Search form

Hak dan Kewajiban Allah

Mengapa Allah tidak melakukan kewajibanNya terhadapku?

Audiens

Dapatkah yang dibentuk berkata kepada yang membentuknya: Mengapakah engkau membentuk aku demikian? Apakah tukang periuk tidak mempunyai hak atas tanah liatnya, untuk membuat dari gumpal yang sama suatu benda untuk dipakai guna tujuan yang mulia dan suatu benda lain untuk dipakai guna tujuan yang biasa? -- Roma 9:20-21

Bahkan, Allah juga berhak melakukan terhadapmu hal-hal yang tidak mungkin kamu setujui. Allah berhak untuk membuangmu tanpa alasan. Allah juga berhak untuk menghancurkanmu tanpa alasan. Allah juga berhak menggantimu dengan yang baru ketika kamu rusak.

Lho! Mana bisa begitu! Nggak boleh dong!

Boleh. Dia pencipta.

Memangnya kamu mau dibuang?

Tidak mau. Tapi ini bukan masalah mau atau tidak mau. Ini masalah hak. Kalau kamu membuat suatu karya, kamu punya hak penuh atas karyamu itu.

Pencipta berhak atas karyanya

Pernahkah kamu menciptakan suatu karya? Mungkin kamu pernah menciptakan suatu lukisan, lagu, gambar, program komputer, artikel, puisi, dan lain-lain. Normalnya, setiap kamu menciptakan suatu karya, kamu memiliki hak penuh atas karyamu itu.

  • Kamu boleh menjualnya
  • Kamu boleh memakainya sekehendak hatimu
  • Kamu boleh memberikannya pada orang lain
  • Kamu boleh membuangnya
  • Kamu boleh merusaknya

Mengapa kamu otomatis mendapat hak tersebut? Karena itu adalah hasil karyamu. Kamu penciptanya. Ketika kamu membuang lukisanmu yang sangat indah, lalu ada orang lain berkata padamu, Jangan dong, sayang kan sudah bikin cape-cape. Kamu berhak untuk bilang, Biarin, suka-suka gua. Mengapa? Karena itu adalah hasil karyamu.

Karya yang sedang dibicarakan di sini adalah karya yang kamu buat secara independen. Kadang-kadang hal ini tidak berlaku jika kamu membuat karya tersebut atas nama orang lain atau sebuah institusi tertentu (misalnya skripsi, karya yang dilombakan, dsb).

Jika kamu (yang sendirinya diciptakan Allah) punya hak atas hasil karyamu, terlebih lagi Allah yang menciptakan kamu.

Jadi:

Pencipta memiliki hak penuh atas ciptaan.

Kalau kamu percaya bahwa kamu diciptakan Allah, konsekuensinya adalah kamu harus mengakui juga bahwa Allah yang menciptakan kamu memiliki hak sepenuhnya atas dirimu.

Kalau kamu gagal mengerti hal ini, maka pada saat-saat tertentu dalam hidupmu, kamu akan bersikap kurang ajar terhadap Allah, dan kesulitan memahami mengapa Allah memperlakukanmu demikian. Misalnya:

Aku sudah susah payah melayani Tuhan, tetapi malah menderita sakit seperti ini.

Ketika kamu menderita suatu penyakit, dan kamu sudah berdoa bertahun-tahun tetapi tidak sembuh-sembuh, bahkan semakin parah, pada saat-saat seperti itu kamu akan bertanya-tanya, Mengapa Tuhan memperlakukan aku seperti ini? Aku sudah mati-matian melayani Tuhan, tetapi ini yang aku dapat.

Kalau kamu menghadapi situasi seperti itu, apa solusinya? Ini bukan tentang solusi. Yang perlu kamu tanamkan dalam pikiranmu adalah, Allah punya hak penuh atas dirimu. Allah berhak untuk membiarkan kamu mati, disiksa, atau bahkan membuang kamu. Allah punya hak untuk melakukan semuanya itu.

Kecewa: wajar, namun tidak harus

Dalam kondisi kita yang terburuk, kamu mungkin akan kecewa kepada Allah. Hatimu pahit. Kamu mungkin tidak ingin berdoa lagi. Kamu menarik diri dari teman-teman yang dulu sepelayanan. Kamu tidak mau membaca Firman Tuhan lagi. Kamu melakukan itu dengan hati yang penuh kekecewaan, dan mungkin berharap bahwa Allah jadi peduli terhadapmu, karena pemberontakanmu. Kamu berpikir, Aku mau ngambek. Dan aku mau lihat Allah akan melakukan apa.

Kekecewaan seperti ini adalah hal yang wajar. Siapa yang tidak berat menghadapi sakit kanker? Siapa yang mudah menghadapi kehilangan orang yang dikasihi? Dan semuanya itu menjadi jauh lebih berat ketika kita merasa bahwa diri kita sudah bersikap cukup baik di hadapan Allah.

