Search form

Pernikahan dulu, baru pacaran

Yang mana sebaiknya dipikirkan terlebih dahulu?

Audiens

Lho, saya baru pacaran kok. Kenapa harus memikirkan pernikahan? Masih lama itu.

Dalam berbagai hal, kita lebih nyaman untuk berpikir secara kronologis. Pikirkan hari ini dulu baru besok. Pikirkan lulus SD dulu baru bagaimana menjalani SMP. Pikirkan lulus SLTA dulu baru kuliah di mana. Begitu juga dengan pernikahan. Pikirkan dulu pacaran, baru menikah. Kalau belum punya pacar, pikirkan mencari pacar terlebih dahulu, baru pikirkan setelah pacaran mau apa.

Rencana berdasarkan tujuan

Secara alami (atau mungkin karena dibiasakan?) kebanyakan dari kita akan menyusun rencana-rencana kita berdasarkan waktu. Ini dulu baru itu. Setelah itu, baru yang selanjutnya. Ini sangat cocok untuk banyak situasi hidup kita, namun tidak semua.

Kalau hidup kita memiliki tujuan, maka kita harus menggunakan cara pikir yang berbeda. Kita mulai dari memikirkan tujuan, baru kemudian langkah-langkah untuk mencapai tujuan itu. Seringkali sebuah tujuan besar dapat dibagi menjadi tujuan-tujuan yang lebih kecil yang harus dicapai sebelumnya. Dan untuk mencapai tujuan-tujuan kecil itu, kita memikirkan langkah-langkah yang harus dicapai secara kronologis. Jadi, langkah-langkah yang kita lakukan adalah sesuai urutan waktu, tetapi perencanaan kita adalah berdasarkan tujuan.

Mengapa demikian? Dengan memikirkan terlebih dahulu tujuan kita, mengenali dan mempelajari konsep yang ada dalam tujuan itu, itu akan mengendalikan cara kita berpikir dan mengambil keputusan dalam perjalanan menuju ke sana.

Pernikahan adalah tujuan, pacaran adalah sarananya

Begitu juga dengan pacaran. Allah menetapkan seorang laki-laki dan seorang perempuan untuk bersatu dalam pernikahan, bukan pacaran. Sehingga dalam pengertian ini, pernikahan adalah sebuah tujuan yang harus kita capai (walaupun itu bukan tujuan akhir, melainkan tujuan kecil untuk mencapai tujuan yang lebih besar). Pacaran adalah sarana untuk mencapai tujuan itu. Maka urutan yang tepat dalam pikiran kita seharusnya adalah pernikahan dulu, baru pacaran. Dan dalam menyusun dan menjalani langkah-langkah kita, pacaran menuju pernikahan.

Ketika kita memikirkan dengan baik konsep pernikahan, kita akan memiliki gambaran besar dalam kita berpikir selama pacaran. Bagaimana berkomunikasi, bagaimana menjalin hubungan, bagaimana menyelesaikan masalah, apa yang harus dikerjakan, keputusan-keputusan apa yang harus diambil, semuanya akan dikendalikan oleh konsep yang benar.

Apakah bahayanya memikirkan pernikahan nanti saja?

Orang yang pacaran tetapi tidak ada konsep yang benar tentang pernikahan, nantinya akan menjalani pernikahan dengan konsep yang ia bentuk selama pacaran. Kalau kita hanya menjalani pacaran tanpa mengerti konsep pernikahan yang benar, mungkin saja kita justru akan lebih mengembangkan konsep pacaran yang salah. Otak kita harus dibiasakan untuk memikirkan hal yang benar, bukan yang cocok dengan keadaan kita saat ini saja.

Contoh-contoh

Masih bisa putus

Kalau masih pacaran, masih bisa putus, Benar sih, bisa putus. Tetapi mungkin pada waktu menikah, konsep bisa putus sudah terlanjur mendarah daging sehingga kamu akan dengan mudah mengatakan, sebaiknya cerai saja.

