Search form

Allah membuat neraka = Allah kejam?

Apakah Allah salah mengambil keputusan dengan menciptakan neraka?

Audiens
Allah adalah Allah yang jahat!
Mengapa kamu berkata seperti itu, Domi?
Karena Allah menciptakan neraka. Kalau Allah baik, maka Allah tidak akan menciptakan neraka. Mengapa Allah harus menghukum manusia sekejam itu? Allah jelas-jelas tidak punya kasih.
Sebentar. Hari ini aku belum bertanya kabarmu. Bagaimana kabarmu hari ini?
Baik. Sangat baik. Belum pernah sebaik ini.
Tidak heran kamu berpendapat bahwa Allah kejam karena menciptakan neraka.
Maksudmu?
Mari kita temui Roni. Ia baru saja dirampok rumahnya.
Di rumah Roni.
Halo, Roni.
Hai. Aku sedang tidak ingin bicara dengan kalian.
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Buruk. Aku berharap perampok itu kalau bisa dipukuli saja sampai babak belur. Kemudian dimasukkan ke dalam karung, dan ditenggelamkan ke sungai. Tentu saja setelah ia mengganti uang dan barang-barang yang ia ambil. Sudahlah, aku sedang tidak ingin bicara dengan kalian. Kalian pulang saja.
Bagaimana menurutmu si Roni tadi?
Aku tidak mengerti maksudmu.
Baiklah. Sekarang aku ajak kamu menemui Giba. Kedua orang tuanya baru saja dibunuh.
Di rumah Giba.
Halo, Giba.
Mengapa kalian kemari?
Bagaimana perasaanmu sekarang?
Giba
Aku sayang sekali dengan orang tuaku. Hari ini kami mau pergi bersama. Aku harap pembunuh mereka mati dengan cara yang mengerikan. Aku harap ia mati digilas truk dengan seluruh isi tubuhnya keluar, kemudian dimakan anjing. Bisakah kalian tinggalkan aku? Aku ingin sendirian.
Ok.
Bagaimana menurutmu, Domi?
...
Kalau kamu yang mengalaminya, apa yang kamu harapkan?
Aku mengerti. Kalau aku yang mengalaminya, aku akan berharap orang itu dihukum selamanya di neraka.
Tepat sekali. Neraka diciptakan Allah bukan karena Allah kejam. Allah menciptakan neraka untuk menghukum orang-orang yang jahat. Orang-orang yang menderita karena diperlakukan tidak adil oleh orang lain, ia berharap akan ada keadilan yang dinyatakan. Keadilan berarti orang jahat harus dihukum karena kejahatannya.
Oleh karena penindasan terhadap orang-orang yang lemah, oleh karena keluhan orang-orang miskin, sekarang juga Aku bangkit, firman TUHAN; Aku memberi keselamatan kepada orang yang menghauskannya. - Mazmur 12:5
Jadi ada konsep benar-dibela jahat-dihukum.
Benar. Mengapa kamu ingin membalas orang yang berbuat tidak adil kepadamu?
Karena aku ingin diperlakukan dengan adil.
Jadi dalam hati kecil kita, kita ingin diperlakukan dengan adil. Kalau tidak, maka kita ingin membalas. Tetapi ketika kita tidak mampu membalas, kita berharap ada suatu kuasa di atas diri kita yang akan melaksanakan hukuman terhadap orang yang jahat terhadap kita, dan membela kita berdasarkan kebaikan yang kita lakukan.
Jadi itu tujuan Allah mencipta neraka?
Bukan, tujuannya bukan untuk membalaskan kita. Tetapi karena orang itu bersalah dan harus dihukum.
... dan mereka yang telah berbuat baik akan keluar dan bangkit untuk hidup yang kekal, tetapi mereka yang telah berbuat jahat akan bangkit untuk dihukum. - Yohanes 5:29
Dan lagi, jika kejadian buruk itu menimpamu, kamu akan menuntut orang itu dihukum seberat-beratnya bukan?
Tidak. Setimpal saja.
Kamu yakin?
Tidak juga sih. Kalau bisa berkali-kali lipat.
Allah menghukum orang jahat di neraka adalah sesuai dengan kejahatan yang ia lakukan. Tidak lebih, tidak kurang. Allah adalah Allah yang adil. Allah yang seperti ini kamu sebut jahat. Bagaimana dengan kamu?
Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman. - Roma 2:6-8
Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin, untuk memberi balasan kepada setiap orang setimpal dengan tingkah langkahnya, setimpal dengan hasil perbuatannya. - Yeremia 17:10
Iya sih ya. Aku lebih jahat. Hehehe.
Dan lagi, pahala yang Allah berikan bagi orang benar adalah jauh lebih besar daripada hukuman bagi orang yang jahat.
Maksudmu?
Katakanlah kita bisa mengukurnya. Kalau orang benar berbuat kebenaran sebesar 10B, maka Allah mungkin memberikan pahala senilai 100B. Tetapi kalau orang jahat melakukan kejahatan sebesar 10J, maka hukuman yang diterimanya adalah setara dengan 10J.
Orang-orang yang membenci Aku, Kuhukum sampai kepada keturunan yang ketiga dan keempat. Tetapi Aku menunjukkan kasih-Ku kepada beribu-ribu keturunan orang-orang yang mencintai Aku dan taat kepada perintah-Ku. - Keluaran 20:5-6 BIS
Jadi Allah tidak jahat. Tetapi sebentar. Neraka kan sifatnya kekal. Orang berbuat jahat hanya maksimal selama ia hidup, misalnya 70 tahun. Lalu, ia harus dihukum selama-lamanya. Tidak adil, dong.
Begitu ya? Hmmm. Sebenarnya jangankan bicara tentang neraka, banyak kejadian di dunia yang bersifat seperti itu, tetapi tidak menunjukkan suatu ketidak adilan.
Oh ya? Apa misalnya?
Kalau kamu tidak hati-hati menyeberang jalan, kemudian tertabrak, kamu mungkin bisa menderita cacat seumur hidup. Jadi kamu hanya melakukan kesalahan selama beberapa detik saja. Tetapi kamu harus menanggung akibatnya seumur hidup.
Hmmmm...
Dalam kejadian seperti itu, kita tidak akan menuduh siapapun tidak adil, bukan? Kita hanya menyesali karena kita telah berbuat kesalahan.
Maksudmu, begitu juga dengan orang yang jahat dan masuk neraka, maka bukan masalah adil-tidak adil, tetapi kita menyesali mengapa dalam waktu hidupnya yang singkat, ia melakukan kejahatan?
Betul sekali. Allah memberi kita kesempatan untuk hidup dan melakukan sesuatu yahg baik. Tetapi kita melakukan yang jahat. Ketika waktu itu habis dan kita dihukum di neraka selamanya, itu bukan masalah adil tidak adil, tetapi masalah kesempatan yang disia-siakan.
Begitu ya.
Pengorbanan Kristus juga memiliki efek yang sama. Kristus berkorban satu kali saja dalam sejarah manusia, dan setiap kita yang percaya hanya satu kali saja dalam hidup kita menerima hal itu, kemudian dosa kita diampuni dan kita boleh hidup selama-lamanya.
Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus. - Ibrani 10:10
Dan lagi, Firman Tuhan mengajak orang percaya untuk mengampuni orang yang bersalah kepada mereka. Ini bukan hanya soal mengampuni kesalahannya terhadap mereka, tetapi juga mendoakan dan berharap bahwa orang jahat itupun suatu hari akan bertobat dan menerima Kristus, supaya ia tidak harus menerima hukuman kekal. Kalau Allah jahat, mengapa Allah harus memerintahkan kita mengampuni? Kalau Allah mencipta neraka dengan suatu motivasi yang jahat, bukankah tujuannya akan terlaksana jika orang tidak usah bertobat?

