Search form

Orang sederhana dan orang bebal

Apakah yang Kitab Amsal maksudkan sebagai orang tak berpengalaman dan orang bebal?

Audiens

Bodohkah kamu? Kita semua memiliki kebodohan masing-masing. Tentunya kamu pernah melakukan sesuatu yang pada akhirnya kamu sesali. Seharusnya aku tidak melakukan hal sebodoh itu, katamu pada diri sendiri. Mungkin kamu salah menaruh barang, sehingga kamu lupa membawanya pada acara penting. Di lain waktu mungkin ada hal yang kamu lakukan untuk memikat orang yang kamu sukai, namun justru membuatmu tampak konyol.

Kadang-kadang kebodohan-kebodohan kita mengakibatkan hal-hal yang tidak mungkin dikembalikan seperti semula. Misalnya, karena malas belajar, kamu tidak lulus ujian. Atau, karena kebut-kebutan dan tidak memakai helm, kamu mengalami cedera otak yang sangat serius, bahkan temanmu yang membonceng meninggal.

Kebodohan-kebodohan kita begitu banyak. Namun kitab Amsal menggolongkan kebodohan menjadi dua tipe. Yang satu disebut sebagai tak berpengalaman dan yang satu disebut sebagai bebal. Apakah bedanya?

Tak berpengalaman

Orang tak berpengalaman, atau disebut juga orang sederhana (simple men), atau orang yang pikirannya sederhana (simple minded), adalah orang-orang yang pengetahuannya sedikit.

Orang-orang seperti ini memang seringkali melakukan hal-hal yang dapat menjerumuskan dirinya sendiri dalam kesulitan atau bahkan bahaya (Amsal 22:3). Kebodohan-kebodohan yang mereka lakukan adalah disebabkan oleh karena kurangnya pengalaman (makanya disebut orang tak berpengalaman). Sumber kebodohan mereka adalah kurangnya pengetahuan. Seandainya mereka tahu, mereka tidak akan melakukan hal itu. Dengan demikian orang-orang sederhana macam ini masih memiliki pengharapan untuk berubah. Mereka perlu diajar, perlu ditegur, dan perlu diarahkan.

Mama
Burhan, di mana kamu meletakkan kunci rumah kita?
Burhan
Aku masukkan ke dalam rumah melalui jendela.
Mama
Lho? Kita sekarang sedang di luar rumah, dan di dalam rumah tidak ada orang, dan kamu memasukkan kunci satu-satunya yang kita bawa ke dalam rumah. Jadi bagaimana kita masuk?
Burhan
Maaf Mama, aku pikir dengan menaruh kunci ke dalam rumah akan lebih aman, karena kalau kita bawa nanti kuncinya bisa tertinggal di luar.
Mama
Baiklah, sekarang kamu ke rumah tetangga, minta pinjam linggis. Mama mau pakai untuk membuka pintu rumah dan setelah itu untuk memukulmu.

Dalam kisah Burhan dan Mamanya ini, Burhan telah melakukan suatu kebodohan yang sangat fatal. Tetapi yang dilakukan Burhan ini adalah disebabkan ia kurang pengetahuan. Mungkin karena masih anak-anak, ia berpikir terlalu sederhana, tanpa memperhitungkan lebih banyak hal. Namun tampaknya Burhan bisa menyadari kesalahannya, maka ia memiliki pengharapan untuk berubah.

Orang bebal

Orang bebal dan orang tak berpengalaman sama-sama melakukan berbagai kebodohan. Perbedaannya adalah pada sikap hati. Amsal 1:7 dengan tepat menjelaskan mengenai tipe orang seperti ini.

Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan. — Amsal 1:7

Perbedaannya dengan orang sederhana adalah, orang bebal tidak peduli dengan hikmat, dan sikap hatinya tidak mau berubah. Pokoknya saya begini. Sementara orang sederhana masih bisa diajar, orang bebal menutup kemungkinan bagi dirinya sendiri untuk belajar. Orang sederhana bodoh karena tidak tahu, tetapi orang bebal bodoh karena tidak mau tahu.

