Search form

Murka Allah 3: Hukuman Allah bagi Manusia

Audiens

18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. - Roma 1:18-20

Ini adalah ketiga kalinya saya mengulas ayat-ayat ini. Setiap potong ayat dalam Alkitab memiliki kedalaman yang luar biasa dalamnya, yang tidak akan pernah bisa habis digali. Setiap kali kamu menggalinya dengan serius, kamu akan menemukan hal-hal baru yang begitu limpah, yang bernilai untuk kehidupanmu.

Waktu itu kita telah melihat, bahwa manusia telah menindas kebenaran dengan kejahatan. Kebenaran di sini adalah truth, yaitu kebenaran yang bersifat fakta. Artinya, ini adalah kebenaran yang begitu jelas dan mudah diuji. Kebenaran truth adalah sejelas 23=8. Sangat jelas, siapapun dengan mudah setuju. Dalam Alkitab ada dua macam kebenaran, satu namanya truth, satu lagi namanya righteousness. Truth adalah kebenaran yang faktual. Setuju tidak setuju, kenyataannya adalah seperti itu.

Kebenaran righteousness, adalah kebenaran dalam hal moral dan sistem nilai. Ini sukar dibuktikan. Bagaimana membuktikan bahwa aborsi salah? Setiap sistem nilai punya cara menilai sendiri. Ini bukan artinya semua orang bisa sama-sama benar, tetapi karena hal ini sukar diuji, maka kita bisa punya pendapat yang berbeda-beda.

Fakta berbicara bahwa adalah Allah ada. Ini kebenaran truth. Tetapi Alkitab mengatakan, manusia menindas kebenaran ini dengan kejahatan. Lho? Kebenaran seharusnya adalah lawan kebohongan. Mengapa dilawankan dengan kejahatan? Karena hati manusia yang begitu jahat, sadar bahwa Allah ada dan Ia tidak suka dengan kejahatan mereka. Lalu bagaimana solusinya? Mau bunuh Allah? Tidak bisa. Mau singkirkan Allah? Tidak bisa. Mau bagaimana lagi? Tidak ada jalan lain. Satu-satunya jalan adalah manusia menyangkali bahwa Allah ada. Kalau kita berpura-pura Allah tidak ada, kita bebas lakukan segala sesuatu sekehendak hati kita yang jahat.

Pada renungan yang lalu kita telah bicarakan sampai titik itu. Sekarang Alkitab mengatakan, murka Allah telah dinyatakan dari sorga atas kefasikan dan kejahatan manusia. Manusia yang telah menindas kebenaran dengan kejahatan.

Kejahatan manusia selalu memiliki dua sisi. Sisi pertama, manusia sedang melawan Allah. Manusia sedang kurang ajar terhadap Allah. Sisi kedua adalah, manusia sedang merugikan sesamanya.

Dari dalam hati kita, kita telah menyimpan kejahatan yang begitu banyak. Kita menyimpan kebencian. Kita menyimpan iri. Kita ingin menjatuhkan orang lain, dan mengambil keuntungan bagi diri kita sendiri. Kita menyimpan segala bentuk hawa nafsu dalam hati kita. Walaupun kita belum melakukan kejahatan kepada orang lain, tetapi itu semua sudah ada dalam hati kita. Ini adalah sesuatu yang melawan Tuhan. Kejadian 6:5 mencatat Allah begitu sedih ketika melihat kejahatan manusia, dan di sana dikatakan, Allah melihat segala kecenderungan hati manusia adalah kejahatan semata. Allah marah kepada manusia karena hal ini. Kemarahan Allah dinyatakan pertama-tama dalam hidup kita, kemudian yang kedua adalah setelah kita mati.

Hari ini saya akan menjawab dua pertanyaan yang sering diajukan orang. Pertama, “Mengapa kalau Allah ada, manusia harus menderita begitu banyak?” Kedua, “Mengapa Allah menciptakan neraka?”

Sering orang mengajukan suatu keberatan, kalau Allah ada, mengapa kok kita melihat orang-orang banyak yang menderita? Kalau Allah memang baik, mengapa Allah membiarkan kita menderita?

Kita sering cuma lihat dari satu sisi. Bukankah kalau orang tuamu atau gurumu memarahimu, kamu sering merasa kalau mereka tidak berhak memarahimu? Kita selalu merasa diri kita tidak seharusnya dimarahi. Kita selalu merasa diri kita yang dirugikan. Tetapi bagaimana kalau kamu bertukar posisi dengan mereka? Kamu baru akan mengerti, mengapa mereka marah. Begitu juga dengan Allah. Kita sering cuma melihat dari sisi manusia berdosa yang sedang dihukum Allah. Kita hanya bisa protes dan mengkritik Allah begini begitu. Kita tidak pernah coba memahami, mengapa Allah sampai menghukum manusia. Kita tidak pernah mencoba memahami, apa yang sebenarnya telah manusia lakukan sehingga manusia dihukum Allah.

