Search form

Murka Allah 1: Allah marah pada manusia berdosa

18 Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. 19 Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. 20 Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. - Roma 1:18-20 Bagian Firman Tuhan ini saya terjemahkan kembali agar lebih mudah dimengerti.

18 Kemarahan Allah sudah dinyatakan dari Sorga melawan segala kefasikan dan kejahatan manusia yang telah menindas kebenaran dengan kejahatan mereka. 19 Sebab apa yang mungkin mereka ketahui tentang Allah sudah sangat jelas bagi mereka, karena Tuhan telah membuatnya tampak sangat jelas. 20 Sejak penciptaan dunia, sifat-sifat Allah yang tidak kelihatan, yaitu kekuatanNya yang kekal dan keilahianNya, telah jelas terlihat dan dapat dimengerti melalui segala yang telah diciptakan, karena itu manusia sebenarnya tidak dapat berdalih.

Apa maksudnya bagian ini? Bagian ini ditulis oleh Paulus dalam suratnya kepada orang-orang Kristen di Roma. Dalam suratnya ini Paulus berusaha menjelaskan sejelas mungkin tentang rencana global Allah atas dunia ini. Allah - sang Pencipta langit, bumi, dan dirimu - punya rencana yang besar. Dan kamu adalah satu bagian kecil dari rencana Allah itu.

Allah marah. Mengapa marah? Marah kepada siapa? Seringkali kalau ada orang marah dengan kita, kita hanya pikir satu sisi: Dia marah padaku, tetapi kita lupa kita harus bertanya juga, Mengapa dia marah? Tetapi kali ini bukan temanmu yang marah. Allah.

Hari ini kamu dengar Firman yang berbeda dari yang kamu sering dengar di gerejamu, yang seolah-olah Tuhan selalu membelai-belai kamu di dalam pelukanNya. Allah marah, dan kemarahanNya itu sudah ditunjukkan.

Pertama, kita coba mengerti, kepada siapa Allah marah. Kalau kita baca hati-hati, kita akan menemukan Allah marah terhadap 2 hal: kefasikan dan kejahatan manusia. Kalau Allah marah terhadap 2 hal ini, apakah berarti Allah tidak marah terhadap manusia? Pernahkah kamu mendengar ungkapan, Tuhan benci dosa, tetapi Tuhan tidak benci orang yang berbuat dosa? Ungkapan seperti ini tidak cocok dengan Alkitab. Lain dengan kalau kita katakan Kita harus benci dosa, tetapi kita tidak boleh benci orangnya, itu Alkitabiah. Tapi kalau kitanya diganti Tuhan, itu tidak Alkitabiah. Tuhan benci orang berdosa. Itu ada di Mazmur 5:5. Tetapi bencinya Tuhan lain sama kamu. Kalau kamu benci orang, kamu pingin dia cepat-cepat mati. Tapi kalau Tuhan, Tuhan masih dengan sabar berbuat baik terhadap orang itu, memberinya anugrah, kesempatan yang banyak untuk bertobat. Makanya orang jahat kadang-kadang bisa berumur panjang, karena Tuhan beri dia kesempatan untuk bertobat. Sayangnya, sering ia bukan bertobat tapi malah lebih banyak berbuat dosa.

Lho, kalau begitu Tuhan yang salah dong, mustinya dimatikan, tapi malah diberi kesempatan, akhirnya jadi tambah dosa, dan merugikan banyak orang. Hati-hati, sekarang kita lagi bicarakan tentang orang berdosa diberi kesempatan, kamu bilang Tuhan salah. Tapi di lain waktu, ketika sedang bicarakan Tuhan menghukum Sodom dan Gomora dengan hujan api, kamu bilang Tuhan salah juga. Jadi Tuhan selalu salah, begitu kan? Akhirnya, supaya Tuhan tidak terus menerus disalahkan, Tuhan matikan kamu. Jadi jangan sampai salah. Tuhan benci orang berdosa. Kita tidak boleh membenci orang berdosa karena kita juga sama-sama orang berdosa. Kalau begitu Tuhan benci kita?

Sekarang di sini ada kata kefasikan. Apa itu fasik? Kefasikan berarti sikap yang menghina Tuhan. Kefasikan adalah tidak berTuhan. Apakah ini berarti ateis? Tidak harus. Ateis termasuk di dalamnya, tetapi tidak hanya ateis. Ini mencakup orang-orang beragama yang tidak sungguh-sungguh mencari kehendak Tuhan. Mungkin ia percaya Tuhan ada, tetapi ia tidak peduli.

Lalu ada kejahatan. Kejahatan di sini berarti adalah tindakan-tindakan yang jahat. Tetapi jangan mempersempit artinya dengan pembunuhan dan pemerkosaan. Kejahatan dalam Alkitab, bukan hanya mencakup tindakan kriminal, tetapi lebih luas dari itu, mencakup niatmu, motivasimu, yang tidak mungkin diketahui orang.

