Search form

Nggak pakai helm juga nggak apa-apa

Karena tidak terasa manfaatnya.

Audiens

Saya sudah mengendarai sepeda motor setiap hari selama 20 tahun, dan tidak pernah memakai helm. Nggak kenapa-napa tuh.

Kalimat yang tidak asing di telingamu? Atau, bahkan kamu sendiri yang mengatakannya? Berhati-hatilah dengan apa yang kamu anggap tidak apa-apa. Kalimat semacam itu sering muncul dalam berbagai bidang kehidupan yang menyangkut kecelakaan.

Saya nggak pernah memakai seatbelt, nggak pernah kecelakaan kok.

Buat apa beli pemadam api? Toh dari dulu tidak pernah kebakaran.

Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Peribahasa itu sangat cocok untuk kondisi yang masih bisa diobati. Bagaimana dengan kecelakaan? Setelah mengalami kecelakaan, mungkin kamu tidak bisa kembali ke keadaan yang sama. Mungkin kamu cacat. Mungkin wajahmu tidak secantik sekarang (tidak berarti sekarang cantik). Bahkan, mungkin kamu bisa mati. Bahkan ada yang lebih buruk dari mati. Kamu bisa menjadi idiot dan sangat menyusahkan keluargamu selama puluhan tahun - dan mereka berdoa agar kamu mati saja, tetapi tidak dikabulkan - hingga akhirnya kamu benar-benar mati. Seram bukan? Tetapi ini bukanlah sesuatu yang kita tidak tahu.

Pertimbangkan ini

Tidak semua peraturan itu buruk (ini ungkapan yang sangat ironis sekali). Sejumlah peraturan dibuat untuk melindungi kamu. Jadi jangan selalu berpikir negatif dengan menganggap peraturan ini menguntungkan pejabat X, atau akal-akalannya pengusaha Y, atau demi melancarkan bisnis mentri Z, dan lain sebagainya. Beberapa mungkin seperti itu, tetapi tidak semua. Ada peraturan yang dibuat untuk kebaikan kita.

Kebaikan kita? Apakah kamu merasakan manfaatnya?

Kalau sebuah peraturan dibuat untuk kebaikan kita, apakah kita akan merasakan manfaatnya? Tidak tentu.

Mungkin kamu sudah 20 tahun mengendara motor dan tidak pernah memakai helm. Tetapi tidak pernah terjadi apa-apa dengan kepalamu selain mendapat kotoran burung. Lalu muncul peraturan harus memakai helm. Apa yang akan terjadi?

  • Mungkin, kamu mengikuti peraturan itu. Kamu memakai helm ketika bepergian. Tetapi tidak terjadi kecelakaan apa pun (dan kamu pun tidak mengharapkan itu terjadi), sehingga helm kamu tidak terasa gunanya. Kalau tidak kecelakaan, helm tidak menjalankan fungsinya, bukankah begitu? Lalu kamu menggerutu, Sudah beli helm mahal-mahal, tapi nggak ada fungsinya.
  • Mungkin, kamu tidak mengikuti peraturan itu, karena menganggapnya tidak perlu. Kamu tidak memakai helm. Tiba-tiba ada polisi mencegatmu dan menilangmu. Kamu pun menggerutu, Sialan. Siapa sih, yang bikin peraturan begini! Dulu nggak ada peraturan tentang helm, saya nggak pernah kena masalah, sekarang malah jadi masalah.

Jadi, apakah peraturan ini bermanfaat untukmu? Sepertinya tidak. Bahkan menciptakan masalah baru, yaitu kamu yang biasanya hidup damai dan tentram tanpa helm, sekarang harus bermasalah karena tidak memakai helm.

Kalau begitu, kapan peraturan ini bermanfaat? Ketika kamu kecelakaan.

  • Misalnya, kamu mengikuti peraturan itu. Kamu memakai helm ketika bepergian. Lalu kamu terjatuh dari motor dan kepalamu membentur trotoar. Helm pecah, tetapi kepalamu selamat. Maka kamu mengatakan, Untung tadi pakai helm. Kalau tidak aku celaka.
  • Atau, ceritanya, kamu tidak mengikuti peraturan itu. Kamu tidak memakai helm. Tiba-tiba kamu terjatuh dari motor, dan kepalamu membentur trotoar. Dan kamu sama sekali tidak berekspresi menyesal karena tidak pakai helm. Karena kamu tidak bisa lagi berekspresi.

Jadi, peraturan ini bermanfaat, bukan? Tidak terasa manfaatnya karena kamu tidak kecelakaan. Lalu haruskah kamu mengalami kecelakaan agar kamu merasakan manfaatnya? Saya rasa tidak perlu.