Burhan
Papa, mengapa papa merokok? Merokok itu tidak sehat.
Papa
Kata siapa?
Burhan
Kata Bu Karolin. Beliau bilang, merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan ganguan kehamilan dan janin.
Papa
Itu kan kata gurumu. Memangnya dia pernah lihat orang yang merokok sakit kanker?
Burhan
Nggg.... nggak tau.
Papa
Gurumu itu sok tahu.

Kali ini Burhan berhadapan dengan ayahnya yang agak menyebalkan. Ayah Burhan tidak bersedia menerima informasi yang bisa menyelamatkan dirinya. Bukan hanya tidak bersedia menerima, bahkan ayah Burhan menghina orang yang menyampaikan informasi tersebut. Beginilah gambaran orang yang bebal, ia sombong, menganggap diri sudah cukup tahu. Tidak merasa perlu tahu hal yang lain, bahkan menghinanya.

Apakah kamu termasuk salah satunya?

Seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya, penulis kitab Amsal sering membuat kontras antara dua hal sehingga seolah-olah ada orang yang bebal saja, dan ada orang yang tidak berpengalaman saja. Tetapi kedua hal tersebut sebenarnya berada dalam diri kita dalam kadar tertentu, dan bisa muncul dalam kadar berbeda pada situasi yang berbeda.

Misalnya, Mila adalah seorang yang tulus dan mau belajar banyak hal. Ia belum mengetahui cara berelasi yang baik dengan teman. Ia sering menasehati teman-temannya dengan niat yang tulus, tetapi ia tidak mengetahui bahwa teman-temannya tidak membutuhkan nasehatnya itu. Suatu ketika ia ditegur oleh kakaknya, dan ia mulai menahan diri untuk tidak terlalu sering memberi nasehat. Berarti, Mila dalam hal ini sesuai dengan profil orang yang tidak berpengalaman dalam Amsal.

Suatu ketika, Mila diajak berdiskusi mengenai agama dengan temannya. Lalu Mila menolak dengan alasan, agama tidaklah penting dalam kehidupan modern ini. Nah, dalam hal ini Mila sesuai dengan profil orang bodoh yang menolak didikan1.

Jadi, yang manakah dirimu? Pasti ada keduanya, dalam kadar yang berbeda pada situasi yang berbeda.

Sebagai bahan refleksi diri, kamu bisa menanyakan pada dirimu sendiri pertanyaan-pertanyaan berikut:

  • Apakah saya selalu marah atau bersikap defensif ketika orang memberitahu kesalahan saya, bahkan ketika ia mengatakannya dengan lembut?
  • Apakah saya merasa diri saya tahu lebih banyak dari orang lain?
  • Apakah saya ingin mempelajari hal-hal yang baru?
  • Apakah saya menganggap hal-hal yang tidak saya pelajari tidak penting?
  • Apakah saya sering menilai orang lain?
  • Apakah saya bersedia mendengarkan sudut pandang yang berbeda dari sudut pandang saya?
  • Mungkinkah sesuatu yang saat ini saya anggap tidak penting ternyata penting di kemudian hari?
  • Mungkinkah sesuatu yang saya anggap tidak berguna ternyata berguna bagi banyak orang?

Masih banyak pertanyaan lain yang dapat kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Jawabanmu atas pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat merefleksikan seberapa jauh kamu menjadi orang bebal maupun orang yang tak berpengalaman.


  1. Perhatikan bahwa saya tidak sedang mengatakan bahwa orang yang menolak diskusi agama adalah orang bodoh. Penekanan saya adalah dalam hal Mila menganggap sesuatu tidak penting sehingga menutup kemungkinan bagi dirinya untuk mendengar sesuatu yang mungkin baik. 

Tanggapan

Beri tanggapan