Search form

Kebaikan apa yang sering kamu abaikan?

Menerima kebaikan orang lain juga adalah kebaikan.

Audiens

Apakah kamu baik terhadap orang lain?

Kalau kamu disuruh mendaftar kebaikan apa saja yang kamu lakukan untuk orang lain, apa yang akan kamu tulis? Mungkinkah kamu akan menjawab:

  • Menghormati orang tua
  • Mempersilahkan orang jalan duluan
  • Mengantarkan orang pulang ke rumah
  • Memuji orang
  • Menawarkan makanan pada orang lain (dan memberikannya tentu saja)
  • Meminjamkan barang yang dibutuhkan orang
  • Membantu orang mengangkat barang
  • Memperhatikan teman yang sakit
  • Dan sebagainya

Bagaimana dengan kejadian seperti ini?

Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.

Kamu tentunya setuju bahwa Bomi adalah seorang cucu yang baik. Tetapi bukan Bomi yang akan saya permasalahkan di sini, tetapi kakeknya. Kakek Bomi menolak tawaran Bomi untuk membawakan barangnya. Tidak salah sih, tetapi bagaimana jika kejadiannya seperti ini:

Senin
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Selasa
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Rabu
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Kamis
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Jumat
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Sabtu
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Minggu
Bomi
Kakek, sini biar saya bawakan kopernya.
Kakek
Sudah, tidak usah. Saya bisa sendiri kok.
Mirna
Bomi, kamu itu gimana sih! Masak kakekmu dibiarkan bawa sendiri!

Rupanya kakek Bomi, dengan tidak menerima kebaikan Bomi, telah menjerumuskan Bomi: Bomi dimarahi orang.

Menerima kebaikan orang itu baik

Ada jenis kebaikan yang mungkin kamu sering abaikan, yaitu menerima kebaikan orang lain. Ya, menerima kebaikan orang lain adalah sebuah kebaikan! Betapa banyaknya orang mengabaikan hal ini. Mereka pikir berbuat baik memiliki unsur-unsur ini:

  1. Tidak merepotkan orang
  2. Menanggung semua beban kita sendiri
  3. Menanggung beban orang lain juga

Tetapi, coba pikir bahwa kalau semua orang dalam suatu komunitas hanya menganut kedua prinsip itu, apa yang akan terjadi?

Perhatikan bahwa dua prinsip pertama tidak kompatibel dengan prinsip ketiga. Mengapa? Karena ketika kita menanggung beban orang lain (3), maka otomatis orang lain sedang merepotkan kita (¬ 1). Kalau kita masing-masing harus menanggung beban kita sendiri (2), maka tidak akan ada orang lain yang boleh kita tanggung bebannya (¬ 3). Ini bukan kebaikan!

Karena dua prinsip pertama tidak kompatibel dengan yang ketiga, maka kalau kamu menganut sistem kebaikan ini, hidupmu tidak akan utuh. Kamu tidak akan bisa bersikap adil, melainkan kamu akan berlaku berbeda pada saat yang berbeda. Kamu akan memiliki standar ganda.

Standar ganda

Mila
Bomi, kamu pulang ikut aku aja. Aku antar sampai rumah.
Bomi
Boleh. Aku ikut ya.
Di hari lain lagi, Bomi yang membawa mobil.
Bomi
Aku antar kamu pulang ya.
Mila
Tidak usah, nanti merepotkan.
Bomi
Lho, jadi kalau kamu bareng aku, kamu anggap itu merepotkan?
Mila
Iya.
Bomi
Jadi, kemarin aku ikut kamu itu merepotkan dong?
Mila
Tidak juga sih, itu lain.
Bomi
Lalu kenapa kamu tidak mau ikut? Bukan cuma kamu yang boleh berbuat baik pada orang lain.

Mila menerapkan standar ganda di sini. Standar apa? Bahwa kalau ia yang ikut orang lain, ia merepotkan. Tetapi orang lain ikut dia, tidak merepotkan. Jadi di sini Mila boleh bantu Bomi, tetapi Bomi tidak boleh bantu Mila. Ini tidak adil.

Menerima kebaikan orang berarti menghargai orang itu sebagai sesama

Nah, sebagian orang mengira bahwa menerima kebaikan orang lain berarti:

  • Malas.
  • Bergantung pada orang lain.
  • Merepotkan.
  • Membuat diri sendiri tampak lemah.

Padahal tidaklah demikian. Kalau kamu menerima kebaikan orang lain (yang tulus kepadamu, tentunya) berarti kamu sedang:

  • Menghargai orang itu.
  • Memberi nilai positif bagi orang itu.
  • Menerima orang itu.
  • Memberi kesempatan bagi orang itu untuk menjadi berguna.

Bagaimana dengan niat jahat?