Sebenarnya, pantaskah kita kecewa? Tidak. Kita hanya ciptaan. Allah berhak membiarkan kamu berada dalam kesulitan, dan alasannya sederhana. Kita ciptaan, Allah pencipta. Ini sulit diterima bahkan oleh yang sedang menulis tulisan ini. Allah berhak penuh atas hidup kita. Kita tidak bisa mengubah apapun mengenai hal itu. Yang kita bisa ubah adalah cara pandang kita.

Kalau kamu memahami hal ini, kamu akan menjadi manusia yang berbeda. Orang yang tidak memahami hal ini, ketika hal buruk datang, ia akan kecewa terhadap Allah, lalu mengutukNya. Orang yang memahami hal ini, mungkin tetap kecewa juga, tetapi ia tidak akan berani mengutuk.

Maka berkatalah isterinya kepadanya: Masih bertekunkah engkau dalam kesalehanmu? Kutukilah Allahmu dan matilah! Tetapi jawab Ayub kepadanya: Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya. -- Ayub 2:9-10

Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain? Yesus menjawab mereka: "Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku - Matius 11:2-5

Allah tidak punya kewajiban apa pun terhadap kita

Kalau pencipta memiliki hak penuh, adakah kewajiban yang dimiliki oleh pencipta? Jawabannya: Tidak ada.

Lho, Allah kan wajib memelihara kita?

Bagian ini yang seringkali orang Kristen salah paham. Kenyataannya, Allah memang memelihara hidup kita. Tetapi, kenyataan seperti itu, jangan lalu disimpulkan bahwa Allah wajib memelihara hidup kita. Allah memang memelihara hidup kita, tetapi itu bukan kewajiban Allah, melainkan anugerah Allah.

Coba kamu renungkan cerita ini.

Menurutmu, apakah ada keharusan bagi nenek Rohman untuk membawakan mainan? Tentu saja tidak, bukan? Walaupun kenyataannya nenek Rohman biasanya datang membawa mainan, tetapi sebenarnya tidak harus seperti itu. Rohman merasa bahwa neneknya wajib membawakan mainan. Akibatnya, Rohman gagal berterimakasih untuk mainan yang ia terima selama ini, yang tidak seharusnya ia terima.

Kamu mengerti maksudnya bukan? Allah tidak punya kewajiban memelihara kita. Tetapi, kenyataannya, Allah memelihara kita. Maka jangan sampai kita seperti Rohman. Jangan sampai kita menganggap bahwa Allah wajib memberkati kita, lalu kita marah-marah ketika pada suatu saat berkat itu tidak ada. Kita harus bersikap sebaliknya, sadar bahwa karena Allah tidak punya kewajiban memberkati kita, maka kita harus bersyukur ketika berkat itu ada, dan bersikap biasa saja ketika berkat itu tidak ada. Anugerah adalah pemberian yang tidak seharusnya. Bahkan, lebih tajam lagi bisa dikatakan bahwa anugerah adalah pemberian yang tidak sepantasnya. Manusia berdosa seperti kita ini tidak pantas menerima pemberian dari Allah. Dan Allah tidak seharusnya memberi kita sesuatu. Tetapi justru dengan Allah memberi kita sesuatu, maka itu membuktikan bahwa Allah itu baik.

Ketika kamu sakit, jangan mengatakan, Mengapa Tuhan membuatku sakit hari ini! melainkan berkatalah, Tuhan, aku bersyukur selama ini Engkau membuatku sehat. Ketika kamu kurang uang, jangan mengatakan, Tuhan jahat, membiarkan aku tidak punya uang, melainkan berkatalah, Tuhan, aku bersyukur selama ini Engkau memberi aku uang yang cukup. Tidak mudah untuk dilakukan, bukan? Karena refleks kita ketika ada sesuatu yang buruk adalah menyalahkan Tuhan. Tetapi kalau kamu mau, berdoalah agar Tuhan memberi kekuatan, dan selalu mengingatkan untuk berkata seperti itu.

Banyak hal yang kita pikir Allah wajib: Memelihara kita, mendengarkan dan menjawab doa kita, menyembuhkan kita ketika sakit, menemani ketika kesepian, menyelamatkan kita, membalaskan kejahatan orang, dan sebagainya. Firman Tuhan memang berkali-kali membicarakan hal-hal itu. Tetapi bolehkah itu disebut sebagai kewajiban Allah? Ingatlah selalu bahwa Allah adalah pencipta, dan kamu adalah ciptaan. Tidak ada hal yang wajib dilakukan Allah terhadapmu.

Kalau begitu, bagaimana dengan janji Allah? Nah, tulisan ini akan dilanjutkan sampai beberapa seri, nantikan pembahasan mengenai hal ini.

Beri tanggapan