Search form

Murka Allah 6: Fakta yang jelas

18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Hati manusia yang jahat otomatis menolak segala sesuatu tentang Allah. Hati manusia yang jahat tidak bisa melihat fakta dengan jujur, melainkan memilih-milih fakta yang cocok dengan apa yang ia percayai.

Di waktu yang lalu saya sudah membicarakan bahwa rasio manusia, menurut Martin Luther, adalah seperti pelacur. Kita selalu merasionalkan segala sesuatu untuk cocok dengan yang kita percayai. Orang yang percaya Bomi dan Enjel pacaran, akan memakai fakta-fakta yang ia lihat untuk membuktikan bahwa mereka memang pacaran. Ketika ia bertanya langsung kepada Bomi, Kamu bener nggak sih pacaran sama Enjel? dan Bomi menjawab, Nggak. Itupun tidak membuatnya menyadari kesalahannya. Tetapi ia justru berpikir, Ah, Bomi ini suka malu-malu. Kalau sudah begini, orang mau bicara apa pun, tetap tidak akan mengubah pikiranmu. Begitulah cara kerja pikiran kita.

Alkitab menggunakan istilah orang beriman untuk orang yang beriman kepada Allah yang benar. Alkitab menggunakan istilah orang tidak beriman untuk orang yang tidak percaya kepada Allah yang benar. Saya menggunakan istilah iman yang agak berbeda sedikit. Bagi saya, setiap orang adalah orang beriman. Bedanya, ada orang yang beriman pada Allah yang benar, ada orang yang beriman kepada Allah yang salah, dan ada orang yang beriman bahwa tidak ada Allah.

Orang yang beriman pada Allah yang benar, ketika melihat ada bencana alam, ia akan mengatakan, Bencana alam ini diijinkan Tuhan. Sementara itu, orang yang beriman bahwa Allah tidak ada, akan mengatakan, Bencana alam ini membuktikan bahwa Allah tidak ada. Ketika seseorang yang sakit kanker tiba-tiba sembuh, orang yang beriman kepada Allah akan mengatakan, Ia disembuhkan oleh Allah. Sementara itu, orang yang beriman bahwa Allah tidak ada, akan mengatakan, Ini bisa dijelaskan secara ilmiah.

Fakta yang dilihat sama, tetapi interpretasi berbeda. Iman seseorang ternyata menjadi dasar bagi seluruh pikirannya. Cara ia menilai fakta, ditentukan berdasarkan imannya.

Alkitab memberi definisi iman, Dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan, dan bukti bagi segala yang tidak kita lihat. Saya menggarisbawahi kata bukti. Iman adalah bukti. Ini aneh. Bukankah sehari-hari kalau kita mengatakan, saya beriman bahwa Tuhan ada. maka orang lain biasanya mengatakan, Buktikan! Berarti seharusnya iman itu dibuktikan. Tetapi Alkitab lain. Alkitab mengatakan bahwa iman adalah bukti. Ini melampaui cara pikir kita sehari-hari, tetapi benar adanya.

Iman bukan untuk dibuktikan. Iman adalah dipakai untuk membuktikan hal-hal lain. Dalam matematika ada yang disebut teorema, ada aksioma. Teorema harus dibuktikan. Aksioma tidak mungkin dibuktikan. Jadi, aksioma harus dipercaya begitu saja. Jadi, aksioma adalah iman dalam matematika. Tetapi, justru semua teorema harus dibuktikan cocok dengan aksioma. Berdasarkan aksioma, kita membuktikan semua teorema. Bukan aksioma yang perlu dibuktikan dengan yang lain. Jadi, iman yang sebagai dasar, justru dipakai untuk membuktikan semua hal lainnya. Iman adalah bukti.

Lalu yang jadi masalah, kalau kita punya iman yang salah, iman itu akan kita pakai menjelaskan segala sesuatu secara salah, tetapi kita rasa benar. Kita semua seperti itu, bukan?

Kita semua lahir dalam kurungan keluarga dan masyarakat sekitar kita. Kalau kamu dibesarkan dan dididik dalam cara tertentu, setelah kamu terjun ke masyarakat, kamu akan melihat betapa banyaknya orang aneh di dunia ini. Mengapa aneh? Karena berbeda dari cara-cara yang dilakukan keluargamu. Sebenarnya bukan mereka aneh. Kita menganggap orang lain aneh karena kita selalu menganggap aneh orang yang melakukan keanehan yang berbeda dari keanehan yang kita lakukan.

Bayangkan kamu adalah seekor anak ayam yang masih di dalam cangkang telur. Ceritanya kamu sudah bisa berpikir. Kamu mempercayai bahwa dunia ini kosong. Dunia ini tidak ada apa-apa, hanya gelap saja, dan dunia bagimu hanya sebesar cangkang telur yang kamu bisa jangkau.

Suatu ketika cangkang itu pecah. Kamu melihat cahaya yang menyilaukan, dan kamu pikir ini pasti alien. Tetapi ternyata bukan. Ternyata dunia yang sesungguhnya jauh lebih besar dari yang selama ini kamu yakini. Dan kamu melihat makhluk besar di sampingmu - itu adalah indukmu.

Indukmu berkata, Nak, selamat datang di dunia nyata. Dengan sabar, ia membimbingmu, dan ia mengatakan, Kehormatan terbesar bagi seekor ayam adalah, ketika ia bisa dimasak untuk manusia. Hal ini kamu dengar terus menerus sehingga kamu meyakini ini sebagai kebenaran. Ini jadi imanmu.

Suatu ketika, kamu melihat sekelompok ayam liar dari kejauhan, mereka berada di luar peternakan, lalu temanmu berkata padamu, Enak ya mereka, bisa hidup bebas. Apa jawabmu? Mereka ayam-ayam yang kasihan sekali. Mereka hidup tanpa tujuan. Mereka tidak punya kehormatan.

Apa yang kamu percayai sebagian besar berasal dari apa yang ditanamkan oleh orang tua, guru-guru, buku-buku, dan film yang kamu tonton. Itu membentuk struktur dalam pikiranmu, dan cara kamu menilai segala sesuatu adalah berdasarkan hal itu. Koreksilah dirimu sendiri, pernahkah kamu mengatakan orang lain bego hanya karena ia tidak mau menerima uang? Pernahkah kamu mengatakan orang lain membuang masa depannya karena menjadi seorang pendeta? Kalau ada seseorang yang kuliah sampai dapat Ph.D, lalu mengajar SMA, apa yang akan kamu katakan, Sayang ya, sudah sekolah tinggi, cuma jadi guru SMA.

Bagaimana jika yang kamu percayai salah? Pernahkah kamu memikirkan kemungkinan itu? Kalau kamu percaya Allah ada, datanglah padaNya, minta Tuhan menyatakan kebenaran, mengkoreksi pikiranmu yang salah, sehingga kamu bisa mengenal kebenaran yang sejati. Tuhan Yesus pernah mengatakan, kebenaran itu akan memerdekakan kamu.

Kalau kamu tidak percaya Allah ada, berdoalah setidaknya sekali dalam hidupmu, Kalau memang Engkau ada, dengarlah doaku, perlihatkanlah padaku kebenaran itu. Kalau Engkau tidak ada, ya sudah, tidak usah mendengarkan maupun mengabaikan doaku, karena yang tidak ada tidak bisa mendengarkan maupun mengabaikan. Mengapa saya anjurkan kamu juga untuk berdoa, karena siapa tahu Allah ada, dan kamu kebetulan tidak tahu.

Beri tanggapan