Kalau dalam ad hominem argumen didasarkan pada perasaan kita terhadap seseorang, maka pada ad verecundiam kita berargumen berdasarkan otoritas seseorang atau sesuatu hal.

Bentuk penalarannya
x menyebutkan P
x adalah sesuatu/seseorang yang memiliki otoritas dalam bidang itu.
P benar

Contoh:

“Menurut para ahli, air heksagonal baik untuk kesehatan. Berarti pasti baik.”

Ingatlah bahwa fallacy tidak mutlak harus dihindari. Karena kita tidak tahu segala sesuatu, kita harus dengan rendah hati percaya pada otoritas orang lain, dengan tetap menyadari bahwa ia mungkin salah. Karena kalau kamu tidak percaya pada dokter gigi, mungkin gigimu akan ompong sebelum usia 40 tahun. Tetapi sebaliknya, kepercayaan bahwa dokter gigi tidak mungkin salah, dapat mencelakakan kamu suatu hari nanti. Jadi, tetaplah percaya dengan otoritas sesuatu sambil tetap menyadari bahwa kemungkinan salah tetap ada.