Tanggapan

Siapakah?

ahahahaha..

»GOD tahu mana yang bener, mana yang bener mana yang salah. Satu lagi.. GOD gak pernah ceroboh dalam ngambil suatu keputusan. »kita semua sbenernya patut masuk ke yg namanya -neraka- n'tu coZ walaupun kita tdk melakukan doZa sekalipun, tapi gara2 dosa nenek moyang kita(Adam 'n Hawa) kita cemua kena getahnya.. »bnr gak pak ARi?? wkwkwkwkwk..

first comment neeh.. _

Ari

Gara-gara Adam dan Hawa kita semua kena getahnya. Dalam arti, kita membawa benih dosa sehingga kecenderungan kita adalah berbuat dosa, bukan berbuat baik. Jadi kita tidak mungkin tidak melakukan dosa. Tetapi fakta ini jangan dibalik menjadi: Kalau Adam dan Hawa tidak berbuat dosa, maka kita tidak berdosa juga.

maap

saya tidak setuju bila manusia pasti berdosa karena adam, judtru karena adamlah manusia bisa mendapat surga dan neraka ..... karena itu adalah ganjaran bagi yang mempercayainya tapi tidak menjalankan perintahnya... ingat karena ..... Seperti ada tertulis: Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup, tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan ..... dan tuhan memilih manusia untuk diselamatkan sepertihalnya adam yang dipilih untuk mengusahakan taman eden, dan manusia pasti berdosa karena manusia hidup yang memiliki kedagingan

