Search form

Lalu kenapa kalau konsisten?

Hubungan konsistensi dan kebenaran

Audiens

Sekarang mungkin kamu bertanya, lalu kenapa kalau konsisten? Apakah ini berarti sesuatu?

Yang benar pasti konsisten,
tetapi yang konsisten belum tentu benar,

Yang tidak benar bisa saja konsisten,
tetapi yang tidak konsisten pasti salah.

Kebenaran bersifat konsisten

Konsistensi dari sesuatu bisa menunjukkan kebenaran dari sesuatu.

Mengapa kamu bisa tahu bahwa kamu sedang dibohongi? Karena kamu menemukan ketidakkonsistenan. Kamu tentunya akan terkejut ketika seseorang meneleponmu dan mengatakan bahwa adikmu sedang ditangkap polisi, dan polisi meminta tebusan 20 juta agar adikmu bisa kembali. Tetapi hal yang paling membuatmu terkejut adalah kalau adikmu satu-satunya sedang makan kue keju di hadapanmu. Ada ketidakkonsistenan di sini, maka kamu langsung tahu bahwa orang yang meneleponmu pasti berbohong.

Mengapa kita tidak suka dibohongi? Waktu kamu kecil, kamu sudah bisa tahu sedikit bahwa kamu dibohongi oleh orang lain. Dan kamu tidak suka diperlakukan demikian. Kalau dipikir-pikir, mengapa sih kita tidak suka dibohongi? Karena kita secara alami tahu bahwa iya dan tidak itu berbeda. Bukan sekedar berbeda, tetapi juga berlawanan, sehingga tidak bisa terjadi iya sekaligus tidak. Sense seperti ini dimiliki oleh manusia normal secara alami. Sehingga anak kecilpun akan otomatis merasa janggal dengan kebohongan dan marah ketika dibohongi, terutama jika itu merugikan dirinya. Kita diciptakan dengan dorongan untuk mencintai konsistensi, dan membenci kontradiksi.

Kita memiliki dorongan untuk mencintai konsistensi, agar kita mencari kebenaran. Kebenaran bersifat konsisten.

Yang konsisten tidak tentu benar

Kalau kamu membaca sebuah cerita novel fiksi, kamu berharap bahwa cerita dalam novel itu konsisten dari awal hingga akhir. Bayangkan kamu membaca sebuah novel yang pada bagian pertamanya mengisahkan Joni yang lahir di kota Kudus, tapi di tengah-tengah novel tersebut Joni dikatakan lahir di kota Denpasar, tanpa ada keterangan apapun diantaranya. Kalau ada bagian yang menjelaskan perbedaan ini (misalnya belakangan diketahui bahwa Joni telah diculik alien dan diberi ingatan palsu), ini akan jadi novel yang menarik. Tetapi jika tidak ada penjelasan, tentunya novel seperti ini akan membuatmu bingung, karena kontradiksi. Apalagi kalau terdapat banyak elemen yang saling kontradiksi seperti ini.

Nah, sebuah novel yang tidak konsisten akan membuatmu bingung, membuang novel itu, dan memberitahu teman-temanmu untuk tidak membacanya. Tetapi sebuah fiksi yang konsisten (sekaligus menarik) dapat membuatmu tenggelam dalam ceritanya, seolah-olah itu adalah dunia nyata. Bagaimanapun, itu adalah cerita fiksi. Yang terdapat dalam novel tersebut tidak benar-benar terjadi. Novel itu bukan kebenaran. Tetapi toh, ceritanya konsisten. Dengan demikian, yang konsisten tidak tentu benar.

Karena itu, seorang tersangka pembunuhan dapat bercerita dengan sangat konsisten untuk menunjukkan bahwa ia tidak membunuh. Tetapi, masih ada kemungkinan bahwa ia berbohong.

Jadi kamu harus tetap menyadari, bahwa sekonsisten apapun suatu kumpulan informasi, tetap ada kemungkinan bahwa itu adalah kebohongan. Tetapi kamu juga harus curiga, kalau suatu kumpulan informasi sangat konsisten, jangan-jangan itu benar.

Tanggapan

http://www.restaurantvuur.nl/newsletter/goto.html?url=http://www.cheapviagra100mg1.com .BYm http://www.eib.se/knx/sidor/redirect.asp?url=http://www.usagovnews.com fPx! http://www.gastrohep.org/adverts/redirect.asp?url=http://www.gentle-angel-lessons.com 8\p$ http://gordist.org/images/get.php?go=http://www.cheapviagra100mg1.com BD2y http://gorsovet.org.ua/?goto=http://www.usagovnews.com VJH/ http://www.joinbain.com/this-is-bain/bain-expertise/external_link.asp?id=28386&url=http%3A//www.gentle-angel-lessons.com E*TX http://besplatnye-obyavlenia.ru/redirect/?go=http://www.cheapviagra100mg1.com/?p=522

Beri tanggapan