Search form

Siapakah yang kasihan?

Audiens

Sejumlah besar orang mengikuti Yesus, di antaranya banyak perempuan yang menangisi dan meratapi Dia. Yesus berpaling kepada mereka dan berkata: Hai puteri-puteri Yerusalem, janganlah kamu menangisi Aku, melainkan tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu! - Lukas 23:26-28

Seandainya kamu disiksa, diikat di tengah lapangan sekolah yang panas, kemudian kamu dicambuki hingga berdarah-darah, kemudian luka-lukamu ditaburi garam, cuka dan belatung, dan kamu tidak bisa menolong diri sendiri, dan ini bukan sulap. Tentunya kamu berharap ada orang yang akan kasihan dan menolong kamu. Setidaknya, walaupun tidak ada yang bisa menolongmu, ada satu orang yang kasihan pun sudah membuat perasaanmu sedikit lebih baik.

Tetapi berbeda dengan Tuhan Yesus. Sewaktu Ia berjalan dengan tubuh yang berdarah-darah, banyak wanita yang melihatnya dan menangis, kenapa kok orang baik begini diperlakukan tidak adil. Perhatikan bagaimana Yesus bereaksi. Yesus tidak bilang, Bagus bagus. Saya memang kasihan. Saya diperlakukan tidak adil. Tidak! Tuhan Yesus tidak berkata seperti itu! Ia justru mengatakan, Tangisilah dirimu sendiri dan anak-anakmu. Mengapa? Karena tidak lama lagi - yaitu dalam waktu 40 tahun, Yerusalem akan dihancurkan. Kehancuran ini akan datang menyusul penolakan orang-orang Yahudi terhadap Yesus. Jadi, dalam siksaan berat yang dialami oleh Yesus, Ia berbicara mengenai siapa yang seharusnya dikasihani.

Hampir selalu kita terbalik dalam melihat hal-hal semacam ini. Siapa perlu dikasihani. Siapa butuh siapa. Siapa harus menghargai siapa. Pada waktu kamu kasihan pada seseorang, apakah betul orang itu patut dikasihani? Ataukah dirimu yang sebenarnya perlu dikasihani? Pada waktu kamu kasihan pada dirimu sendiri, apakah betul dirimu patut dikasihani? Ataukah orang lain sebenarnya lebih kasihan dari kamu? Seringkali, setelah berpikir 214 kali, baru kamu sadar jawabannya.

Andaikan Bomi baru saja selesai menulis buku dan hendak menerbitkannya. Bukunya bagus. Isinya sangat berbobot, dan kalau diterbitkan dan dibaca banyak orang, pasti akan mempengaruhi mereka untuk hidup lebih baik. Ketika mengajukan kepada penerbit, penerbit menolaknya, dengan alasan buku itu tidak akan laku di pasaran, karena tidak sesuai dengan selera pasar. Isinya terlalu dalam, tidak seperti buku-buku motivasi dan positive-thinking yang biasa kamu temui. Kemudian kamu merasa kasihan pada Bomi. Pertanyaan saya, apakah sebenarnya Bomi perlu dikasihani? Ataukah seharusnya kita kasihan pada orang banyak yang tidak akan pernah mendapat manfaat dari bukunya Bomi ini? Fakta bahwa pasar tidak berselera pada buku bermutu tinggi seperti bukunya Bomi, membuktikan mutu masyarakat yang rendah. Siapa yang kasihan di sini? Bomi, atau masyarakat?

Saya pernah mendengar kisah seorang mahasiswa sebuah sekolah teologi. Orang ini kurang mampu dalam intelektualnya, sehingga nilainya selalu kurang. Tetapi dilihat-lihat, orang ini sebenarnya rajin. Dengan nilai-nilai jelek yang ia peroleh, seharusnya ia sudah dikeluarkan dari sekolah itu. Dosen-dosen dan teman-temannya merasa kasihan: Orang ini rajin dan bekerja keras, hanya kurang pintar saja. Lalu bagaimana, dikeluarkan atau tidak? Tetapi ada seorang pendeta senior yang dimintai pendapat mengenai hal ini, dan beliau mengatakan demikian, Kamu kasihan dengan satu orang itu. Saya kasihan dengan ratusan orang yang akan ia pimpin, kalau ia sampai diluluskan.

