sangat baik. Saya juga berharap dengan ini cara pandang mereka dapat berubah.

Terimakasih untuk saran & tanggapannya.

Beri tanggapan