Search form

Hasty Generalization

Hasty generalization, atau generalisasi yang terburu-buru, adalah generalisasi yang kamu buat berdasarkan pengamatan yang terlalu sedikit.

Johan
Semua cowok pasti suka nonton film porno.

Semua cowok? Mungkin hanya dia serta beberapa temannya saja. Hati-hatilah karena generalisasi ini bisa mengubah cara kamu menilai orang lain. Karena Johan sudah berasumsi seperti itu, maka:

Indra
Saya tidak suka nonton film porno.
Johan
Munafik kamu!

Jadi karena Johan dan beberapa temannya suka nonton film porno, ia menyimpulkan bahwa semua laki-laki seperti itu. Dengan kerangka pikiran seperti itu, maka tidak logis baginya kalau Indra tidak suka nonton film porno.

Bentuk penalaran ini adalah:

Hasty Generalization
S adalah sampel yang terlalu kecil dari P
S bersifat x
∴ Semua P pasti bersifat x

Berhati-hatilah ketika menilai orang. Setiap saat kita bertemu orang, kita membuat penilaian terhadap orang itu. Sombong, ramah, baik, pintar, cantik, dan sebagainya. Ini kita lakukan secara tidak sadar, dan sebenarnya adalah hal yang wajar.

Yang berbahaya adalah, sering kita menilai orang hanya berdasarkan sedikit data.

Bomi
Enjel tu orangnya sombong ya.
Mila
Nggak kok.
Bomi
Iya. Sombong. Kamu nggak tau aja.
Mila
Kenapa kok kamu bisa bilang dia sombong?
Bomi
Iya. Habisnya dia bercerita seolah-olah dia yang paling benar.
Mila
Memang sepertinya Enjel suka bercerita seolah-olah dia yang paling benar. Tetapi itu bukan berarti dia sombong. Sudah berapa lama kamu kenal Enjel?
Bomi
Sudah 2 minggu.
Mila
Aku sudah 12 tahun.

Bomi salah menilai (di samping karena penilaian itu relatif) karena pengamatannya yang terlalu sedikit. Jika pengamatan cukup banyak tidak menjadi masalah. “Terlalu sedikit” dan “cukup banyak” di sini subjektif bagi setiap orang. Tetapi tentunya kamu setuju bahwa mengamati 1 dari 10000 adalah terlalu sedikit.

Ingatlah bahwa fallacy bisa saja menghasilkan kesimpulan yang betul.

Enjel
Bomi, tebak isinya permen rasa apa aja!
Bomi
Ambil satu ya!
Bomi
Wuih, rasa bawang! Semuanya pasti rasa bawang.
Enjel
Kok tahu? Kan baru ambil satu. Fallacy tu!

Tetapi kesimpulan yang benar, berdasarkan penalaran yang tidak tepat, adalah kesimpulan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Hanya kebetulan saja betul.

Tidak selalu sampel yang terlalu sedikit itu buruk. Untuk mendapatkan gambaran mengenai orang Indonesia yang jumlahnya ratusan juta, kita mungkin hanya mampu mengambil sampel 10000. Tetapi selama sampelnya benar-benar acak, cukup baik untuk dipakai. Maka sekarang permasalahannya bukan pada jumlah tetapi pada pemilihan sampel.

Beri tanggapan