Allah menghukum manusia karena manusia memiliki hati yang jahat. Allah menghukum, seringkali bukan dengan mengirimkan petir kepadamu, yang bikin kamu jadi manusia panggang. Kadang-kadang Allah melakukan itu. Tetapi Allah lebih sering menghukum dengan cara pasif: yaitu membiarkan manusia melakukan segala sesuatu sekehendak hatinya sendiri, hingga akhirnya ia celaka, bahkan mencelakakan orang lain. Allah tidak menghukum manusia dengan menciptakan global warming. Allah menghukum manusia dengan membiarkan manusia mencapai kesuksesan yang besar sehingga manusia merusak tempat tinggalnya sendiri.

Dosa melahirkan penderitaan. Allah tidak memberikan penderitaan. Allah membiarkan orang berdosa menciptakan penderitaan bagi dirinya sendiri. Untuk apa? Untuk menghukum kita. Untuk apa? Untuk menyadarkan kita bahwa kita telah berdosa. Tetapi berapa banyak yang sadar?

Allah kejam? Saya tanya dulu. Orangtuamu kejam? Gurumu kejam? Sekarang kamu bilang iya. Mengapa? Karena kamu tidak bisa memandang melalui cara pandang mereka. Waktu kamu mulai memahami bagaimana Allah memandang manusia, baru kamu sadar, manusia begitu jahat. Manusia pantas mendapatkannya.

Kemudian, hukuman berikutnya bagi manusia berdosa adalah, manusia berdosa yang sudah mati akan masuk ke dalam neraka. Neraka adalah tempat kemarahan Allah ditumpahkan atas segala dosa manusia. Neraka bukanlah tempat menyiksa orang. Allah tidak menyiksa manusia, seperti Allah kurang mainan. Allah tidak seperti kamu yang suka menyiksa anjing atau kucingmu itu. Neraka dicipta untuk menyatakan kemarahan Allah kepada manusia berdosa. Di sana setiap dosa manusia akan dihukum dengan adil dan sepantasnya. Setiap kita yang sudah berada dalam neraka akan menyesali perbuatan-perbuatan kita seumur hidup. Tetapi tidak ada jalan keluar. Kita berada di sana selamanya.

Allah menghukum dan membiarkan manusia adalah hal yang adil dan benar. Kamu sering kritik Allah, bukan? Kalau Allah mengasihi manusia, mengapa Allah harus menghukum manusia? Salah satu hal yang dicatat dalam Alkitab adalah, Allah mendengar keluhan orang yang tertindas. Kalau kamu dicelakakan oleh orang lain, hatimu akan begitu marah. Waktu itu kamu tidak bisa balas, kamu hanya berharap Allah melihatmu dan membalaskan kejahatan yang kamu terima dari orang lain. Kita seumur hidup sering berbuat salah pada orang lain, bukan? Waktu kita berbuat salah dan orang lain merasa dirugikan atau disakiti oleh kita, dalam hatinya ada sebuah teriakan untuk membalas perbuatan yang kita lakukan terhadapnya. Allah selalu mendengar teriakan semacam itu, dan Allah akan membalaskannya kepada kita. Berapa banyak orang yang kamu sakiti? Kamu tidak akan pernah tahu, karena itu ada dalam hati manusia.

Siapakah di antara kita yang tidak berdosa? Siapakah di antara kita yang berani bilang bahwa dirinya tidak menyimpan kejahatan apa pun dalam hatinya? Siapakah yang berani bilang, “saya orang suci”? Setiap orang di dekatmu tahu siapa dirimu. Kamu berani bilang begitu, pasti langsung orang lain protes. Atau semua orang diam saja karena merasa, “Ya sudah, biarin lah dia ngomong apa. Memang orangnya kurang waras.”

Manusia berdosa berada di bawah murka Allah. Kita yang adalah manusia berdosa, kita berada di bawah kemarahan Allah. Kita sepatutnya menderita. Kita sepatutnya masuk neraka, dihukum secara kekal. Nasib manusia berdosa sudah pasti: dihukum oleh Allah.

Lalu adakah jalan keluar? Apakah yang bisa meredakan kemarahan Allah terhadap diri kita? Apakah yang bisa menyelamatkan kita dari kemarahan Allah yang menyala-nyala? Manusia berdosa perlu seorang penolong yang bisa meredakan amarah Allah. Manusia berdosa perlu seorang yang bisa menyelamatkan dirinya dari amarah Allah. Manusia berdosa perlu juruselamat. Siapakah juruselamat? Sebagian dari kalian tahu, sebagian belum tahu. Sebagian dari kalian tahu, tetapi tidak ngeh. Kalau saya ada kesempatan lagi, saya akan bicarakan mengenai ini.

Tanggapan

Stefi

Aku : Zzzzz Zzzzz Zzzzz......

TUHAN : Bangun !!!

Aku : "Hmmm.... siapa ya ?

