Search form

Murka Allah 4: Kebenaran itu sudah nyata

18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih.

Ini adalah keempat kalinya saya membicarakan ayat ini1.

Lalu apakah artinya menindas kebenaran dengan kejahatan? Alkitab ini aneh. Bukankah seharusnya kebenaran dilawankan dengan kebohongan? Lalu mengapa di sini kebenaran dilawankan dengan kejahatan? Jawabannya, karena kejahatan membuat manusia mau tidak mau harus meniadakan Allah. Manusia dalam kebebasannya ingin berbuat kejahatan sebebas-bebasnya. Dalam hatimu tersimpan hasrat untuk berbuat jahat: Kamu ingin temanmu yang tidak kamu sukai mati. Kamu ingin berhubungan seks dengan bintang-bintang film. Kamu ingin memiliki benda yang seharusnya adalah milik orang lain. Berbagai kejahatan ada dalam hatimu, satu per satu menunggu untuk kamu lakukan. Dan kamu menyadari, Allah mengetahui hal itu. Lalu, apa yang harus kamu lakukan? Tidak mungkin kamu menutup mata Allah sehingga tidak dapat melihatmu. Allah tidak mungkin dibunuh. Allah tidak mungkin dihilangkan. Satu-satunya jalan adalah, menganggap Allah tidak ada.

Allah murka kepada kita karena dengan segala keinginan hati kita yang jahat, kita telah menindas kebenaran. Kita membuang Allah dari seluruh konsep hidup kita. Kita membuang Allah dari seluruh sistem nilai dan pengetahuan kita. Kita membuang Allah dari kehidupan sehari-hari kita. Kita menindas kebenaran Allah dengan kejahatan kita. Kebenaran apa? Kebenaran bahwa Allah ada, dan Allah akan menuntut pertanggung jawaban kita atas hidup kita.

Hari ini kita telah sampai pada ayat ini:

Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka.

Ayat yang barusan kita baca ini mengerikan sekali. Mengapa? Karena ternyata kebenaran yang ditindas oleh manusia bukanlah kebenaran yang manusia tidak tahu, melainkan kebenaran yang sudah dinyatakan oleh Allah. Sudah dinyatakan Allah, berarti Allah bukan sembarangan marah kepada kita, karena kita seharusnya sudah tahu. Lalu mengapa kita tidak sadar? Karena hati kita sudah rusak oleh kejahatan sehingga kita tidak mampu menyadari, apa yang Allah telah nyatakan.

Ini menunjukkan bahwa sebenarnya manusia mengetahui kebenaran. Kebenaran apa? Kebenaran bahwa Allah ada dan manusia harus bertanggung jawab kepadaNya. Tetapi dengan mengetahui kebenaran itu, manusia bukan hanya tidak peduli, tetapi juga menindasnya.

Salah seorang yang saya sebut paling beruntung adalah Pontius Pilatus. Bayangkan, di hampir semua gereja seluruh dunia, nama Pontius Pilatus selalu disebut. Bahkan Yudas pun yang kejahatannya lebih keren, kurang terkenal dibanding Pontius Pilatus.

Pontius Pilatus adalah seorang yang sangat beruntung. Mengapa saya katakan beruntung? Karena ia menjadi salah satu dari sejumlah orang yang mendapat suatu kesempatan bertemu langsung dengan Allah yang menjadi manusia: Yesus Kristus.

Suatu ketika Pilatus berhadapan langsung dengan Allah, sang Kebenaran. Pilatus bertanya: “Jadi Engkau adalah raja?” Yesus menjawab: “Engkau mengatakan, bahwa Aku adalah raja. Untuk itulah Aku lahir dan untuk itulah Aku datang ke dalam dunia ini, supaya Aku memberi kesaksian tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.”

Pilatus dengan arogannya menjawab, “Apa itu kebenaran!”

Mengapa Pilatus menjawab Yesus dengan perkataan itu? Pilatus adalah seorang Romawi. Ia adalah penganut sebuah aliran filsafat yang disebut skeptisisme. Skeptisisme adalah aliran filsafat yang tidak mengakui kebenaran ada. Filsafat ini mengatakan bahwa kebenaran, sekalipun ada, tidak dapat diketahui.

