Search form

Kejadian 1:1 - Pernyataan iman paling dasar

Pernyataan iman tentang Allah di tengah-tengah berbagai macam kepercayaan.

Audiens

Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. - Kejadian 1:1

Siapa yang akan menyangka bahwa sebuah kalimat sesederhana ini adalah kalimat kunci yang akan memisahkan berbagai kelompok kepercayaan manusia. Dalam pasal ini, kitab kejadian menyatakan iman yang berbeda dari kepercayaan- kepercayaan yang berlaku pada waktu kitab ini ditulis. Bahkan, pernyataan iman kitab Kejadian ini pun masih menantang beragam kepercayaan sampai hari ini.

Kalimat pembuka ini menantang para pembaca alkitab untuk memutuskan, haruskah ia membaca terus, atau haruskah ia berhenti? Kalau ia memutuskan untuk terus membaca, maka ia harus bertanya pada dirinya sendiri. Apakah ia akan membaca dengan sikap rendah hati dan mau belajar? Kalau demikian, ia harus rela meninggalkan sejenak kepercayaannya untuk belajar sesuatu yang baru. Jika tidak demikian, ia tidak akan dapat mengerti pembicaraan Alkitab berikutnya, karena tidak habis-habisnya sistem kepercayaannya mengalami konflik dengan yang ia baca.

Kita akan melihat beberapa macam kepercayaan yang ditentang oleh ayat ini.

Ateisme: Tidak ada Allah

Yang pertama adalah para ateis. Ateisme berarti kepercayaan bahwa tidak ada Allah. Kalimat Pada mulanya Allah ... sudah menunjukkan bahwa penulis kitab Kejadian berpijak pada keyakinan bahwa Allah ada. Tampaknya penulis kitab ini tidak tertarik untuk berdebat mengenai ada tidaknya Allah. Secara sederhana ia mengatakan, Pada mulanya Allah ..., seolah-olah ia yakin bahwa pembacanya juga setuju dengannya bahwa Allah ada. Namun justru itulah yang menjadi sebuah tantangan bagi seorang ateis untuk memutuskan, apakah ia akan membaca terus buku yang ia tidak mungkin setuju ini, ataukah ia akan berhenti dan membuangnya.

Materialisme: Hanya ada materi saja

Sebagian orang beranggapan bahwa dalam dunia ini hanya ada materi saja. Artinya, tidak ada hal-hal di luar materi seperti misalnya roh. Apalagi Allah. Bukan berarti penganut materialisme tidak menerima bahwa ada hal-hal seperti cinta kasih, bijaksana, keadilan, perasaan, yang semuanya memang bukan sesuatu yang berwujud materi. Tetapi hal-hal non-materi seperti itu dinilai sebagai akibat dari susunan, pergerakan, dan interaksi antar materi. Mungkin mereka meyakini bahwa pikiran kita muncul hanya sebagai akibat transmisi sinyal-sinyal elektrik dari satu sel saraf ke sel saraf yang lain. Atau, perasaan jatuh cinta yang kita alami adalah akibat respon kita terhadap hormon feromon, atau dilepaskannya hormon oksitosin dan serotonin dalam jumlah besar.

Kita belum benar-benar tahu apakah memang materi adalah satu-satunya sumber perasaan dan pikiran kita1. Tetapi kecenderungan kita mereduksi segala sesuatu ke dalam materi sedikit banyak dipengaruhi oleh filsafat materialisme ini.

Kitab kejadian langsung dibuka dengan kalimat Pada mulanya Allah menciptakan ..., menjadi suatu kalimat yang menentang penganut materialisme radikal ini. Penulis kitab Kejadian meyakini bahwa materi ada karena diciptakan oleh yang bukan materi, yaitu Allah.

Panteisme: Allah adalah alam

Panteisme adalah kepercayaan bahwa alam ini adalah Allah itu sendiri. Kita tidak perlu mencari-cari di mana Allah berada, karena ini semua adalah allah. Bumi, rumah kita, bahkan diri kita sendiri, disatukan dalam keseluruhan, adalah allah itu sendiri.

Pandangan panteisme tidak kompatibel dengan pernyataan Alkitab, Allah mencipta langit dan bumi. Ayat tersebut sudah mengatakan pada kita posisi penulis bahwa langit dan bumi bukanlah Allah, melainkan suatu ciptaan.

Panenteisme: Alam adalah bagian dari Allah

Agak mirip dengan panteisme, panenteisme juga memperlakukan alam sebagai allah, namun bukan sebagai keseluruhan allah. Alam dipercaya sebagai bagian dari allah.

Pernyataan Alkitab bahwa Allah mencipta langit dan bumi juga menentang panenteisme. Karena langit dan bumi dicipta, berarti langit dan bumi bukanlah bagian dari Sang Pencipta, melainkan sesuatu yang terpisah dari Sang Pencipta.

Politeisme: Ada banyak Allah

Kata Allah dalam pembukaan kitab kejadian bahasa aslinya adalah Elohim. Kata itu dalam bahasa Ibrani berarti Allah-allah (jamak). Apakah ini berarti penulis Kitab Kejadian percaya ada banyak Allah? Kalau dilihat sekilas tampaknya seperti itu. Namun ada kebiasaan masa itu orang menyebut dewa dengan sebutan jamak, karena dianggap begitu mulia sehingga tidak boleh disebut dengan sebutan tunggal.

Namun yang paling penting adalah penggunaan kata kerjanya. Kata kerja mencipta yang digunakan di sana adalah kata kerja untuk subjek tunggal (singular)2. Sehingga, melalui ayat ini kita bisa mengetahui dengan jelas bahwa penulis Kitab Kejadian mempercayai bahwa hanya ada satu Allah saja yang menciptakan langit dan bumi. Langit dan bumi merupakan ungkapan yang artinya seluruh alam semesta.

Pada masa itu bangsa-bangsa di sekeliling Israel menyembah banyak Allah. Mereka membagi-bagi alam menjadi wilayah-wilayah yang begitu banyak dan masing-masing dikuasai allahnya sendiri. Ada dewa gunung. Ada dewa lautan. Ada dewa kesuburan, dan sebagainya. Di antara banyak kepercayaan seperti itu, bangsa Israel muncul sebagai bangsa abnormal yang hanya menyembah satu Allah saja, dan di manakah wilayah kekuasaannya? Seluruh alam semesta!


  1. Saya berpendapat bahwa sekalipun semua itu adalah merupakan aktivitas materi, itu tidak akan mengurangi kemuliaan manusia sebagai gambar Allah. Mengapa? Karena semakin kita mengetahui mekanisme segala sesuatu, semakin kita sadar betapa kompleks mekanisme kehidupan. 

  2. Ini dapat diibaratkan seperti dalam bahasa Inggris seharusnya kita mengatakan they are (subjek dan kata kerja plural) tetapi kita mengatakan they is (subjek plural tetapi kata kerja singular). 

Tanggapan

Allah itu berarti tuhn, yang satu tidak beranak dan tidak di peranakan

ingat tuhan itu hanya satu, dari zaman nabi adam hingga nabi muhammad saw hanya menyembha satu tuhan yakni Alloh SWT yang seharusnya hingga saat ini semua manusia pun ,elakukan hal yang sama

Beri tanggapan