Mencegah kerugian besar

Orang yang kecelakaan lalu lintas selalu lebih sedikit daripada yang tidak kecelakaan. Kalau begitu, peraturan ini hanya bermanfaat untuk sebagian kecil masyarakat saja. Adilkah?

Ternyata setelah kita tinjau, ini bukan peraturan yang adil. Karena hanya sebagian kecil masyarakat yang menikmati manfaatnya, sementara sebagian besar masyarakat justru terganggu ketenangannya karena kalau tidak mengikuti akan ditilang.

Benarkah demikian?

Kalau kita tinjau seperti itu, memang peraturan ini sepertinya bermasalah. Tetapi masalahnya, kita tidak pernah tahu apakah kita termasuk dalam sebagian besar orang yang tidak kecelakaan, ataukah kita termasuk dalam sebagian kecil orang yang mengalami kecelakaan. Hal ini hanya Tuhan yang mengetahui. Bagi kita, ada peluang kita masuk salah satu dari keduanya. Semua orang bisa menjadi salah satunya, dan tidak ada yang tahu.

Peluang kita mengalami kecelakaan adalah sangat kecil. Ini terlihat dari fakta bahwa hanya sebagian kecil pengguna jalan yang mengalami kecelakaan. Berarti, kita tidak perlu kuatir berlebihan mengenai hal ini. Tetapi masalahnya, sekali kita mengalami kecelakaan yang peluang terjadinya kecil tersebut, kerugian yang kita alami bisa sangat besar. Maka kita perlu sangat berhati-hati dalam hal ini. Berlawanan sekali dengan bermain lotre. Kalau bermain lotre, peluang kamu kalah adalah sangat besar, sementara kerugiannya cukup kecil.

Jadi, peraturan ini dibuat untuk mencegah kerugian besar yang mungkin terjadi terhadap sebagian kecil orang yang kebetulan mengalami kejadian berpeluang kecil itu.

Statistik, bukan personal

Peraturan ini berguna untuk mencegah, dan bukan sesuatu yang terasa manfaatnya secara langsung. Banyak peraturan mengenai keamanan dan kecelakaan bekerja di tingkat statistik, bukan bekerja secara personal.

Apa maksudnya?

Maksudnya, seperti yang telah kita bicarakan sebelumnya, kamu tidak merasakan secara langsung manfaatnya. Peraturan tidak bekerja secara personal. Dan kamu tidak tahu apa manfaatnya dari orang-orang sekitarmu juga.

Tetapi, ada orang-orang tertentu yang mengawasi, atau mengadakan penelitian. Mereka bisa merangkum data dan menganalisanya. Misalnya, kematian pengendara motor karena kepala terbentur pada tahun 2071 adalah 11% (ini fiktif, contoh saja), dengan pemakai helm adalah 60%. Setelah pada tahun 2072 dibuat peraturan agar orang memakai helm (sekalipun dengan menggerutu dan bersumpah serapah terhadap pemerintah), ternyata pemakai helm meningkat menjadi 80%, sementara angka kematian turun menjadi 8%.

Siapa yang peduli dengan statistik seperti itu? Hanya orang-orang tertentu saja. Dan orang-orang itulah yang bisa melihat manfaatnya, bukan orang-orang pada umumnya.

Lho, tapi toh ada yang mati juga?

Benar, kita tidak mungkin bisa menjamin tidak ada yang mati. Tetapi kalau yang mati bisa lebih sedikit, itu masih lebih baik.

Kesimpulan

Jadilah bijaksana dengan tidak melulu menggerutu dengan peraturan. Kalau memang peraturan itu bisa memberikan keamanan, ya ikuti saja tanpa menggerutu.

Tanggapan

Terecia

saya sangat setuju, permasalahan yang mungkin membuat sebagian orang tidak taat aturan beberapa tahun belakangan ini adalah aparat keamanan sendiri tidak tegas dalam mentaati peraturan, dan juga tidak tegas dalam menindak pelanggar aturan, baru 1-2 orang dibiarkan, tapi kalau sudah puluhan baru ditindak, itu membuat beberapa pelanggar yang tadinya cuma ikutaan melanggar, jadi menyalahi polisi yang menilangnya. Dan, yang paling disesalkan adalah konon razia yang dilakukan hanya dipakai untuk ajang mencari tambahan. Tips pribadi: coba lihat buku tentang peraturan lalu lintas di toko buku, kalau perlu dibeli untuk dibawa dengan motor atau mobil.

Beri tanggapan