ELIANA

Bagaimana dengan orang yang melakukan kejahatan karena 'terpaksa'? Misal orang yang mencuri karena lapar. Kemudian orang itu mati dan masuk neraka. Mengenai kesalahan dalam waktu singkat yang harus dibayar selama-lamanya: Bagaimana dengan pandangan orang yang baik akan hidup lagi sebagai manusia. Yang jahat akan hidup sebagai hewan. Bukankah itu tampak lebih adil?

Ari

Saya yakin jika orang itu benar-benar ada, ia pasti bukan hanya mencuri saja. Kemungkinan besar ia pernah berbohong, berbicara sembarangan, berpikiran kotor, memaki orang, menyakiti hati orang, sombong, dan sebagainya. Jadi ketika orang itu masuk neraka, kita tidak bisa mengatakan hanya karena mencuri sekali di saat terpaksa.

Tetapi tetap, mengetahui bahwa seluruh kesalahan kita dalam hidup ini harus dibayar secara kekal adalah sangat membuat kita merasa sangat tidak nyaman. Jawaban saya adalah:

  • Kekekalan bukan hanya sekedar berarti selama-lamanya. Kekekalan adalah suatu kondisi waktu yang lain dari yang kita pernah kenal. Ungkapan selama-lamanya hanyalah cara pengungkapan tidak sempurna atas kekekalan. Kita sering membayangkan kekekalan sebagai perpanjangan waktu hidup kita di dunia. Kita membayangkan di sana kita hidup dan dalam kondisi, cara berpikir, cara bertindak, cara merasa yang sama dengan diri kita saat ini, tetapi hanya waktunya saja tidak pernah berakhir. Jadi ketika seorang berdosa dan ia dihukum di neraka, kita tidak bisa membayangkan dirinya seperti kita sekarang yang sedang menunggu penderitaan berakhir. Kita tidak tahu kekekalan seperti apa.
  • Manusia dihukum di neraka bukan hanya karena melakukan kejahatan saja, tetapi ada masalah yang lebih serius, yaitu perjanjian (kovenan) dengan Allah yang sudah rusak. Orang dalam perjanjian lama lebih memahami hal ini daripada kita sekarang, karena mereka dekat dengan kebudayaan yang mementingkan perjanjian: Setiap dua orang berjanji satu sama lain, mereka mengikat dengan darah, dan jika salah satu melanggar, ia harus mati.
  • Kadang-kadang ada hal dalam hidup kita yang harus dibayar seumur hidup: Jatuh pada waktu usia 4 tahun, mengakibatkan 50 tahun hidup di atas kursi roda. Menolak lamaran seorang pria pada usia 25 tahun dan 50 tahun berikutnya dijalani tanpa ada kesempatan menikah. Kebut-kebutan selama 10 detik, tergelincir selama 2 detik, akibatnya 40 tahun harus hidup sebagai orang idiot. Meninggalkan anak balita sendirian 1 menit di pinggir jalan, akibatnya selama 50 tahun tidak pernah bertemu lagi dengannya. Banyak keputusan kita yang hanya dalam hitungan detik mengakibatkan perubahan puluhan tahun dalam hidup kita. Dalam hal ini yang salah bukan mekanisme sebab-akibat, melainkan adalah keputusan kita yang didasari kebodohan, keteledoran, dan ketidaktahuan kita.

Pandangan reinkarnasi mungkin tampak adil. Tetapi saya tidak berani mengatakan bahwa itu lebih adil daripada surga-neraka. Mengapa? Karena jika kita mengakui bahwa manusia adalah gambar dan rupa Allah (dan karena dalam kepercayaan Kristen identitas itu penting), maka melahirkan kembali manusia sebagai binatang adalah tidak adil (bukan seperti kasus Nebukadnezar - itu hanya menjadi seperti binatang). Tetapi dalam konteks pemikiran seperti misalnya Budisme, reinkarnasi manusia-binatang tentunya akan adil untuk membalaskan perbuatan orang, karena tidak ada masalah pembedaan manusia-binatang dan identitas diri.

Lagipula, menurut saya, kenyataannya adalah memang dalam hidup yang singkat ini kita membuat keputusan yang akan mempengaruhi nasib kita dalam kekekalan. Jadi kita terima saja suka atau tidak suka.