Tuhan : AKU ??? AKU TUHAN. AKU dengar di doamu, kau ingin bicara langsung dengan-KU, maka doamu KU-kabulkan.

Aku (tertegun) : Oh, aku tidak menyangka doaku dikabulkan,. Lalu kita ada di mana ?

TUHAN : Di dalam mimpimu, ini media paling mudah untuk berbicara.

AKU (tertegun) : Ooooh...

TUHAN : KU-dengar di doamu, kau ingin mengajukan pertanyaan kepada KU. AKU ingin mendengarnya sekarang.

Aku : Benar. Bisakah sekarang kumulai ?

Tuhan : Tentu.

**Aku : TUHAN, tahukah ENGKAU bahwa dunia yg KAU ciptakan ini penuh dengan ketidakadilan. Banyak orang percaya dianiaya. Orang benar menderita. Itu tidak adil TUHAN !

TUHAN : Menurutmu, apakah adil, ketika AKU mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosamu??

Aku : Kalau begitu, semua orang benar harus menderita di dunia, begitu ?

TUHAN : Apakah penderitaan itu selamanya ? Mengapa ketika menderita manusia selalu bertanya mengapa harus aku?. Tetapi, ketika senang, mereka tidak pernah bertanya, mengapa harus aku ?"**

Aku : Kalau begitu, mengapa banyak orang jahat hidup senang ?

TUHAN : Kau yakin ?

Aku : Ya... walaupun tidak semua ...

Tuhan : Kalau begitu, cobalah jadi jahat, dan lihatlah, seberapa lama kau akan senang, kau bisa membuktikannya sendiri.

**Aku : Hidup ini terlalu rumit untuk dijalani, mengapa KAU selalu mendatangkan cobaan dan masalah?

TUHAN: Masalah KU-datangkan bukan untuk disesali dan dikeluhi, tapi untuk diselesaikan. Cobaan KU-datangkan untuk menunjukkan adanya diri-KU, dan perlunya berserah pada-KU.

Aku : Tapi, setiap masalah datang, Aku selalu berdoa meminta jalan keluar. Tetapi, kadang KAU tidak memberinya ? Mengapa ?

TUHAN : Mengapa ? Pertanyaan bagus! Mengapa setiap firman yang KU-perintahkan padamu, kau tidak pernah melakukannya atau selalu menunda-nunda ? Sebelum engkau menuai, menaburlah terlebih dahulu. **

Aku : Mengapa manusia tidak pernah puas terhadap dirinya ?

TUHAN : "Manusia tidak akan menyadari betapa berharganya sesuatu, sampai mereka kehilangan semuanya.

Aku : Karena itulah TUHAN, mengapa penyesalan selalu datang terlambat ? Itu menyebalkan...

TUHAN : Kalau belum terlambat, bukan penyesalan namanya. Kalau belum menyesal, manusia tidak akan pernah tahu dimana letak kesalahannya.

Aku : Memang benar. Tapi, penyesalan selalu mendatangkan penderitaan.

TUHAN : Ketika penyesalan datang, manusia diberi 2 pilihan. Pertama, segera bangkit dan meninggalkan duka-citanya. Itu membuat manusia makin kuat dan terasah. Kedua, berkata : Aku tidak kuat, beban ini terlalu berat untuk dijalani. itu mendatangkan penderitaan.

Aku : Perlukah aku memelihara doa dan waktu untuk-MU setiap harinya ?

Tuhan : Perlukah AKU mejagamu dan mengawasimu setiap harinya ?

Aku : TUHAN, seringkali aku sudah berusaha dan berusaha, tapi selau gagal ! Mengapa ?

TUHAN : Berapa kali kau mencoba ?

Aku : Katakanlah 10 kali.

TUHAN : "Bagus. Kalau begitu kau sudah mengetahui 10 cara yg tidak berhasil. Jangan samakan kegagalan dengan pengalaman. Manusia tidak pernah gagal, sampai dia berhenti berusaha.

Aku : Tapi, semua itu terlalu beresiko TUHAN. Setiap usaha mempunyai resiko.

TUHAN : Sesungguhnya, ketika kau takut mengambil satu resiko, kau telah mengambil resiko yang tersisa, yaitu kau tidak akan pernah berhasil !

Aku : Kalau begitu, bagaimana cara mendapat kesenangan hidup ?

TUHAN : Cintailah dirimu sendiri, dan senantiasa bersyukur. Hidup ini sebenarnya indah. Jika masalah datang, jangan biarkan masalah menguasai dirimu, tetapi belajarlah menguasai masalah. Ah, waktu kita habis, kau sudah harus bangun pagi...

Aku : Kapan kita bisa berbicara seperti ini lagi ?

Tuhan : Kapanpun. Sebenarnya jarak Kita hanya dipisahkan oleh doa.

Aku : Oke, terima kasih TUHAN atas pembicaraan yg indah ini.

TUHAN : Sama-sama.

Aku pun terbangun dari mimpiku......

TUHAN Memberkati

Beri tanggapan