Search form

Murka Allah 2: Manusia menindas kebenaran dengan kejahatan

18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. - Roma 1:18-20

Empat bulan yang lalu saya sudah bicara mengenai ayat 18 secara sekilas. Ayat 18 mengatakan Allah marah kepada kefasikan dan kejahatan manusia. Apa itu fasik? Fasik berarti kurang ajar terhadap Allah. Apa itu jahat? Jahat, (atau lalim dalam Alkitab Terjemahan Baru) adalah tindakan-tindakan yang melanggar hukum kemanusiaan. Apa itu fasik? Fasik adalah sikap menolak Tuhan, tidak takut akan Tuhan. Apa itu jahat? Jahat adalah perbuatan yang dilakukan maupun yang masih tinggal sebagai niat dalam hati, sebagai hal yang tidak benar. Fasik lain dengan jahat. Banyak orang kira kalau ketemu kata fasik dalam Alkitab, itu artinya jahat.

Tuhan memberikan 10 hukum kepada Musa, 4 hukum pertama adalah mengenai hubungan manusia dengan Tuhan. Hukum 5 sampai terakhir adalah mengenai hubungan manusia dengan manusia. Fasik, yang berarti manusia kurang ajar terhadap Tuhan, melanggar hukum pertama hingga keempat. Sedangkan jahat, yang berarti manusia punya niat yang tidak baik terhadap sesamanya, ini melanggar hukum kelima hingga kesepuluh.

Fasik tidak tentu atheis, tetapi atheis termasuk di dalamnya. Saya sejujurnya sering lebih menghargai beberapa orang-orang atheis daripada kebanyakan orang Kristen. Mengapa? Karena banyak atheis memiliki pikiran yang cukup tajam, terlatih dan pintar (walaupun salah). Atheis banyak menanyakan pertanyaan tajam yang kebanyakan orang Kristen tidak bisa jawab. Sementara banyak orang Kristen hanya bisa menghina para atheis, tetapi tidak pernah mau belajar. Apa sebabnya? Karena banyak pendeta kalau lihat jemaatnya suka belajar banyak, ia berkata, Kamu jangan pintar-pintar, nanti jadi atheis. Akibatnya orang Kristen banyak yang bodoh. Akibatnya lagi, orang bukan Kristen yang pintar tidak mau jadi Kristen, karena lihat sampelnya orang Kristen kok bodo-bodo.

Kalau begitu atheis lebih baik dong? Tidak. Atheis juga banyak yang bodo. Orang-orang Kristen banyak yang bodoh, tidak berarti Kekristenan itu rendah. Sepertinya memang kamu lihat lebih banyak ilmuwan adalah atheis. Tetapi Orang Kristen yang sejati (bukan yang sudah ditipu pendeta semacam yang telah saya katakan tadi) punya kunci untuk memahami alam secara utuh, yang orang atheis sampai kapanpun tidak akan punya. Kunci apa? Saya tidak ada waktu membahas itu sekarang.

Kemudian dikatakan, manusia menindas kebenaran dengan kejahatan. Kebenaran ini adalah kebenaran truth, yaitu fakta yang begitu jelas. Alkitab ini aneh sekali. Lawannya kebenaran (truth) seharusnya kebohongan (lies). Sedangkan kejahatan (adikia - unrighteousness) seharusnya lawannya kebaikan (dikaiosune - righteousness). Tapi di sini dikatakan, kebenaran ditindas oleh kejahatan. Aneh. Ini sepertinya tidak cocok. Bukankah lebih cocok: Kebenaran ditindas oleh kebohongan? Bagaimana kita mengerti hal ini? Mengapa kebenaran dilawankan dengan kejahatan, bukan kebohongan?

Nah, kebenaran (truth) yang dimaksud dalam ayat ini adalah kebenaran tentang Allah. Apa faktanya? Faktanya adalah, Allah ada. Allah pencipta seluruh alam semesta. Allah itu yang berkuasa atas ciptaan.

Mengapa manusia yang jahat bisa menindas fakta bahwa Allah ada? Apa hubungannya? Saya mengerti hal ini dari percakapan antara dua orang profesor berikut.

Suatu ketika seorang profesor, namanya Ron Carlson, selesai memberikan ceramah mengenai kesalahan-kesalahan Darwinisme, yaitu ajaran Darwin tentang evolusi. Lho kok tadi ngomongin Allah ada kok nyambungnya Darwinisme? Karena filosofi dalam Darwinisme menolak adanya Allah. Nah, Ron Carlson makan sambil berbincang-bincang dengan seorang profesor biologi yang menghadiri ceramahnya. Carlson bertanya kepadanya, Bagaimana menurutmu ceramahku tadi?1

Yah, yang kamu ngomong tadi benar dan sangat masuk akal. Tapi saya tetap akan mengajarkan Darwinisme.

Lho, kenapa?

Oh, itu, karena Darwinisme lebih nyaman secara moral.