Syalom, sy br sj lht artikel di atas, sngt menarik. Mnrt sy, keberadaan neraka & dosa asal sbnrnya adalah bukti keadilan Tuhan, maka Kekristenan jg mengakui adanya hukum tabur-tuai.

Sbnrnya, sy tdk suka dgn kata dosa asal krn mmng tdk ada ayatnya. Sy lbh suka menyebutnya sbg kutuk dosa krn dosa tidak dpt diwariskan, yg berbuat pasti menanggungnya, tetapi kutuk atau berkat dpt diwariskan.

“Neraka tidak dipersiapkan untuk manusia. Tuhan tidak pernah menginginkan orang masuk neraka. Neraka dipersiapkan bagi Iblis dan anak buahnya, tetapi manusia memberontak melawan Elohim dan mengikut Iblis.” -- Billy Graham.

Comment by: Budiman Lee (www.kristenemasmurni.com)

sekadar membagi sesuatu yang saya ketahui sekalian bertanya , waktu itu saya pernah mendengar khotbah salah satu pendeta , beliau mengatakan bahwa segala yang kita perbuat , baik atau salahnya , ditentukan oleh Tuhan . Saya agak sedikit bingung dengan pernyataan itu , tetapi saya berpikir juga tentang white lie , berbohong demi kebaikan . Ada yang bilang bohong dengan alasan apapun tetaplah bohong dan itu dosa , kan membingungkan juga tuh . mungkin karena itu sang pendeta berkata bahwa segala yang kita perbuat , benar atau salahnya , Tuhanlah yang menentukan . Nah , kalau seperti itu bukankah kita jadi bingung kalau kita terjepit di suatu kondisi yang serba salah ?? Lalu kalau Tuhan yang menentukan , bagaimana kita bisa mengambil tindakan agar bisa masuk surga ??

Ari

Benar atau salahnya perbuatan kita ditentukan oleh Tuhan, dalam arti Tuhan memiliki standar mengenai apa yang benar, dan kalau kita tidak cocok dengan standar kebenaran itu, berarti kita salah. Kalau Tuhan mengatakan, jangan bersaksi dusta, lalu kita berdusta, maka kita bersalah di hadapan Tuhan. Jadi, maksud dari Tuhan menentukan benar salah adalah Tuhan memiliki kriteria tertentu mengenai benar salah, dan kita harus mencari tahu dan menjalankan kriteria tersebut.

Tetapi Tuhan bukanlah Tuhan yang tidak memiliki toleransi. Di samping tuntutanNya akan kesempurnaan, Ia juga panjang sabar dan penuh belas kasihan. Maka ketika manusia diperhadapkan pada pilihan yang sulit, dan ia membuat pilihan yang salah, maka Tuhan juga memiliki hati yang berbelas kasihan terhadap orang itu.

Sebagai contoh kasus, misalkan Bomi harus menyembunyikan seorang yang sedang dikejar-kejar penjahat. Ketika para penjahat itu bertanya pada Bomi apakah ia melihat orang yang mereka cari, ia menjawab tidak. Berarti Bomi berbohong. Tetapi kita bisa mengerti bahwa Bomi berbohong karena ia diperhadapkan pada situasi yang sulit. Kalau ia jujur, nyawa orang itu terancam. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Dalam hal ini, Bomi telah melakukan sesuatu yang salah, tetapi dengan motivasi untuk menghindari kesalahan yang lebih besar. Saya yakin, Tuhan mengerti kesulitannya, dan akan senang dengan perbuatan baiknya melindungi orang tersebut, walaupun ia sebenarnya juga bersalah dengan mengatakan kebohongan. Kisah semacam ini pernah tercatat dalam Alkitab mengenai seorang wanita bernama Rahab.

Jadi, Tuhan senang dengan kebaikannya, tetapi itu tidak berarti kebohongannya jadi benar. Ini harus selalu kita perhatikan. Perbuatan baik seseorang tidak akan meniadakan kesalahan yang ia lakukan. Tetapi juga kesalahan yang ia lakukan tidak perlu kita besar-besarkan sehingga kebaikannya jadi tidak terlihat.

Allah adalah Allah yang adil, sehingga Ia akan menghakimi kita sesuai perbuatan kita. Yang baik akan diperhitungkan baik, yang jahat akan diperhitungkan jahat. Yang benar akan diperhitungkan benar, yang salah akan diperhitungkan salah. Karena dalam hidup kita hampir seluruhnya diisi dengan perbuatan yang salah, maka tidak mungkin bisa masuk Surga berdasarkan perbuatan kita. Maka, masuk surga atau tidak, sekarang haruslah berdasarkan sesuatu yang di luar perbuatan kita, yaitu lewat pengorbanan Tuhan Yesus Kristus di kayu salib.

oh begitu yah pak . kalau begitu pembicara yang mengatakan apapun motivasi kita , kalau bohong ya tetap bohong dan dosa , salah dong ya pak ?? kan Allah itu adil dan penuh pertimbangan .

terimakasih ya pak atas jawabannya :)

Ari

Terima kasih juga.