Justru ini harus dibalik. Pada waktu pacaran harus memikirkan bahwa nanti waktu menikah tidak boleh cerai. Dasar pemikiran ini akan mempengaruhi cara kita menghadapi masalah dalam pacaran. Pikiran kita akan lebih kreatif mencari jalan keluar, bukannya cepat menyerah dengan mengatakan putus saja. Tentu saja masih bisa putus. Hanya saja tidak semudah itu.

Masa pacaran seharusnya menjadi sarana berlatih bagi kita untuk menghadapi masalah dan godaan, maka dari itu kita harus menggunakan konsep dalam pernikahan, tidak boleh cerai, bukannya malah membiasakan diri untuk bisa putus.

Masih bisa putus 2

Kalimat yang sama, Kalau masih pacaran, masih bisa putus, juga memiliki efek samping yang lain. Kita jadi merasa lebih bebas untuk melirik-lirik orang lain. Otak kita tidak akan berada dalam mode setia, melainkan jadi sangat jeli untuk melihat perempuan yang lebih cantik (kalau kamu pria), atau laki-laki yang lebih romantis (kalau kamu wanita). Betapa bahayanya!

Kalau semasa pacaran kamu berpikir dalam konsep seperti itu, kamu tidak terlatih untuk mengatakan tidak pada orang lain ketika menikah nanti. Walaupun mungkin kamu bisa menahan diri, tetapi lebih beresiko untuk selingkuh.

Sebaliknya, kalau waktu pacaran kita sudah menanamkan dalam diri kita, nanti kalau sudah menikah tidak boleh cerai, kita akan menset otak kita dalam mode setia. Akibatnya, kita akan terlatih untuk menjadi orang yang setia pada pasangan, dan kebiasaan kita ini akan terbawa hingga menikah nanti.

Tentu saja ini tidak menjamin 100%. Resiko selalu ada, dan ada banyak faktor yang berperan. Tetapi setidaknya, kalau sampai jatuh (jangan sampai!), kamu tidak jatuh dengan mudah karena kesalahan pola pikirmu.

Bersenang-senang

Pada waktu pacaran, kebanyakan kita lebih senang dari pada ketika sudah menikah. Kalau konsep kita adalah pacaran itu bersenang-senang, maka ketika sudah menikah akan kecewa menjalani hari-hari yang ternyata tidak semenyenangkan waktu pacaran.

Justru pada waktu pacaran, kita harus melihat bahwa dalam pernikahan kita tetap bersama dalam suka maupun duka. Kita harus jeli dengan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan - walaupun tidak perlu dicari-cari -, dan melatih diri untuk menghadapinya bersama.

Tanggapan

Ingrid Gunawan

wah inspiring nih pak, as always!

lanjutkan pak, artikel yg bapak buat membantu meluruskan pola pikir remaja. tolong bikinin artikel bapak ttg tanggung jawab anak muda thd ortu dong, anak jaman skrg sk lupa brbakti sm ortu kalo dah sukses... sedini mgkn harus dibangun paham baik ttg artinya berbakti kpd ortu hehee

makasih loh pak, Tuhan memberkati :)

Ari

Terima kasih juga, Ingrid. Semoga bisa menjadi pengaruh positif. Mengenai artikel berbakti pada orang tua, itu masukan yang sangat baik. Harap suatu hari saya bisa membuat tulisan yang menyinggung hal itu. Doakan saja.

Lea

Props to Pak Ari! Thanks for writing and sharing. Barangkali boleh pak diperdalam tulisannya tetang topik ini?

Ari

Terimakasih juga, sdri Lea. Boleh, tentu saja. Saya akan memperdalam pembahasan mengenai topik ini. Namun berhubung banyaknya kesibukan saya, mungkin tidak bisa terwujud dalam waktu sangat dekat.

Beri tanggapan