Search form

Allah PL tidak dewasa?

Mengapa Allah dalam Perjanjian Lama terkesan galak dan mudah marah?

Audiens

Hal-hal semacam ini membuat beberapa orang sulit menerima Allah sebagai Allah: Ih, Allah kok kayak gitu ya. Apalagi dalam Keluaran 32-33, di sana sekilas tampaknya Musa lebih dewasa daripada Tuhan. Kesulitan ini bukan baru muncul sekarang. Dalam sejarah, contohnya, Marcion menganggap Allah PL dan Allah PB adalah Allah yang berbeda karena sifatnya bertolak belakang. Allah PL seperti penuh dendam, sementara di PB Allahnya penuh cinta kasih. Padahal, kalau kamu baca lebih teliti, di Perjanjian Baru pun sering lho, Allah marah. Karena itu, saya akan coba mengupas satu per satu topik jenis ini, yaitu situasi-situasi dalam Alkitab mengenai Allah yang (tampaknya) tidak dewasa.

Nah, jadi sekarang pertanyaan utamanya: Mengapa Allah melakukan itu? Kalau kita bisa jawab ini, maka mudah untuk menjawab pertanyaan lain, Mengapa Allah baru berhenti marahnya ketika Pinehas membunuh seorang Israel?, Mengapa Allah membunuh Uza?, Mengapa Elisa, nabi Allah, mengutuki anak-anak dan kutukannya jadi?, Mengapa Ananias dan Safira dibunuh Tuhan?, dan sebagainya. Mari mulai.

Allah adalah Allah, manusia adalah manusia

Jelas kan? Ini sepertinya sepele, tapi prinsip ini yang sering dilupakan orang. Allah adalah Allah, manusia adalah manusia. Manusia bukan Allah, dan Allah bukan manusia1. Allah punya posisi sendiri, manusia juga punya posisi sendiri. Alkitab punya istilah sendiri: kudus.

Allah adalah Kudus

Allah yang ciptakan kamu adalah kudus. Artinya, Allah beda dari kamu, ciptaanNya. Apa bedanya? Pertama, Allah bukan ciptaan, dan sebaliknya. Maka jelas, secara keberadaan Allah sudah berbeda dari ciptaanNya. Bingung? Begini. Kamu dengan sepedamu, apa bedanya? Ya jelas beda, kan? Kamu adalah kamu, sepedamu adalah sepedamu. Jadi ada perbedaan secara metafisik, perbedaan secara numerik, yaitu perbedaan yang memang beda dari sononya.

Kedua, Allah berbeda darimu dalam hal kualitas. Kamu dicipta segambar dengan Allah. Artinya, kamu punya kemiripan-kemiripan tertentu dengan Allah. Walaupun begitu, jelas beda kualitasnya. Ini seperti waktu kamu membandingkan baju yang terbuat dari sutra dengan yang terbuat dari tissue.

Ketiga, Allah tidak bisa bercampur dengan keburukan manusia. Jadi, manusia yang jahat, tidak bisa sembarangan datang lalu me_nemplok_ pada Allah. Sama halnya kamu yang sudah berdandan rapi mau datang kondangan, lalu ada kucing keluar dari got minta dielus-elus. Sekalipun kamu pecinta binatang, apakah kamu akan bilang: Wah kucing kotor yang lucu. Ayo sini dilus-lus dulu.

Jadi, Allah kudus, berarti Allah mutlak berbeda dari kamu. Allah berbeda dan tidak ada setara-setaranya sama kamu. Ini harus kamu ingat terus. Dan kalau kamu punya dosa, jangan harap kamu akan bisa dekat-dekat Allah.

Kalau begitu, kenapa kok orang yang tidak mandi, badan bau, penuh ee burung, bisa diterima Allah? Karena Allah Roh, maka fisik yang tidak baik tidak terlalu menjadi masalah. Tetapi ada suatu masa bangsa Israel dipisahkan yang kotor dengan yang bersih. Yang mencret, tidak boleh datang pada Tuhan. Yang datang bulan, tidak boleh datang. Yang sakit, tidak boleh datang. Mengapa? Karena memang waktu itu Allah sedang mendirikan kerajaan secara fisik. Kalau begitu ini pelanggaran HAM? Tidak. Ini tidak melanggar HAM. Hanya masalah tidak boleh datang beribadah saja. Lalu yang sakit kusta, tidak boleh campur dengan yang lain karena kalau campur bisa bikin satu negara sakit semua. Maka mau tidak mau harus diasingkan. Tapi tetap mereka dipelihara dengan baik.

