Search form

Paradoks kebebasan: Lampu lalu lintas

Apakah lampu lalu lintas membatasi atau memberikan kebebasan?

Lampu lalu lintas sangat membatasi kita, bukan?

Sepulang dari sekolah, ia harus kembali melewati lampu merah yang sama, dan seperti biasanya lagi, ia harus menunggu di sana sekitar 180 detik. Ini buang-buang waktu, ia curhat kepada ayahnya yang adalah seorang menteri perhubungan2. Lalu ayahnya memutuskan untuk membuat undang-undang baru, yaitu tidak ada lagi lampu merah. Semua lampu dibuat hijau. Imron pun puas dan berterima kasih kepada ayahnya, berjanji bahwa ia akan memilihkan panti jompo terbaik baginya ketika beliau tua nanti.

Keesokan harinya, ia melewati perempatan yang sama dengan hati gembira. Tidak perlu lagi menunggu! Dalam jarak 1 kilometer sebelum mencapai perempatan itu, ia terheran-heran melihat betapa panjang antrian mobil dan sepeda motor. Ini belum pernah terjadi pada perempatan itu selama berabad-abad sebelumnya! Ternyata, di perempatan itu semua kendaraan berebut jalan dari berbagai arah. Yang terjadi, tidak satupun yang bisa maju.

Kebebasan dalam satu hal, perlu ikatan dalam hal lain

Kita tidak mungkin mutlak bebas. Seperti halnya dalam cerita bodoh di atas. Ketika Imron mengira bahwa ia bisa lebih bebas jika tidak ada lampu lalu lintas, ternyata perkiraannya salah. Mengapa? Karena semua orang berebut jalan, sehingga yang terjadi adalah kemacetan. Jadi, agar semua orang bebas bergerak dalam perempatan tersebut, harus ada peraturan yang mengikat, yaitu harus menunggu giliran.

Ini berlaku dalam segala hal. Agar kamu bebas maju ke depan, maka sebuah ruas jalan dibagi menjadi jalur kiri dan kanan. Kalau tidak dibagi, maka kendaraan dari arah sebaliknya akan menghalangi kamu.

Agar kamu bebas berjalan dengan kakimu, maka harus ada lantai yang menjadi pijakan. Agar sepeda bisa bebas bergerak, harus ada gesekan pada permukaan ban. Kalau kamu meragukan hal ini, cobalah berjalan di udara atau bersepeda menerobos jurang.

Agar kamu bebas hidup sehat, maka kamu perlu menjaga makanan yang kamu makan. Agar kamu bebas berhubungan seksual, maka kamu harus berada dalam ikatan pernikahan dengan orang itu. Sewaktu kamu melanggar ikatan ini, kamu mungkin merasa bebas, tetapi segera sesudahnya kamu mulai berhadapan dengan masalah demi masalah yang bahkan bisa mengikatmu seumur hidup.

Tidak ada hal yang merupakan kebebasan mutlak, tanpa ikatan sama sekali. Harus ada ikatan pada hal lain justru agar kamu bebas melakukan sesuatu. Sederhananya, harus ada tidak boleh untuk satu hal agar ada boleh untuk hal lain.


  1. Kesamaan nama tokoh pasti tidak disengaja. 

  2. Mengapa anak seorang dengan jabatan sedemikian tinggi hanya mengendarai sepeda motor? Ini aneh, tapi bukan tidak mungkin. Dan yang paling penting - itu bukan bagian terpenting dalam cerita ini. 

Beri tanggapan