Search form

Ilustrasi perjanjian: Ketaatan anjing terhadap tuannya

Ketaatan anjing terhadap tuannya dapat membantu kita memahami perjanjian antara Allah dengan manusia.

Audiens

Suatu hari Bomi membelikan anjingnya yang bernama Kuba sebuah kue nanas yang sangat lezat. Kuba sangat senang menyambut Bomi sambil melunjak-lunjak serta mengibas-ngibaskan ekornya. Bomi berkata dengan tegas, Duduk! Lalu Kuba pun duduk. Pintar, kata Bomi sambil menepuk-nepuk kepala Kuba, lalu memberikan kue nanas kepadanya. Betapa bahagianya Kuba mendapat kue nanas itu.

Pertanyaan pertama, apakah Kuba mendapat kue itu karena ia taat? Jelas. Kalau Kuba tidak taat, misalnya ia bukannya duduk melainkan pipis di kaki Bomi, pasti Bomi sangat marah, bukan? Tidak mungkin Kuba mendapat kue nanas dengan cara seperti itu. Jadi kesimpulannya, karena Kuba taat, maka ia mendapat kue nanas.

Kesimpulan tersebut tidak salah. Namun kalau kita berhenti sampai di situ, kita akan kehilangan gambar keseluruhannya. Bukan hanya karena Kuba taat ia mendapat kue nanas. Siapakah yang berinisiatif memberi Kuba kue nanas? Bukankah itu Bomi? Ketaatan Kuba bukanlah penyebab dari perolehan kue nanas itu. Melainkan Bomilah yang sejak semula berniat untuk memberikan kue nanas itu kepada Kuba. Kuba memang sudah seharusnya taat kepada Bomi. Kue nanas itu adalah anugerah yang Bomi berikan kepada Kuba, bukan karena ketaatannya, melainkan karena Bomi menetapkan sejak semula untuk memberikan kue nanas sebagai imbalan atas ketaatan Kuba. Perhatikan bahwa niat Bomi mendahului ketaatan Kuba.

Ilustrasi semacam ini sering digunakan untuk menggambarkan sifat dari perjanjian antara Allah dan manusia. Dalam perjanjian tersebut, Allah berjanji memberikan berkat (berupa hidup kekal bersama Allah) kepada manusia, dengan syarat manusia taat. Jadi, kesimpulannya, kalau manusia taat, manusia akan dapat menikmati hidup kekal bersama Allah1. Tetapi kita harus sangat berhati-hati dengan hal ini. Sekilas memang tampak berkat itu tergantung dari ketaatan kita. Tetapi sama seperti hubungan Bomi dengan Kuba, Allahlah yang sedari semula merencanakan untuk memberikan berkat itu.

Kita taat kepada Allah karena memang sudah seharusnya demikian. Allah juga tidak wajib memberikan imbalan ketika kita taat. Namun, Allah dari semula sudah menetapkan bahwa Ia akan memberikan imbalan atas ketaatan manusia. Maka ketaatan kita bukanlah penyebab dari imbalan itu, melainkan anugerah Allah sajalah yang menjadi alasan utama Allah memberikan imbalan. Anugerah Allah mendahului ketaatan kita.


  1. Pada bagian yang lain saya sudah menjelaskan bahwa ternyata kita tidak sanggup untuk taat kepada Allah. 

Tanggapan

vera

bagus sekali, tepat menggambarkan bagaimana anugerah Allah tersedia untuk siapapun. menjadi baik bukan karena ingin mendapat imbalan, tetapi sebuah kewajaran. Tuhan memberkati pelayanan anda.

Beri tanggapan