Lalu, mengapa Allah marah pada orang-orang fasik dan jahat? Karena mereka menindas kebenaran. Apakah artinya menindas kebenaran? Begini. Kalau kamu menemukan kata kebenaran dalam Alkitab bahasa Indonesia, sebenarnya ada dua macam kata dalam bahasa aslinya. Ada dikaiosune, yang dalam bahasa Inggris righteousness, ada juga aletheia, yang dalam bahasa Inggris truth. Apa perbedaannya? Saya ringkaskan, righteousness berbicara tentang right or wrong. Sedangkan Truth berbicara true or false. Righteousness adalah mengenai tindakan kamu benar atau salah. Truth adalah mengenai fakta benar atau salah.

Suatu ketika Bomi begitu marah dengan temannya, lalu ia ambil pisau dan membunuh temannya. Ia pun ditangkap polisi. Polisi bertanya, Saudara Bomi, benarkah Anda membunuh? Bomi lalu menjawab, Oh, tidak pak, membunuh itu tidak benar. Polisi sedang menanyakan fakta: true or false, tetapi Bomi menjawab tentang righteousness: right or wrong. Apakah perbuatan membunuh itu benar atau salah. Dalam bahasa Indonesia sulit sekali membedakan itu. Akhirnya polisi berkata, Jaka sembung makan mi. Nggak nyambung Bomi.

Kata kebenaran yang dipakai di ayat ini adalah kebenaran truth. Kebenaran fakta. Kebenaran fakta lebih mudah diuji daripada kebenaran righteousness. Itulah mengapa kamu tidak perlu memperdebatkan apakah benar . Tetapi orang berdebat mengenai apakah kloning boleh tidak. Mengapa? Karena masalah kloning adalah masalah right or wrong. Sementara adalah masalah true or false. Masalah sosial lebih sulit diuji, maka perlu pikiran yang sangat tajam untuk memikirkannya. Jadi kalau kamu rasa dirimu bodo, lalu kamu pikir, Ah, gua bodo, mendingan masuk IPS, itu hal yang wrong.

Jadi, fakta relatif lebih mudah diuji daripada masalah right or wrong. Dan Tuhan mengatakan, mereka telah menindas kebenaran faktual ini. Apa maksudnya? Karena orang-orang berdosa, mereka sudah melihat bukti. Mereka sudah melihat fakta. Fakta berbicara Tuhan ada. Saya lihat banyak orang berdebat apakah Tuhan ada atau tidak. Bagi saya sebenarnya ada perdebatan yang lebih menarik, yaitu apakah atheis itu ada atau tidak. Karena saya pikir, orang tidak mungkin 100% atheis, karena dalam hatinya pasti ada kesadaran, Tuhan ada. Maka jangan heran kalau kamu bertemu dengan seorang atheis berkata, Sumpah demi Tuhan, saya atheis.

Tetapi saya pribadi lebih banyak menghargai orang-orang atheis, dan banyak menghina orang Kristen. Mengapa? Lihatlah begitu banyak orang atheis yang menjadi ilmuwan. Mengapa Kristen tidak? Karena pendetanya bilang, Jangan pinter-pinter, nanti jadi atheis. Nah, itu pembodohan yang dilakukan oleh pendeta-pendeta yang tidak bertanggung jawab. Padahal, orang Kristen sejati, punya kunci ilmu pengetahuan, yang orang atheis tidak punya. Tapi saya tidak bicarakan itu sekarang.

Allah marah karena apa? Karena mereka menindas kebenaran. Kebenaran yang jelas bagi mata mereka. Kebenaran bilang Tuhan ada. Lalu mereka bilang Tidak, tidak ada! Kebenaran sedang ditindas, dibungkam, ditutup mulutnya, karena mereka tidak mau menerima kebenaran. Sama seperti ketika kamu kehilangan orang yang kamu cintai. Misalnya, pacarmu meninggal dalam kecelakaan pesawat. Kamu akan merasa begitu sedih, kemudian kamu mengatakan, Tidak! Pasti salah orang! Pasti belum mati! Pasti masih ada di suatu tempat! Kamu menindas fakta bahwa ia sudah meninggal. Demikian juga orang fasik menindas kebenaran bahwa Allah ada, dan Allah itu harus disembah.

Kalau begitu, pertanyaan saya, siapakah orang fasik dan jahat ini? Setiap manusia telah menindas kebenaran. Setiap manusia tidak peduli dengan Allah, hatinya hanya memikirkan masa depan diri sendiri. Orang fasik dan jahat itu adalah kita. Jadi kepada siapa Allah marah?

Beri tanggapan