Kemudian, kadang-kadang muncul satu atau beberapa orang murid yang cukup kritis. Misalnya, ia dengan kritis dan dengan nada sinis bertanya pada guru, Pak, kita belajar begini ini buat apa sih? (Sering pertanyaan seperti itu sebenarnya bukan pertanyaan yang jujur, tetapi sebenarnya mengungkapkan pikiranmu yang seperti ini: Pak, menurut saya belajar ini tidak berguna.) Lalu ternyata, gurumu tidak bisa jawab. Lalu kamu berpikir, Tuh kan, dia sendiri tidak tahu, atau Yes! Dia ga bisa jawab! Kamu pikir kamu menang. Tapi sekarang pertanyaan saya, siapa perlu dikasihani? Guru yang tidak bisa jawab mungkin kasihan juga, tetapi murid yang tidak mendapat jawaban jauh lebih kasihan, dan jumlah mereka jauh lebih banyak, dan kemungkinan besar sebagian dari mereka arah hidupnya bisa berubah seandainya mereka menerima jawaban waktu itu.

Siapa perlu dikasihani? Guru yang tidak didengarkan, atau murid yang tidak mendengarkan? Guru yang tidak didengarkan mungkin akan marah, sakit jantung, dan mati. Lalu kamu kasihan: Kasihan ya, guru itu, pas ngajar mati gara-gara muridnya nakal-nakal kaya kita. Saya pikir kalau guru itu mati, dan guru itu bukan guru yang mengajar asal-asalan, maka bukan gurunya yang kasihan. Guru itu tidak kasihan, karena sekarang beliau boleh beristirahat. Yang kasihan adalah kamu, karena tidak bisa lagi mendengar hal-hal penting yang diajarkan oleh guru itu, dan tidak akan bisa diajarkan oleh guru lain, karena pengalaman dan cara berpikir tiap guru adalah unik. Akibatnya, kamu akan kehilangan sesuatu yang tidak pernah kamu sadari seumur hidup, baru setelah mati kamu sadar, bahwa hidupmu bisa berbeda seandainya kamu mendengarkan guru itu.

Kalau kamu dengar renungan pagi hari ini, lalu kamu mendengarkan dengan baik, menurutmu siapa perlu? Yang membawakan renungan? Pak Ari perlu didengarkan? Nggak enak nggak dengerin, makanya dengerin? Kalau saya membawakan Firman Tuhan, bukankah Firman Tuhan itu adalah perkataan Tuhan? Kalau begitu siapa perlu, yang bicara atau yang mendengar? Silahkan tidak usah mendengar, toh saya tidak tahu. Tetapi sekarang adalah kesempatan kamu mendengar Firman Tuhan yang baik, yang mungkin saja tidak kamu alami lagi, dan pada waktu itu kamu justru merasa sangat ingin mendengarnya. Seperti orang-orang di Cina yang begitu lapar dengan Firman Tuhan, tetapi hanya sedikit kesempatan mendengarnya, karena tekanan pemerintah. Fakta bahwa setiap kali renungan pagi kamu perlu dimarah-marahi dahulu oleh gurumu, menunjukkan bahwa kamu tidak rasa perlu mendengar renungan pagi. Kalau beliau tidak sayang kamu, maka kamu akan dibiarkan tidak mendengarkan dan tidak menghargai Firman Tuhan, dan menurutmu siapa paling kasihan di sini? Gurumu? Pembaca renungan? Atau Tuhan? Atau kamu?

Nabi-nabi Tuhan dalam Alkitab, yang berani sekali berbicara bahkan terhadap militer paling hebat sekalipun. Mengapa mereka tidak takut? Karena mereka tahu, kalaupun toh mereka dibunuh, yang kasihan adalah orang-orang yang sudah mendapat kesempatan mendengar Firman, tetapi menolak.

Paradigma orang Kristen zaman sekarang sudah begitu kacau. Maka kita jadi sukar melihat, sebenarnya siapa yang perlu siapa. Sewaktu masih SMP, saya pernah menghadiri sebuah kebaktian remaja. Ketika diadakan sesi tanya jawab, ada sebuah pertanyaan, Mengapa Allah menciptakan manusia? Pembicaranya yang waktu itu adalah seorang calon pendeta, mengatakan kira-kira seperti ini, Oh, Allah menciptakan manusia karena Allah kesepian. Allah perlu teman, maka Allah ciptakan manusia yang bisa diajak bicara. Betulkah itu? Ini teologi yang super kacau. Alkitab tidak mengatakan demikian. Alkitab mengatakan bahwa Allah menyebut dirinya Aku adalah Aku, yang mengimplikasikan bahwa Ia adalah Allah yang tidak tergantung dan tidak membutuhkan siapapun. Justru segala sesuatu yang lain tergantung pada Allah. Allah tidak perlu teman. Ketika Allah ciptakan manusia, itu sepenuhnya kehendak diri Allah. Dan Allah mengasihi manusia, hal itu sepenuhnya adalah pilihan Allah.

