Search form

Teologi Kenikmatan 3: Allah menikmati manusia

Audiens

... dan anak-anak manusia menjadi kesenanganku.
- Amsal 8:30-31

Puncak kenikmatan Allah adalah ketika Allah menciptakan manusia. Manusia adalah potret Allah sendiri. Ketika Allah membentuk manusia dari debu tanah, itu seperti seorang tukang tembikar yang membentuk pot dari tanah liat.

Manusia diciptakan untuk memiliki hubungan dengan Allah. Perhatikan cara Allah menciptakan manusia yang dicatat dalam Alkitab. Allah membentuk manusia dari debu tanah, lalu menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya (Kejadian 2:7). Pertukaran nafas terjadi ketika dua orang mendekatkan hidung satu sama lain. Pertukaran nafas terjadi ketika dua orang saling berciuman. Allah memang tidak memiliki hidung seperti kita, karena Allah adalah Roh. Tetapi cara penggambaran seperti ini memperlihatkan hubungan yang sangat khusus antara Allah dengan manusia ciptaanNya. Alkitab juga mencatat bahwa Allah membentuk binatang dari tanah, tetapi tidak dicatat sedikitpun bahwa Allah menghembuskan nafas ke dalam hidung kuda nil atau Brachiosaurus.

Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. DibawaNyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. - Kejadian 2:19

Bagaimana ia menamainya: Apakah Allah tidak tahu manusia akan menamai seperti apa? Apakah Allah ingin tahu? Bukankah Allah maha tahu? Memang, Allah sudah tahu. Maka kita tidak bisa mengartikan ayat ini sebagai keingintahuan Allah bagaimana manusia akan menamai hewan-hewan itu. Tetapi ini adalah mengenai Allah menikmati bagaimana manusia ciptaannya itu akan menamai hewan-hewan.

Ada film-film yang dulunya saya ingin tonton. Pada waktu saya menonton, saya begitu semangat dan ingin tahu bagaimana ceritanya. Tetapi setelah menonton kedua kalinya, jadi tidak seru lagi, karena saya merasa sudah cukup tahu.

Tetapi ada film-film juga yang saya tonton berkali-kali pun tidak bosan. Tidak ada hal baru yang saya temukan, tetapi saya begitu suka film-film itu sehingga saya tonton berulang-ulang. Tujuan saya bukan ingin tahu, tetapi adalah untuk menikmati film-film itu.

Begitu juga dengan Allah waktu menikmati manusia ciptaanNya yang menamai binatang, bukan Allah ingin tahu sesuatu, tetapi Allah ingin menikmati.

Tanggapan

Tere
Bagaimana dengan manusia yang ingin menikmati Allah?

Pada waktu manusia menikmati Allah, apakah Allah juga menikmatinya?

Beri tanggapan