Kalau pembicara itu mengatakan bohong apa pun tetap dosa, pembicara itu berkata benar. Bohong dengan motivasi sebaik apa pun, bohong tetap salah. Yang saya maksud adalah, ketika misalnya Bomi membohongi penjahat untuk menyelamatkan korban, maka ia sebenarnya melakukan dua perbuatan:

Perbuatan Benar/salah
Membohongi penjahat Salah
Melindungi korban Benar

Dalam dunia yang sudah rusak karena dosa ini, kita sering tidak mampu memutuskan sesuatu hal yang benar saja. Keputusan kita untuk melakukan yang benar, seringkali diiringi dengan perbuatan salah kita. Tetapi tetap yang salah itu salah, yang benar itu benar. Kita hanya bisa berharap Tuhan akan mengampuni bagian yang salah itu, dan berharap juga Tuhan akan memberi penghargaan pada kebaikan kita.

Semoga jawaban saya membantu. Tapi kalau ada pertanyaan lagi, jangan sungkan untuk bertanya.

dede

Konsep neraka pada awalnya bukan untuk Adam dan keturunannya. Menurut kitab, neraka diciptakan untuk mengurung Iblis dan pengikut2nya para malaikat yg membelot. Manusia terhitung masuk neraka ketika Allah menangguhkan penghukuman Iblis sampai akhir dunia sambil Iblis menggoda manusia untuk ikut menentang Allah. Menariknya, sepertinya Allah sedang menguji kepintaran Iblis hingga masa yg ditentukan habis. Sayangnya, manusialah yg menjadi korban dalam penderitaan yg kekal sebab/akibat ego-illahi.

Coba anda sedikit bayangkan keadaan neraka yg isinya dipercaya hanya para malaikat pembelot dan manusia pendosa. Manakah yg benar2 sangat teramat menderita dalam keabadian?.. Apakah para pembelot serta mahluk2 rekrutan Iblis disiksa/dibakar/ditusuk2/dicabik2?.. TIDAK.. Mereka hanya dikurung bersama manusia.. Disiksa/dibakar/ditusuk2/dicabik2 HANYA MANUSIA yg disatukan kembali dagingnya ber-ulang2 dalam keabadian. Lalu siapa mereka yg seperti senangnya menyiksa?.. Suruhan para pembelot surga?.. ANDA PIKIR SENDIRI, yg jelas saya tidak percaya manusia yg menyiksa manusia jika konsep neraka itu benar ada.

Menurut kitab, manusia adalah serupa dan segambar dengan Allah dan dinyatakan bahwa manusia/kita ADALAH ANAK2-NYA. Namun saya tidak habis membayangkan ayah seperti apa sampai tega membiarkan/membuang anak2nya lalu duduk diatas kursi nyaman-nya sementara sadar bahwa anak2nya sedang disiksa dalam keabadian tanpa pengampunan. Anda sekalian disini yg bijak jgn egois memikirkan hal tsb.

Anda sekalian tentunya ingat cerita ketika Allah menenggelamkan seluruh permukaan bumi karena Dia telah menyesal menciptakan manusia. NUH dan anggota keluarganya memang diselamatkan, tapi bukan itu yg menjadi point. Pointnya adalah Allah sendiri sempat merasa MENYESAL.. Siapa disini yg sok pembela kebenaran berani mengatakan penyesalan itu tidak datang dari KESALAHAN?.. Apakah kesalahan Allah atau Manusia, penyesalan Allah atau Manusia?.. Pandangan saya adalah harus keduanya.. Namun sepertinya NUH adalah pembenaran penyesalan Allah, dan Yesus adalah pembenaran dosa manusia.. Menariknya, figur Roh-Illahi yg adalah satu ternyata cukup berbeda dalam perjanjian lama dan baru (pembunuh massal dan penyelamat massal).

Kembali soal neraka, tentunya para penyiksa makin bersemangat/senang menyiksa tanpa ampun karena yg mengurung mereka serupa/segambar dgn yg disiksa, dan sang Artist/Arsitek telah cukup puas dengan para pemujanya AT HIS ROCKING CHAIR.

Beri tanggapan