Caramu memandang Allah sudah banyak dikacaukan, terutama ini dipengaruhi oleh romantisisme dan sentimentalisme dalam menggambarkan sifat-sifat Allah.

Saya pernah mendengar renungan yang indah sekali. Di sana diceritakan Allah itu setiap pagi ada di sisi tempat tidur kita untuk menanti kita bangun. Berada di sisi kita setiap kali kita menuju sekolah. Dan seterusnya hingga malam hari. Kemudian Allah berkata pada kita, Aku terus menunggu kamu mengajakKu berbicara, tetapi kamu sibuk. Kira-kira seperti itu. Benarkah Allah seperti itu? Tentu saja tidak, ini hanyalah sebuah perumpamaan. Perumpamaan yang indah, bisa bikin kita menangis, tetapi mengandung suatu kekacauan yang sangat besar. Siapa butuh siapa? Allah butuh kamu? Allah terus menunggu untuk kamu ajak bicara? Allah kasihan?

Tidak! Allah kita bukan Allah yang kasihan. Kalau memang Allah adalah Allah yang kasihan, maka Kidung Jemaat kurang satu lagu. Harus ada yang membuat lagu: Allah kasihan.

Beginilah pandangan kontemporer tentang Allah. Muncul dari mana? Dari pandangan yang salah tentang cinta. Kalau kamu pacaran, biasanya kamu pacaran karena kamu rasa dirimu cinta dengan orang itu, bukan? Lalu cintamu seperti apa? Kemungkinan besar kalau saya mengamati kamu pacaran, saya akan seperti nonton sinetron atau baca komik. Mengapa? Karena model cinta yang kamu terapkan sangat dipengaruhi oleh sinetron, komik, dan novel. Pengaruh itu akan menguasai kamu, dan ketika kamu membuat komik atau novel atau sinetron nantinya, kamu akan membuatnya dengan pola yang sama. Jadi sebuah lingkaran yang tak berujung.

Salah satu ciri pengaruh itu adalah seperti ini, Sayang. Aku membutuhkanmu. Dalam sinetron adegan seperti itu didramatisir sehingga bikin kamu nangis. Setelah dehidrasi, nangis selesai, kamu berpikir, Seandainya pacarku bilang begitu padaku. Tinggal pacarmu yang menderita karena kamu wajibkan bilang begitu setiap hari.

Akibatnya apa? Sewaktu kamu mendengar bahwa Tuhan mencintai kamu, kamu berpikir dalam konteks seperti itu. Tuhan mencintaiku. Tuhan membutuhkanku. Tuhan selalu memikirkan aku. Tuhan selalu ingin aku di sisiNya. Kamu bisa tambahkan daftar kalimat-kalimat romantis lainnya. Ada benarnya sedikit, tetapi lebih banyak tidak benar.

Pandangan seperti ini sangat indah, tetapi mengakibatkan satu hal yang sangat fatal: Allah direndahkan hingga setingkat manusia. Memang benar Allah pernah turun menjadi manusia seperti kita, tetapi itu Allah sendiri yang merendahkan diri, bukan direndahkan oleh kita.

Akibat selanjutnya, kita jadi tidak lagi menghormati Allah. Kita tidak lagi memandang Allah sebagai Allah maha tinggi yang bisa bunuh kamu hari ini, seperti kamu bunuh kecoa. Kita cuma memandang Allah seperti teman saja, yang bisa kamu marah-marahin ketika curhat, padahal bukan dia yang salah, yang bisa kamu ambekin kalau yang kamu minta nggak dikasih, yang bisa kamu tuntut ketika kamu sial, dan sebagainya. Dan semua orang yang mengharapkan hal-hal seperti itu cuma kurang mengharapkan satu hal, yaitu mengharapkan Tuhan minta maaf sama dia.

Dalam semua hal tersebut, Allah tidak dihormati sebagai Allah, pencipta langit dan bumi. Sekarang, siapakah yang kasihan di sini?

Tanggapan

Tere

I'm blessed with it. Sometimes we ,as Christian, often look at ourself as a creature need to get sorry (dikasihani). I guess self-pity is as destructive as self-boast. And, surely God doesn't want us to fall into those pits.

Beri tanggapan