Maksudmu?

Maksudku, kalau Darwinisme benar, jika tidak ada Tuhan dan kita semua muncul dari ganggang hijau berlendir, maka saya bisa tidur dengan siapa saja yang saya inginkan. Dalam Darwinisme, tidak ada tanggungjawab moral.

Melalui percakapan ini saya mengerti, bahwa inilah pola yang dilakukan manusia. Julian Huxley, seorang tokoh biologi abad 20, yang merupakan cucu dari Thomas Henry Huxley mengatakan, Alasan kami menerima Darwinisme, bahkan secara tanpa bukti, adalah karena kami tidak mau Allah ikut campur dalam urusan seks kami.

Manusia punya hasrat untuk melakukan kejahatan sebebasnya. Manusia punya keliaran dalam dirinya untuk melakukan hal yang jahat yang ia inginkan. Manusia ingin membunuh siapa saja yang ia benci. Oh, masa sih, saya tidak begitu. Kamu tidak begitu? Waktu kamu begitu kesal dengan orang lain, kamu mengatakan, mati aja deh lu. Itu menunjukkan suatu hasrat dari dalam hatimu, yang karena masih terbatas dalam norma-norma masyarakat sajalah, maka kamu tidak melakukannya.

Saya kadang-kadang dengar kamu mengkritik pejabat-pejabat pemerintah yang banyak korupsi. Benarkah mereka korupsi? Benar. Pantaskah dikritik? Pantas. Tetapi kamu yang banyak kritik, sendirinya menyontek. Sama-sama tidak jujur. Saya berani katakan, pada waktu kamu dihadapkan situasi yang sama seperti para pejabat itu, mungkin kamu juga tidak akan tahan dan melakukan korupsi. Mengapa? Karena pada dasarnya hatimu jahat. Sekarang kesempatan yang ada hanya untuk nyontek, maka kesempatan itu kamu telah gunakan semaksimal mungkin. Nanti, akan ada kesempatan yang lebih besar lagi untuk kamu tipu orang. Mengapa? Karena dalam hatimu tersimpan hasrat yang jahat. Kalau ada ajaran bahwa Oh, semua manusia itu pada dasarnya baik, cuma masyarakat yang membentuknya jadi tidak baik. Saya sangat meragukan ajaran itu.

Kesukaanmu melihat gambar porno adalah merupakan hasrat dalam dirimu untuk menikmati seks dengan siapa saja yang kamu mau. Tapi saya tidak pernah melakukannya kok. Benar, tetapi seandainya dalam masyarakat tidak ada lagi batasan, kamu akan melakukannya. Kita semua punya hasrat yang jahat dalam hati kita. Ada orang dididik dengan baik untuk mengendalikan hasrat itu, ia jadi orang yang lebih suci. Tetapi ada orang lain yang tidak dididik dalam hal ini, sehingga ia selalu merasa hasrat ini harus dipuaskan, ia mungkin jadi orang jahat. Tetapi yang lebih suci atau yang lebih jahat, dua-duanya jahat. Karena kalau mau jujur, walaupun tidak melakukan, tetapi dalam hati tersimpan begitu banyak sampah kejahatan yang busuk yang kotor, yang kalau kondisi memungkinkan, akan melakukan satu per satu hal yang jahat.

Lalu siapakah penghalang terbesar? Papamu? Mamamu? Gurumu? Masyarakat? Bukan. Penghalang terbesar adalah Tuhan Allah. Hati manusia sadar, bahwa Allah ada. Hati manusia sadar, bahwa Allah adalah pencipta, yang harus dihormati dan disembah. Tetapi hati manusia juga sadar, bahwa Allah adalah penghalang terbesar untuk kejahatan dan keliaran hati kita.

Lalu bagaimana? Saya ingin hidup sebebasnya. Tetapi ada Polisi pengawas. Namanya Tuhan Allah. Mau bunuh Tuhan? Tidak bisa. Hati nuranimu sadar akan hal ini. Lalu bagaimana solusinya? Maka manusia mulai menipu diri. Tidak ada Allah.

Lalu manusia ditanya, Benarkah Allah tidak ada?

Hati nurani menjawab, Ada sih.

Lalu mengapa bilang tidak ada?

Karena kalau Allah tidak ada, saya bebas lakukan apapun yang saya mau.

Jadi, Allah ada. Allah mencipta manusia, dan Allah adalah yang seharusnya disembah. Namun Allah benci dengan kefasikan manusia, yaitu penolakan manusia kepada Allah. Allah juga benci dengan kejahatan manusia, yaitu segala hasrat dalam diri mereka untuk membuat kejahatan. Dan manusia yang dalam dirinya jahat, sadar bahwa Allah adalah musuh mereka. Lalu jalan keluarnya? Manusia tidak punya jalan keluar. Hanya bisa menyangkali fakta bahwa Allah ada.

Beri tanggapan