Posisi Pilatus waktu itu sangat sulit. Ia sudah beberapa kali membuat kesalahan yang mengakibatkan bangsa Yahudi memberontak terhadap pemerintahan Roma. Lalu, sekarang ia harus memilih: Mau membebaskan Yesus, yang akibatnya adalah orang Yahudi akan marah dan memberontak lagi, atau ia mengikuti kemauan orang Yahudi untuk membunuh Yesus? Pilihan pertama jelas pilihan yang buruk. Tetapi pilihan kedua pasti tidak lebih baik. Karena Pilatus sadar, Yesus sebenarnya tidak bersalah. Tidak bersalah, tetapi mengapa harus dihukum?

Kita harus mengerti Pilatus. Dalam hal ini posisinya sangat sulit. Maka, Yesus mengatakan, “Engkau tidak punya kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan dari atas.” Dalam kebingungannya Pilatus tidak memiliki solusi. Perhatikan bahwa Pilatus, sama seperti kita, ketika dalam kesulitan selalu mencari solusi untuk masalah. Tetapi anehnya, Tuhan Yesus tidak menyarankan satu solusi untuknya, tetapi membicarakan kebenaran. Siapa di sini yang ketika dalam kesulitan mencari maksud Tuhan di baliknya? Saya pikir hanya sedikit. Lebih banyak kita yang dalam kesulitan kita mencari solusi. Maka di sini Pilatus menghina, “Apa itu kebenaran!” Pilatus dalam kebingungannya akhirnya memilih hal yang jahat: Ia tidak mau tahu, dan menyerahkan Yesus pada orang Yahudi untuk dibunuh.

Pilatus aman. Tetapi hati nuraninya tidak mungkin diam. Hati nuraninya terus menerus berteriak, hingga menurut kisah turun temurun, Pilatus mati dalam keadaan gila, halusinasi melihat tangannya selalu penuh darah.

Ini ironis sekali. Seseorang yang mendapat kesempatan untuk bertemu langsung dengan Kebenaran itu, akhirnya menolak kebenaran. Kita semua begitu. Kita semua telah mendapat kesempatan untuk melihat kebenaran Allah yang dinyatakan, tetapi kita gagal untuk menyadarinya. Mengapa? Karena hati kita diikat oleh sistem nilai masyarakat yang salah. Kedua, karena hati kita menolak kebenaran itu.

Pilatus memang sangat malang nasibnya. Tetapi kita juga tidak lebih baik darinya. Kalau ada kesempatan lagi saya bicarakan tentang ayat-ayat ini kepadamu, kita nanti akan melihat, ternyata dari manakah kita bisa melihat Allah menyatakan kebenaran? Yang pertama bukan dari kotbah. Bukan dari baca Alkitab. Bukan dari kesaksian temanmu. Tetapi dari alam yang kita lihat. Betapa celakanya kita, karena hal yang jelas di depan mata kita, kita gagal melihatnya sebagai penyataan Allah.

Sadarkah engkau bahwa Allah murka dengan semua dosamu? Sadarkah engkau bahwa apa yang engkau lakukan hari ini harus engkau pertanggungjawabkan pada waktu engkau mati nanti? Mungkin kamu berkata, “Itu urusan kalau sudah tua. Bertobat kan gampang.” Allah adalah Allah yang kekal, perbuatanmu seluruhnya dicatat dan tidak dapat dihapuskan dengan hanya mengatakan “Tuhan, sekarang aku sudah tua, aku mau bertobat.”

Sadarkah engkau, bahwa engkau mungkin sedang menyia nyiakan waktu. Sadarkah engkau bahwa murka Allah ada di atas kepalamu?

Tidak ada jalan keluar. Hanya melalui pengorbanan Tuhan Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah yang mati bagi dosamu, yang mampu meredakan murka Allah yang menyala-nyala terhadap dirimu. Apakah kamu bersedia menerimaNya?


  1. Tulisan ini (dan semua tulisan dalam seri ini) adalah bahan renungan pagi (benar. renungan pagi.) untuk dibacakan di sekolah tempat saya mengajar. Manusia adalah fasik dan jahat. Fasik berarti melawan Allah. Jahat berarti melakukan tindakan-tindakan yang tidak adil terhadap sesama manusia. Kamu tidak peduli dengan Allah, itu fasik. Kamu menghina temanmu, itu jahat. Kamu tidak serius dalam kebaktian, itu fasik. Kamu menyontek, itu jahat. Kalau kamu perhatikan, 10 hukum Allah terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah hukum 1 sampai ke-4, mengatur hubungan antara manusia dengan Allah. Bagian kedua adalah hukum ke-5 sampai ke-10, mengatur hubungan antara manusia dengan manusia. Kedua bagian ini diringkaskan melalui: Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, segenap jiwamu, dan segenap kekuatanmu, serta yang kedua, kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. 

Beri tanggapan