Kalau begitu, Allah sombong? Kok tidak mau campur dengan kita? Hati-hati, pikiran kritis dekat dengan kurang ajar. Mengapa orang kaya kamu bilang sombong ketika tidak mau campur dengan yang miskin? Karena orang kaya dan orang miskin, dua-duanya manusia. Lha ini satunya Allah, satunya manusia. Jadi beda ya. Dan tuduhan ini tidak berdasar. Mengapa? Karena Allah yang sepertinya tidak gaul ini, jadi manusia yang bisa dekat dengan manusia lain. Namanya Yesus.

Allah berdaulat

Jadi sekarang jelas, Allah beda dengan kamu. Kalau begitu siapa lebih tinggi? Jelas lagi, Allah lebih tinggi. Bahkan, jauh lebih tinggi. Allah mencipta, kamu dicipta, jelas yang mencipta lebih tinggi dari yang dicipta. Yang dicipta, dicipta karena yang mencipta sudah mendisainnya untuk hal tertentu. Kalau begitu, sudah sewajarnya yang dicipta tunduk pada yang mencipta dalam segala hal.

Kalau begitu, berhakkah Allah sewaktu-waktu menswitch off yang dicipta? Allah berhak, karena Allah yang mencipta. Berhakkah kamu sewaktu-waktu menghapus lukisan yang telah kamu buat? Tentu saja, bukan? Memang, Allah tidak akan sembarangan semaunya menghancurkan kamu tanpa alasan, karena Allah adalah Allah yang bijaksana dan baik. Tetapi kalaupun Allah memperlakukanmu secara sembarangan (kalaupun, lho. Jadi tidak akan), maka itu tetap adalah hakNya.

Allah memberi petunjuk mengenai bagaimana manusia harus berhubungan dengan Allah

Nha ini. Allah bukan Allah yang sembarangan suruh orang tunduk. Allah sudah memberi petunjuk bagaimana manusia harus bersikap.

Sama halnya waktu kamu berteman baik. Kalau ada hal yang kamu tidak suka, kamu katakan pada temanmu. Demikian juga kalau ada hal yang kamu suka. Mengapa? Supaya hubungan menjadi baik. Supaya ia jangan melakukan hal yang kamu tidak suka. Begitu bukan?

Pernahkah kamu melakukan hal yang sama terhadap musuh? Hai musuhku, aku tidak suka kamu ngomong pedes. Jangan ulangi lagi ya... Begitu? Tidak. Yang ada: Awas nanti, kalau dia berani ngomong lagi, bakalan aku robek mulutnya.

Seperti halnya kamu dengan temanmu, Allah juga begitu terhadap manusia. Allah berikan petunjuk, apa yang Ia suka, apa yang Ia tidak suka. Berarti, kamu bisa simpulkan sendiri, bagi Allah manusia itu teman atau musuh.

Ini bukti Allah mengasihi kita. Kalau Allah tidak mengasihi, Allah tidak akan bicara banyak, langsung hukum padahal kita tidak tahu. Karena Allah mengasihi, maka Allah beritahu kita apa yang Ia suka maupun tidak suka, agar kita lakukan yang Allah suka, dan tidak lakukan yang Allah tidak suka. Perbedaan PL dan PB, waktu di PB semua yang Allah suka maupun tidak suka sudah dipenuhi oleh Yesus. Maka ketika kita di jaman sekarang melakukan yang Allah tidak suka, Allah tidak menghukum kita seperti waktu di PL. Lalu hukumannya dikemanakan? Hukumannya diberikan kepada Yesus Kristus di kayu salib. Lho kok lucu? Bukankah tadi katanya Yesus yang memenuhi suka tidak sukanya Allah? Nah, mengenai ini lain waktu saja saya bahas.

Jadi?

Dengan kamu memahami hal-hal ini, kamu akan terhindar dari menuduh Allah yang enggak-enggak. Tulisan ini tidak berhenti di sini. Saya akan menyoroti satu per satu sebanyak mungkin kasus-kasus Allah tidak dewasa dalam Alkitab.


  1. Tetapi jangan campur adukkan hal ini dengan doktrin Yesus 100% Allah, 100% manusia. Mengenai ini akan dibahas lain waktu. 

Tanggapan

Pak Ari pernah baca buku "History of God'-nya Karen Amstrong?

Seingat saya di sana ada pembahasan tentang Allah PL dan PB seperti itu tapi saya sendiri juga belum selesai bacanya. Jadi saya masih agak kurang paham.

Ari

Wah saya belum pernah baca bukunya, baru pernah baca resensinya. Mungkin juga belum akan baca dalam waktu dekat. Hohoho.

Beri tanggapan