Tentu saja tidak semua orang melakukan perbuatan baik dengan motivasi yang baik. Mungkin saja orang itu ingin memperalatmu. Untuk mengetahui motivasi orang kamu perlu bijaksana, yang seringkali datang dari pengalaman.

Sebagai panduan umum, terimalah dengan senang hati kebaikan orang-orang yang kamu sudah kenal. Kalau bertemu dengan orang baru, berhati-hatilah, tolaklah kebaikan yang mereka tawarkan dengan sikap hormat dan sopan. Biasanya, orang yang benar-benar berniat baik akan bisa menerimanya, sementara orang yang punya niat jahat akan mulai mendesak dan memaksa. Biasanya lho.

Apakah kebaikan orang harus dibalas?

Sering kita berpikir bahwa kebaikan orang adalah seperti hutang. Kalau orang berbuat baik pada kita, maka kita punya hutang untuk orang itu. Tentunya membalas kebaikan orang adalah hal yang baik. Hanya, ketika kita punya kerangka pikir membayar hutang, maka perbuatan baik kita tidak akan tulus. Kita berbuat baik hanya untuk memenuhi hutang kita. Setelah selesai, impas.

Ini berbahaya. Karena kamu akan punya kecenderungan menuntut orang membalas kebaikan yang kamu sudah lakukan. Ketika orang tidak membalas kebaikanmu, kamu akan mencap orang itu sebagai orang yang tidak tahu terima kasih.

Pikiran Kristen tidaklah seperti itu. Dalam pikiran Kristen, kebaikan bukanlah sebuah resource terbatas yang kalau dibagikan, harus digantikan. Dalam prinsip kekristenan, kebaikan Allah adalah tidak terbatas. Ketika setiap orang diberi anugerah, ia diberi kesempatan untuk berbagi dengan orang lain. Sewaktu orang membagi anugerah kepada kita, kita tidak ada kewajiban membalasnya. Tetapi kita punya kewajiban membagi anugerah itu kepada orang lain. Orang lain itu bisa dia juga, tetapi tidak harus. Maka kebaikan tidak dibatasi pada hubungan timbal balik.

Pikiran balas membalas ini begitu menguasai kita sehingga dalam melayani Tuhanpun kita berpikir seperti itu: Kita membalas cinta kasih Tuhan. Padahal bukan itu. Anugerah itu harus disalurkan, bukan dibalas. Kita tak mungkin membalas cinta kasih Tuhan. Seharusnya kita bersyukur kepada Tuhan, dan melakukan kebaikan untuk orang lain.

Jadi mulai hari ini tambahkanlah satu daftar kebaikan dalam daftar kebaikan yang hendak kamu lakukan, yaitu:

Menerima kebaikan orang lain.

Tanggapan

Ari

Kalau satu ayat, tentunya tidak ada ayat yang menyatakan secara gamblang apa yang dibicarakan di sini. Namun kita dapat melihat secara keseluruhan gagasan yang tersebar dalam Alkitab mengenai menerima kebaikan orang.

Misalnya, ketika Yesus mengutus murid-muridnya, ia menyuruh mereka untuk makan dan minum yang diberikan kepada mereka (Lukas 10:1-12). Melalui cara inilah Allah memelihara hidup para rasul. Dengan begitu, ada penerimaan dari tuan rumah terhadap para rasul (dengan memberikan makanan), serta penerimaan rasul terhadap kebaikan tuan rumah tersebut (dengan menerima makanan).

Jika ini mengenai sebuah kota, tindakan murid Yesus yang berikutnya akan menyusul: menyembuhkan orang sakit, bukan sebagai tindakan balas budi, tetapi sebagai berkat dari Allah kepada orang kota itu.

Dalam perjanjian lama, kita juga melihat bahwa Elia bahkan tidak segan-segan meminta roti pada janda yang miskin di Sarfat (1 Raja-raja 17:7-24). Karena melaluinya Allah memelihara Elia.

Tentu saja ini tidak berarti bahwa kita harus menerima semua pemberian orang, karena ada kalanya orang tidak memberi dengan tulus, atau bisa memanfaatkan penerimaan kita. Misalnya dalam kasus pemberian raja Sodom kepada Abraham (Kejadian 14:21-24).

Jadi ada prinsip penting yang bisa kita tarik dari Alkitab, yaitu Allah seringkali memakai orang lain untuk memberkati kita. Apalagi ketika kita telah melakukan kehendak Allah bagi seseorang, ucapan terima kasih orang tersebut sangatlah berharga karena menunjukkan penerimaan orang bukan hanya pada diri kita, melainkan juga pada Allah yang mengutus (Yohanes 13:20). Sehingga menerima pemberian sama pentingnya dengan memberi, walaupun di tempat lain dikatakan bahwa memberi adalah lebih berbahagia (Kisah Rasul 20:35).

Beri tanggapan